Waktu Yang Hambar: Sebuah Introspeksi Setahunan

(Postingan ini 70% curcol. Selamatkan diri kalian sebelum kalian terlambat)

Waktu itu kayak lidah yang habis nelen air mendidih. Hambar.

Ya, waktu yang hambar. Gak terasa apa-apa.

Tapi kadang, ada saat dimana lidah jadi peka karena gak ada air panas.

Air panas itu menurut saya perasaan bahagia, perasaan senang dan perasaan nyaman. Waktu jadi terasa seperti cepat sekali dan rasanya kayak dicubit waria. Benar, gak terasa apa-apa. Paling geli dikit.

Sementara ketika kita bisa merasakan waktu, tandanya kita sedang sembuh dari rasa hambar akibat air panas. Kita jadi peka terhadap rasa sakit, rasa berdebar dan rasa penasaran. Rasanya ketika kita merasakan tiga hal itu, kayak dicubit Ade Rai. Kulitnya sakit, tulangnya ikut kecabut.

Peka terhadap waktu gak selamanya jelek. Contohnya aja ketika kita sedang berdebar dan penasaran. Seperti pas kita menunggu kencan, menunggu hasil UN, menunggu hari ulang tahun…

Ketika kita sudah mengalaminya, kita baru kesirem air panas. Waktu yang udah kita tunggu-tunggu itu lewat gitu aja karena kita isi secara full tanpa henti. Meski sebentar, banyak yang bisa belajar bersyukur dengan puas. Ada juga yang saking bahagianya, minta kejadian itu diulang kembali. Yah, meskipunn minta diulang dan nyaman disitu-situ aja bisa menghambat kebahagiaan yang lebih besar juga…

Waktu yang hambar, ya?

6 hari lagi blog saya ulang tahun. Waktu itu saya buat sore-sore tanggal 17 Agustus. Waktu itu saya kesiangan (unsur kesengajaan bangun kesiangan: 99,9%. Makanya pas bangun saya cuma bilang: “Oh, jam 7…” lalu ngulet lagi dan tidur lagi sampai siang) dan gak ikut upacara di sekolah.

Banyak yang udah saya tulis di blog. Hal-hal remeh ketika saya kangen temen-temen kelas 7, hal remeh ketika saya mencari pelengkap koleksi novel, hal remeh tentang idola saya, hal remeh tentang personel One Direction tutup twitter dan dibilang cupu, hal remeh tentang cowok yang saya sukai…

Saya berevolusi.

Saya tahu kalau abis tanda baca harus dispasi kayak begini: “nah, iya kan?” Dan gak asal tabrak lari kayak: “yaudah,gitu aja kan?Oke fine!”

Saya jadi tahu kalau sosial media itu luas. Meski banyak orang yang memilih terbuka di internet, tapi sepertinya keterbukaan saya juga bukan sesuatu yang baik bagi saya.

Saya sadar kalau pembaca gak semua seumuran saya. Saya mengganti ‘gue’ ke ‘saya’ selama menulis blog (terutama pas tahu pengguna wordpress hampir gak ada yang seumuran saya. Ternyata banyakan pengguna blogspot yang seumuran sama saya).

Saya sadar kalau internet begitu terbuka dan luas. Bahkan tulisan kita bisa dibaca idola kita sekalipun J

Saya sadar kalau internet bisa digunakan untuk apa saja, bahkan untuk membuat nama kita terkenal sekali jentikan jari. Namun saya tidak memilih menggunakan peluang itu.

Saya sadar bahwa tidak semua orang menyukai kejujuran karena mereka menggengam kuat-kuat apa yang mereka yakini.

Saya sadar bahwa peluang bertemu orang yang kontra dengan saya begitu besar sekali.

Saya sadar kalau ketika kita menjadi ‘fenomena’ dan tidak mempertahankannya, kita akan kembali jatuh. Makin tinggi, makin kencang angin.

Daaaaaan… saya sadar bahwa orang yang selalu dielu-elukan dan melayang di udara, mudah jatuh ketika dikritik oleh satu orang yang sangat cerdas. Bahkan dia pernah berniat berhenti jadi penulis hanya karena dikritik sahabatnya ketika meminta sahabatnya membaca print-out naskahnya.

Selama saya introspeksi, selama saya berevolusi, saya tidak pernah merasakan perbedaan. Sama seperti ketika kita melihat foto waktu berumur 5 tahun dan kemudian melihat foto kita ketika berumur 14 tahun. Kita tidak merasa muka kita bertambah besar, jari kita mulai memanjang, wajah kita menjadi berbeda… tapi ketika kita melihat foto itu, kita tahu ada yang berbeda.

Saya malu banget pas nge-download twitter archive saya. Semua tweet saya dengan format Excel itu bikin hati saya tertohok banget. Semua masa lalu saya terkuak—kenapa orang gak suka sama saya, kenapa yang mau temenan sama saya cuma Natalia, kenapa orang sering menatap saya dengan tatapan aneh dan risih.

