Sesuatu Tentang Anak Muda… Yang Terlalu Cepat Dewasa

Beberapa hari yang lalu, saya belajar biologi. Belajar tentang alat reproduksi (yang sebenarnya sudah waktu kelas 6 SD). Belajar tentang organ-organ bernama rumit itu dan fungsinya.

“Setiap organ yang Tuhan ciptakan pasti ada gunanya, sekecil apapun itu….” kata guru biologi saya.

Guru saya juga mengenalkan kami pada benda-benda yang ‘ehem-ehem’. Semacam *maaf* sex toy, kondom, kontrasepsi dan lainnya.

Menurut saya itu penting. Penting untuk kami semua ketahui. Semua harus tahu kegunaan benda-benda itu, sisi positif-negatif dari benda-benda ‘bukan sembarang benda’ itu, sebelum kami menggunakannya dengan sembarangan.

Ketakutan saya cuma satu. Takutnya yang tidak tahu jadi tahu, dan mencari tahu lewat caranya, lalu bertanya pada orang yang salah (yaitu saya dan temen-temen yang tertawa terbahak-bahak setelah guru saya mengeluarkan benda-benda itu dari tas miliknya).

Kemudian, setelah mengetahui lebih banyak soal alat reproduksi, pikiran saya melayang-layang kepada suatu hal.

Sesuatu tentang anak muda.

Saya ingat tentang teman-teman saya yang sudah berpacaran, saya ingat bagaimana teman saya berboncengan dengan motor dan… saya ingat persentase jumlah anak SMP yang sudah hamil di luar nikah.

Kerertarikan antar lawan jenis yang benar-benar bisa sampai ‘wah!’ itu sudah muncul dari kelas 6 SD. Itu yang pubernya cepat (lha berarti saya kecepetan puber ya kalau suka sama cowok sejak TK?). Yang lama atau yang cuek soal cowok/cewek, mungkin munculnya SMP atau SMA.

Dan kita semua tahu, kalau anak muda itu tidak berpikir panjang ketika menginginkan sesuautu. Anak muda memiliki keinginan kuat dan kadang ngotot. Menutup telinga akan hal positif atau masukan dari orang yang lebih tua. Lebih tua aja gak didengerin, apalagi yang lebih muda. Orang tua sendiri gak didenger, apalagi guru yang gak ada hubungan darah (padahal guru itu orang tua di sekolah. Tapi mereka gak peduli sama hal itu).

Setelah suka sama lawan jenis (yang kadang beda kepercayaan dan bertabiat buruk), maksa jadian belakang jalan (baca ‘belakang jalan’ dalam bahasa Inggris), dan akhirnya… telat 3 bulan.

Yang kami tahu, kata orang itu enak. Kata teman-teman yang udah, itu enak. Nyaman, dan lain sebagainya.

Tapi mereka gak mikir jauh ke depan.

Yang teman-teman seumuran saya tahu, mereka cinta mati sama orang itu, mereka mau menyerahkan milik mereka yang berharga untuk orang itu, karena mereka yakin kalau itu cinta mereka.

Itu pemikiran cewek.

Cowok? Hidup dengan logika.

Menurut saya pribadi, cowok itu gak bajingan. Cowok memang lahir untuk menyakiti cewek… maaf, bukan cowoknya, tapi logikanya. Semua orang tahu, musuh utama perasaan adalah logika.

Perempuan memakai perasaannya kalau cowok yang selama ini membuat dia nyaman dan membantu dia lari dari segala masalah yang seharusnya mereka hadapi untuk pelajaran hidupnya kedepan itu adalah cinta pertama dan terakhirnya. Bahkan Sherina Munaf yang nyanyi lagu dengan lirik itu juga pasti pernah putus dan jadian sama orang lain lagi.

Karena semua orang tahu kalau hidup adalah pencarian. Berhenti mencari, tandanya gagal. Cepat puas, pada akhirnya kecewa sendiri ketika kita membutuhkan lebih dari yang kita punya saat ini.

