Trouble Mother Journal #2: What 14 Years Old Mother Do With 7 Years Old Boy

“Reno, makan dooongg!!”

“Gak mauuu! Reno mau spageti! Gak mau fetucini!”

“Apa bedanya, Reno sayang?”

“Spageti bentuknya tabung, fetucini ceper. Reno lebih suka bangun ruang daripada bangun datar! Karena volume bangun ruang itu…”

Zleb!

Oke, tadi cuma bayangan berlebihan gue doang ternyata. Di tangan gue masih ada sepiring fetucini dengan saus bolognaise yang masih panas dengan parutan keju yang baunya menggoda iman dan taqwa. Tangan gue menggantung di depan pintu kamar Reno. Gue gak berani ngetok pintu karena takut bayangan gue jadi nyata. Inget, Reno juga masih anak SD meski dia sepintar itu.

Cklek.

“Lho? Kasan?” Reno membuka pintu. “Ini makanan Reno? Waah! Makasih!” Reno berjinjit dan mengambil piring dari tangan gue. Dia bersiap menutup pintu.

“Tunggu, Reno,”

“Ya?”

“Maaf ya. Kasan lupa belanja, adanya cuma fetucini, gak ada spageti. Kamu kan tadi mintanya spageti….”

“Gak apa-apa kok! Makasih, Kasan! Udah, Kasan kerja lagi ya?” Reno menutup pintu kamarnya dan membawa fetucini menggoda itu.

Gue bersyukur ketemu anak kayak Reno. Makan gak milih-milih, pintar, bisa diandalkan dan pengertian. Akhirnya, gak ada adegan kejar-kejaran ala iklan suplemen nafsu makan jaman Dea Imut deh.

Akhirnya, gue menuruti kata Reno. Gue mengambil iMac gue dan menyalakan TV. Saatnya ‘bekerja’.

Setiap minggu harus cek workshop, sebulan sekali seengaknya masukin barang dan kreasi baru ke list barang jualan, kadang harus ngangkat telepon bersamaan dari 2 HP yang sama, harus terima komplen ini-itu karena kurir ngirim barang gue dan nyampe-nyampe udah benyek, padahal dari workshop-nya bentuknya masih bagus…

Gak kerja kantor aja begini. Apalagi kerja kantor?

Kringing, Kringing!

“Alarm?” Gue merogoh kantong apron gue.

Reno udah harus mandi!

05.00 PM

Snooze Dismiss

Hmm. Agak ganjil juga gue di masa depan masih harus mengingatkan Reno mandi, mengingat dia bocah 7 tahun dengan otak super. Apa saking pinternya, memori untuk mandi setiap jam 5 tertutup memori tentang fisika kuantum di otak dia? Gue menutup iMac dan berjalan menuju kamar Reno.

Tok, tok…

“Reno, mandi yuk!”

Reno keluar dari kamarnya dengan wajah datar. Gue memberikan handuk ke tangannya dan dia menerimanya. Dia berjalan menuju ke kamar mandi di dekat kamarnya.

Meski masih harus diingetin, setidaknya Reno gak keasikan buka internet terus harus diingetin 100x untuk mandi… kayak gue. Hehe.

Masih gue mengutak-atik iMac sambil ganti channel TV supertipis itu dengan sensor gerak (dulu gue inget banget selalu sok nangis kejer tiap liat iklan Samsung Smart TV). Makin kesini, film Indonesia makin gak berkualitas untuk anak muda dan film luar makin masuk mengalahkan film dalam negeri. Iyalah, kalau filmnya horor ga jelas, mending film luar yang masuk. Tapi gimana dengan karya negara ini? Filmnya semua plagiat luar negeri. Gue paham, memang gak ada jalan lain ketika lo udah gak laku selain mengubah haluan dan berhenti idealis dengan meniru apa yang lagi ngetren.

Gue penasaran kemana kebudayaan kita.

Tahun 2029, Indonesia dijajah lagi.

Seandainya gue bisa balik ke tahun 2013, rasanya gue mau ngubah semuanya.

Iseng-iseng, gue mencari nama gue di google.

ZRAASSHHH. Cssss…

Suara shower yang mengguyur keras kemudian dimatikan terdengar jelas. Oh, Reno udah selesai mandi dan membuka pintu kamar mandi. Pantesan.

“Kasan, Reno minta tolong ambilin minyak angin dong!” seru Reno dari celah pintu.

Gue menutup iMac dan mengambil minyak angin aromaterapi dengan roll-on (tanpa Agnes Monica) di kamar gue.

“Nih. Mau Kasan gosokin ke punggung Reno?”

Reno mengangguk.

Gue membuka tutup roll-on dan sebelumnya mengeringkan punggung Reno. Agak berkeringat. Mungkin panas? Pemanasan global kan semakin parah.

Gue menggulirkan bola roll-on itu di punggung Reno dan meratakannya dengan tangan. “Bagian depan Reno pasang sendiri ya?”

Reno mengangguk. Dia mengambil minyak angin dari tangan gue dan berjalan masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Kembali gue mengurusi iMac nan unyu itu.

“Lho? Emang gue milih artikel ini?”

Terserah deh, yang penting baca.

Penulis dan ibu rumah tangga dengan kehidupan sempurna dan pekerjaan fleksibel… bla…bla… bla…

Banyak juga yang berpendapat positif tentang gue dan pekerjaan gue.