(Padahal waktu itu yang saya sebut-sebutin nama-namanya itu juga gak suka-suka amat ama saya -_-)

Kenapa saya harus tulis begini? Kenapa gak saya ngomongin baik-baik atau saya pendem aja?

1. Temen-temen benci saya karena saya norak.

Cari lagi…

(Padahal Indonesia juga sering menang di kandang doang)

2. Saya terlalu blak-blakan dan gak mikir kalau ngomong. Lagian setelah belajar sejarah lebih dalam, saya tahu kenapa Timor Leste keluar dari Indonesia dan ikutin langkahnya Portugis. Saya paham perasaan mereka.

(Kalau yang ini akibatnya kalau ada anak SMP salah pergaulan dengan anak-anak bermulut kotor)

3. Seharusnya saya menghargai pendapat dan hobi orang. Kalau saya ga suka, saya ‘serang’ kelompok/perseorangannya, bukan fansnya. Mereka punya alasan mengapa mereka menyukai itu.

Nginget nomor 3, pikiran saya melayang ke beberapa tahun lalu, ketika saya sering join di Anti Cherrybelle.

Sampai saat ini saya udah gak peduli lagi keadaan girlband satu itu. Nyanyiin lagunya enjoy-enjoy aja, sekalian ngehibur temen-temen saya dengan persona ‘alay’ yang saya asah dikit-dikit.

Karena bagi saya, orang-orang bergaya ala eksterminator yang mencari-cari kesalahan orang itu lama-lama mulai lunatik. Beberapa menjadi lunatik hanya karena Cherrybelle sok polos soal ‘tiru-meniru’ mereka dengan SNSD. Mau aja mereka kepancing trik management-nya Cherrybelle J udah tahu Cherrybelle sok gak kenal dan sok ga tau di infotaiment biar Sone tambah panas dan mereka makin terkenal… oh belum tahu? Sekarang udah tahu? Hmm… abis ini masih mau buang karbonhidrat dan energi untuk membasmi sesuatu yang terlanjur meradang tanpa mencoba memperbaiki terlebih dahulu selagi masih bisa?

Setelah melihat semua itu, akhirnya saya paham arti “Rachel berubah” yang mama saya bilang.

Sekarang karena saya terlalu malu sama twitter saya sendiri, akhirnya saya mutusin pada diri saya sendiri untuk nutup/deact @Chelullaby (dulu @Chellemmanuella) dan pindah ke @Cherudesu (penggalan dari “watashi wa Cheru desu!”. Artinya “nama saya Chel”. Dan di Jepang gak ada L, lalu ada beberapa kata ditambahi huruf U di belakangnya).

Soalnya… gimana ya. Ketika saya jadi entah apapun ketika dewasa nanti, saya akan jadi panutan. Entah saya jadi guru, jadi senior di kampus (meski kalau senior bisa seenak-enaknya, saya gak mau jadi senior begituan), atau jadi orang tua… gak etis kayaknya kalau mereka lihat saya yang dulu. Oke fine mereka akan bilang “maklumlah dulu kan anak SMP jadi alay-alay gimana gitu”, dan diatas saya juga bilang kenapa saya gak mau hapus entry blog lama saya. Tapi, hey, sebuah tweet kontroversional dari para artis aja lama-lama dihapus kalau ada yang keberatan kan? Dan juga, apa iya semua orang bisa belajar dari masa lalu saya? Kalau itu malah berimbas ke orang-orang yang masih SMP dan malah mencontoh diri saya yang dulu kan?

Gak mau saya begitu.

Saya tidak pernah merasakan bahwa saya (kata orang) makin dewasa dalam sisi tulisan. Saya tidak sadar saya semakin banyak terpengaruh tulisan-tulisan dari penulis lain (dari semulanya sedikit sekali karena lebih banyak pengaruh komik) yang semakin lama membuat saya bisa memilih mau jadi orang lain atau jadi diri sendiri. Saya baru sadar setelah baca naskah novel pertama saya yang begitu berantakan kemudian membaca satu naskah novel saya yang sudah selesai dan di print-out.

Posting serius beginian enaknya pas tahun baruan yak? Hehe, salah gaul dah ._.v

Awalnya saya menulis serabutan karena “ah, gak banyak yang baca. Saya kan emang nulis blog karena biar orang punya akses mudah baca cerita saya, bukan berarti buat dipamerin juga!”. Tapi sudah hampir 5 orang mem-follow saya di twitter dan bilang tulisan saya bagus (kejadiannya sebelum ada tulisan tentang Malam Minggu Miko itu).