Cowok, dia pasti mikir. Ketika cewek ini sudah tidak seperti yang dia mau, seperti yang dia harapkan dan seperti yang dia BUTUH… dia akan mencari. Itulah logika. Dan cowok hidup dalam asas “mencari keuntungan setinggi-tingginya, mendapat kerugian sekecil-kecilnya”. Semua orang juga begitu, perempuan juga gitu. Tapi… perempuan… pake… pera… saan!

Itulah mengapa kita banyak mendengar tentang aborsi.

Ketika seorang wanita tidak lagi memiliki sesuatu yang pria itu inginkan, dan pria itu tidak mau rugi dan jadi drama queen dengan mengikuti ‘cinta… sayang… miss you… bla… bla… hoeeek’. Sementara wanita yang sudah memendam semua keluhannya tentang kekurangan cowok itu dan belajar mencintainya bahkan sampai kehilangan sesuatu yang berharga… cuma bisa meratap dan menangisi kekurangannya.

Menurut saya, pengertian aborsi adalah “kejadian dimana perempuan membunuh jiwa yang dia anggap buah cinta dengan seseorang yang dia anggap pelabuhan terakhirnya”. Simpel. Karena itu adalah kenyataan. Meski pahit, tapi itulah kenyataannya.

Setelah itu perempuan-perempuan muda seumuran saya harus bangkit dari keterpurukan dan mencari yang baru. Tapi… semua tidak akan sama lagi setelah ada sesuatu yang hilang.

Namanya ‘keperawanan’.

Sedih saya mendengarnya.

Mereka seumuran saya. Mereka sekarang berbeda dengan saya setelah kejadian mengerikan itu. Saya masih disini, menulis di blog dan main game facebook sepuasnya… dan mereka harus mengurus seorang anak atau bahkan mengurung diri di kamar meratapi kegagalannya sebagai ibu setelah menggugurkan seorang anak bayi. Bagaimanapun, mereka ibu.

Meski, tidak semua pelaku aborsi menyesal. Mereka merasa lega karena ‘masalah’ telah pergi, tapi mereka tidak tahu bahwa mereka dikejar oleh masa lalu selamanya. Sejauh apapun mereka berlari, sekuat apapun mereka berbaur dengan anak-anak semacam saya (yang masih begitu bebas)… tapi Tuhan dan dirinya sendiri tahu ada yang salah akan dirinya.

Saya sedih. Benar-benar sedih. Dimana saya masih keluyuran di Matraman dan 21 pada hari Sabtu, dimana saya bebas pergi ke warnet kapanpun… saya melihat dengan mata kepala saya, ada seorang yang seumuran dengan saya tidak seperti saya.

Meski… sebenarnya saya pernah berpikir bahwa saya iri pada mereka, diri mereka sebelum sekarang.

Saya menyukai seorang laki-laki di sekolah saya. Jatuh cinta, jatuh, jatuh, jatuh… dan saya seperti orang mabok.

Saya tiba-tiba jadi penguntit, saya jadi melankolis, saya jadi seorang yang membingungkan.

Orang tua saya gak mengijinkan saya pacaran sebelum saya cukup umur, atau minimal bisa membuktikan kalau saya bertanggung jawab dengan diri saya sendiri. Ya itu juga kalau cowok itu juga suka sama saya, iya kan?

Kalaupun cowok itu juga suka sama saya, saya bisa saja seperti teman-teman saya. Pacaran diam-diam, protect Twitter, tiap malam bilang ‘kerja kelompok’…. Tapi kapan saya maju? Bagaimana memberi tahu pada orang tua saya kalau selama ini saya membohongi mereka? Apa? Tidak memberi tahu sama sekali? Kita semua tahu kan, kalau selama apapun mayat disembunyikan, baunya akan tercium?

Apa yang saya tahu tentang pria? Sebaik apapun cowok itu pada saya, sepolos apapun dia… semua orang tahu hampir 90% anak SMP sudah mengetahui hal-hal semacam itu, sudah menonton film porno. Dan semua orang juga tahu kalau anak muda mudah penasaran. Mereka tahu teori, mereka harus praktek.

Saya iri melihat teman saya bisa memampang nama pacarnya di bio twitter, bisa ada teman jalan-jalan, bisa bersama dengan orang yang dia suka, bisa merasakan cinta yang berbalas.

Tapi… saya mikir. Mungkin saya lebih iri pada mereka pada dua poin terakhir saja. Yang pertama, jelas gak penting. Yang kedua… saya bisa jalan dengan semua teman cowok saya as a friend, tanpa ada yang sirik-sirik gak jelas pada saya.

Mungkin dengan pikiran bocah saya ini, saya emang belum bisa pacaran.

Mungkin, alasan kenapa teman-teman saya yang nilai biologinya 100 tapi tetap melakukan ‘itu’ adalah tidak ada yang mengingatkan mereka tentang kejadian di masa depan. Biologi tidak memberi tahu ketika pembuahan telah terjadi, selaput dara robek, dan beberapa tahun kemudian seorang pria yang kita yakini jadi milik kita akan meninggalkan kita karena masa lalu kita. Mereka hanya memberi tahu setelah pembuahan terjadi, akan ada sebuah bayi yang hidup, tumbuh besar dan siklus reproduksi terulang karena tujuan reproduksi adalah melestarikan keturunan.

Nah, ini reproduksinya dengan siapa? Sudah resmi menikah atau belum? Bagaimana kalau kamu bukan orang yang dia butuhkan? Bagaimana kalau nanti dia butuh hal yang kamu tidak punya? Kamu yakin dia cinta pertama dan terakhir kamu?

Enak? Mantep? Bisa pamer ke temen-temen kalau kalian udah keren dengan melakukan itu? Saya cuma anak SMP biasa yang ngebacot? Oh iya, kalian SMA ya? Emang sih, anak SMA lebih tua dari anak SMP, dan gak merayakan hari anak lagi. Udah mau kuliah juga…

Tapi kalian lupa satu hal, kalau kalian BELUM DEWASA. Sama seperti saya, KALIAN BELUM DEWASA. Kalian cuma lebih tua, bukan DEWASA. Tua bukan berarti dewasa. Sudah lihat orang berumur puluhan yang terkena Peter Pan Syndrom? Bukan, itu bukan penyakit ketika kita seneng nyanyi tanpa buka mulut lebar dan memberi nama semua benda, anak dan peliharaan dengan nama personel Peterpan (atau Noah). Itu semacam fenomena psikologis dimana ada seseorang yang tidak ingin tua, selalu ingin jadi anak-anak dan sulit menerima kenyataan bahwa usianya itu sudah dewasa. Bukan penyakit, tentunya.

Jadi, kalian sama saja. Masih nekat, masih berpikir pendek dan masih tetap mau senang-senang saja selama hidup kalian.

Sama aja seperti saya, tapi cara kita berbeda. Kalian merasa kalau cara saya overrated dan tidak dewasa (ya kalian tahu lah, anak muda selalu mau dibilang dewasa biar terlihat hebat). Ke bioskop bertiga dengan teman cewek tidak keren lagi. Pergi ke bioskop dengan 4 cowok dan cewek sendiri itu keren.

Maaf maaf aja ya, tapi menurut saya itu gak keren sama sekali. Itu payah.

Kalian gak tahu betapa jadi orang muda itu sangat indah. Menjadi orang yang masih bisa main-main dan berlompatan kesana kemari itu enak. Menjadi orang yang pakai baju warna-warni masih dibilang wajar itu enak. Menjadi orang yang setiap hari pulang sore bawa novel sekantong penuh itu enak. Menjadi orang yang pengangguran gak diomongin sana-sini itu enak. Menjadi orang yang gak perlu tahu pengeluaran bulanan itu enak.

Kalian mempercepat waktu dewasa, memperpendek umur muda kalian… dan membuat diri kalian depresi karena pujian yang temporer. Setelah mereka memuji kalian “WAH, LO KEREN BANGET! DEWASA ABIS! PERSIS KIM KARDASHIAN!”, lalu apa? Apa yang kalian dapat? Kalian tua terlalu cepat, tapi otak kalian tetap otak anak muda, anak remaja. Sama aja kayak anak-anak di arena bermain yang katanya anak-anak disana bisa melakukan profesi orang dewasa itu.