Lama-lama, karena tag yang saya pakai makin variatif dan sengaja saya pakai yang ‘menggebrak’ list keyword google dan twitter… yang baca makin luas. Saya juga sering blogwalking dan menemukan orang yang lebih variatif. Ibu rumah tangga yang gaul, pelajar yang merantau ke negeri orang, anak SMP biasa yang entah kenapa pengunjungnya banyak banget (bukan saya, orang lain maksudnya), orang-orang dengan opini mengenaskan yang menohok (gak setengah nyindir kayak saya) langsung, orang-orang dengan umur yang sama dengan saya dengan tulisan lebih kekanakkan dan lebih dewasa…

Lalu saya jadi makin sadar selama 1 tahun ini. Apa istimewanya blog saya?

Orang bilang tulisan saya bagus, semua juga bagus. Orang bilang saya keren, cowok yang nongkrong di Kaskus juga keren-keren (termasuk gebetan saya *HestekEaaa*). Orang bilang saya itu tulisannya gak kayak umurnya, lha, ketika saya blogwalking, banyak yang lebih keren (yang sejak kecil udah baca-baca bukunya Ernest Hemmingway. Saya aja cuma tahu Ernest Hemmingway sedikit-sedikit dan dari IMB pas Tante Vina bawain karya Ernest yang superpendek tapi menang lomba itu).

Lalu saya keren dimananya?

Apa saya harus ngikutin orang lain biar keren? Orang kesini saya ikutin, saya banting setir jadi orang lain, baru saya keren?

Tapi saya selalu ingat dan gak pernah lupa sama perkataannya idola saya, Bang Raditya Dika (kenapa saya bawa-bawa dia terus ya? Maklum, saya gak gaul dan gak banyak tahu orang hebat kayak blogger gaul lain yang sering ngutip-ngutip quotes Haruki Murakami atau William Shakespears di blognya). Dia bilang bahwa

Persona is what makes you unique. Remember, you don’t need to be better, you just need to be different

Kurang lebihnya saya minta maaf sama yang bersangkutan (layangan, bola plastik, sandal jepit bekas nyambit kucing sama maling jambu…).

Selama setahun, saya nyoba jadi beda.

Saya nyoba jadi beda, nyoba jadi diri sendiri.

Sama seperti stand-up comedy (selama setahun saya menggeluti seni komedi itu, saya masih gak tahu nulisnya ‘stand up comedy’ atau ‘stand-up comedy’. Kata orang sih dua-duanya bener), kita harus punya persona.

…Kenapa? Karena unik itu membedakan kita dengan orang di sekeliling kita. Karena unik itu meninggalkan kesan yang lebih mendalam. Karena unik itu bisa membuat anda, bukan pesaing anda, lebih diingat. Dalam beberapa aspek, ini akan menjadi sesuatu yang menguntungkan.

-Ernest Prakasa (stand-up comedian/comic)

Punya sesuatu yang bikin kita kelihatan beda dari orang lain.

Yang bikin stand-up comedy beda sama joke telling, yang bikin Indonesia beda sama Malaysia, yang bikin Super Junior beda sama Coboy Junior, yang bikin Teletubbies nampak beda dari Power Ranger (susah bedainnya. Abis sama-sama keroyokan dan warna-warni -_-)…

Menjadi unik dan beda ada dua cara. Mengubah diri jadi 100% beda, dan menambah wawasan diri dan karakter dengan mengeksplorasi diri dengan ilmu baru. Semuanya sama-sama butuh contoh, butuh panutan.

Dan saya gak sadar, selama saya hidup, saya udah banyak dapat contoh. Buruk, jelek? Dua-duanya. Bahkan dari banyak public figure yang karyanya sering saya ‘wah keren’-‘wah keren’-in aja saya udah dapet contoh jelek. Pergaulan, sisi gelap hidup mereka, kebimbangan mereka ketika memilih karir…

Tapi justru ketika mereka bangkit, mereka menjadi inspirasi buat orang lain. Orang yang masa lalunya sama kayak public figure-public figure itu jadi semangat untuk bangkit dan berlari. Saya sekarang juga belajar kalau saya gak perlu malu sama masa lalu saya yang alay dengan ngapus post lama dari blog ini. Karena kata mama saya “orang lihat masa depan kamu, bukan masa lalu kamu”. Nah, saya tambahin. “Orang iri, akan mengorek masa lalu kamu dan membuat kamu roboh dengan mengingatnya lagi.”

Jadi selama satu tahun, saya belajar evolusi.

Dari saya yang nyaman dalam zona nyaman yang membunuh pelan-pelan selama 8 tahun (watak saya mulai jelek selama SD sampai SMP kelas 8. Sekarang aja masih lumayan banyak jeleknya), dan saya belajar berubah hanya dalam 1 tahun.

Saya gak berubah dari monyet jadi manusia, saya gak berubah dari polos dan unyu jadi tambah besar dan destruktif seperti evolusi Digimon, saya gak berubah dari ditendang jadi disayang (?). Tapi seengaknya saya belajar kalau memang kita bergerak selama kita hidup.

Kaliau kalian? Apa yang kalian pelajari selama setahun penuh?

P.S: Apa ya, yang bisa saya pelajari lebih lagi setahun kemudian? J can’t wait for me to know…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s