Iya, anak-anak itu. Mereka pakai baju orang dewasa, menjalankan profesi orang dewasa, tapi tetap saja… mereka disana senang-senang. Gak akan pernah tahu rasanya orang dewasa kelelahan akan rutinitas yang sama setiap hari, meskipun itu dia lakukan dengan hati. Anak-anak itu membayar untuk sebuah rutinitas. Ketika dewasa, kita tidak dibayar bila tidak hidup dalam rutinitas.

Seharusnya disana ada wahana bunuh diri setelah depresi kena PHK. Biar lebih menjiwai lagi.

Gak bisa saya bilang “pacaran itu gak salah, karena semua orang bisa merasakan cinta”. Pacaran di masa muda itu salah. Iya, kalau kalian pacaran dengan wajar, sesuai dengan umur kalian. Kalau kalian sok dewasa dengan melakukan ‘itu’ dalam berpacaran… ya salah lah.

Baru sekarang saya ngerti maksudnya “cinta gak harus memiliki”. Karena… kita gak bisa memaksakan cinta ketika waktunya tidak tepat.

Pada akhirnya… saya hanya ingin memperingatkan kalian para perempuan yang belum ‘terlambat’. Jagalah diri kalian.

Kalau kalian yakin kalau kalian cukup dewasa, jagalah diri kalian. Kalian bisa, kalian mampu, kalian tahu sampai dimana hati kalian. Ingat cita-cita kalian di masa depan, ingat bahwa cinta bisa dicari. Cinta datang ketika kita mencari, bukan cepat puas. Kalau kalian merasa dia mulai berbeda dan mulai membawa kalian ke jalur yang tidak semestinya… nyalakanlah logika kalian sekali saja. Saya tahu mungkin kalian cinta mereka dan gak mau mereka pergi. Tapi, mungkin suatu hari nanti ada yang lebih hebat dari mereka.

Untuk para laki-laki…

Hemm, apa ya?

Mungkin, yang cuma saya bisa bilang ke kalian cuma satu.

Jangan buat diri kalian menyesal dan membuat diri kalian dikejar masa lalu yang kelam hanya karena kesenangan semata.

Mungkin meski kalian menikah ketika dewasa nanti, setelah kalian pura-pura melupakan perempuan yang kalian tinggalkan di masa lalu, dan kalian punya anak perempuan… kalian baru tahu rasanya. Rasa ketika anak kalian kehilangan masa depannya.

Apa? Cewek itu yang mau? Kalian suka sama suka? Kenapa kalian yang disalahin?

Bukannya pria diciptakan untuk jadi imam dalam keluarga? Seharusnya kalau kalian tahu itu tidak benar, kalian yang berlogika itu dan bisa memikirkan masa depan dengan logis itu memperingatkan wanita dan melindungi wanita.

Mungkin kalian bukan lelaki sejati kalau kalian tidak melakukan itu.

Udah sunat belum? Atau bahkan gak punya ‘sesuatu untuk disunat’?

Hihi.

5 thoughts on “Sesuatu Tentang Anak Muda… Yang Terlalu Cepat Dewasa

  1. Semangatmu berapi-api juga ya tapi saya salut ma kamu,dek. Prinsip kamu harus dipertahankan,semoga siapapun yang membaca postingan ini bisa jadi bahan masukan buat diri pribadi masing-masing. Kebanyakan anak muda sekarang lebih pentingin kesenangan tanpa berpikir akibat setelahnya. Mereka anggap hal ini gaul,tapi menurut saya itu bukan gaul,tapi payah seperti yang adek bilang.

  2. Kamuu hebatt, kamuu kerenn, kamuuu jjangg jjangg jjanggg !!! Makasiihhh banyakk .. Tulisann kamuu inii beneer2 sesuatuuu …
    Semangatt teruss yaa🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s