Kringing! Kringing!

Masak makan malem!

08.00 PM

Snooze Dismiss

Gue tersenyum dan men-dismiss alarm. Hmm, enaknya makanan untuk berdua di tengah malam apa ya? Masa fetucini lagi?

Tutup iMac, rapihin apron, regangin badan sedikit. Hihi, gue jadi mirip emak-emak di iklan penyedap makanan deh. “Reno, mau nasi goreng gak?” seru gue.

“Mau, Kasan!” seru Reno dari dalam kamarnya.

“Lagi apa?”

“Belajar!”

“Oke!”

Tak lupa menguncir rambut ke belakang (kalau ke atas ntar dikira Jinny Oh Jinny tahun 2029), gue mulai memasak nasi goreng spesial ala gue.

“Kompor, nyala!”

“Selamat malam. Berapa besar api yang anda butuhkan?”

“Api sedang!”

Dan, apinya menyala sendiri. Yaah, lama kelamaan, gue terbiasa dengan kompor yang dinyalakan dengan perintah suara ini.

Mulailah gue memasukkan telur, sambal tabasco secuil, nasi dan kecap. Terus campurin semua suwiran ayam, daging, ikan, daun bawang, nuget, sosis… semuanya masuk ke nasi. Biar kenyang dan puas. Haduh, gue kebiasaan serakah ya? Semua makanan dalam satu masakan.

Asapnya masuk ke dalam saluran udara dan mesin di atas kepala gue mengubahnya jadi udara segar berupa O2. Segitunya kalian, wahai mahluk masa depan? Segitunya? Setelah kekurangan pohon akibat penebangan liar? Gue merasa hina menghirup oksigen ‘sintetis’ ini.

Setelah matang, gue menaruhnya di piring besar.

“Kompor, terima kasih!”

Dan kompornya mati. Weew!

Gue menata meja makan dan menaruh dua buah piring di atas meja. Tak lupa mengeluarkan susu murni dalam botol kaca yang diantar setiap pagi dan menuangkannya ke gelas Reno dan gue. Yeah, gue masih suka susu. Enak!

“Reno! Udah jadi!”

Reno membuka pintu dan berlari menerjang meja makan. Dia menghirup udara diatas nasi goreng dan mengambil sendok. Menuangkan sendiri nasi goreng ke piringnya. Gue mulai merasa gak berguna lagi jadi emak.

“Reno suka banget nasi goreng campur ala Kasan! Nasi goreng gila kalah deh!” Reno menyendokkannya dengan semangat ke dalam mulutnya.

Sambil ikut makan, gue memperhatikan Reno yang makan dengan semangat. Sekarang aura ‘Inggris’ yang terhormat yang selalu dia tunjukkan entah kemana sirna. Makannya lahap dan semangat. Bahkan dia gak duduk tegak, dia gak megang sendok dengan semestinya (yang harusnya dipegang dengan telunjuk dan jempol, sekarang sendoknya dia gengam) dan dia makannya cepat-cepat dan asal dijejelin ke dalam mulut. Reno kayak gak pernah dimasakin sama gue dan ada rona rindu di mukanya.

“Enak?” tanya gue.

Dia susah payah menelan nasi di mulutnya. “Banget, Kasan!” dia tersenyum dan memperlihatkan makanan di sela-sela mulutnya.

Akhirnya, Reno menyelesaikan makannya.

Krining! Kringing!

Sikat gigi w/ Reno!

Snooze Dismiss

“Ayo, sikat gigi terus tidur!” Gue menuntun Reno menuju kamar mandi.

***

KRING! KRING! KRING!

“JAM 7!” gue melonjak dari kasur dan kembali mandi asal. “Reno, Reno bangun!” gue mengetuk-ngetuk kamar Reno.

“Kasan yang harusnya bangun….”

Di belakang gue, Reno udah gigit-gigit roti bakar dan seragamnya dari ujung kaki sampai kepala bener-bener rapih terorganisir. “Nih, sarapan Kasan.” Reno menyodorkan sepiring telor ceplok dan roti ke tangan gue.

Dengan cepat, gue mengunyah semuanya dan menggendong Reno menuju halte taksi dan memesan taksi (di masa depan, di halte ada mesin pemesan taksi).

“Lho?” langkah gue terhenti di teras.

“Reno udah pesenin taksi. Ayo cepet, Kasan. Kasihan bapaknya nungguin terus dari 15 menit yang lalu.”

Terperangah. Cuma itu yang bisa gue lakukan.

Anak yang terorganisir, dan emak yang keteteran. Orang pasti ngira gue emak pungut.

***

“Reno pulang!”

Dengan sumringah, gue menutup iMac dan berlari menuju pintu depan untuk menyambut Reno. “Heey! CS-nya Kasan udah… Reno!” pekik gue.

Sekujur tubuh Reno penuh dengan luka dan lecet. Pipinya lebam dan badannya keringetan. Tapi muka Reno tetap datar tanpa ada masalah. Gue makin panik, takutnya ada syarat otaknya yang kegeser atau dia udah mati rasa. “Kamu kenapa?!” gue menunduk untuk mengecek lukanya.

“Jatuh dari pohon yang dahannya banyak. Muka duluan ke tanah.”

Ya Tuhan, jawabnya aja kayak robot begini. Anak gueee!!!

“Bentar, Kasan cariin obat ya? Reno disini, biar Kasan obatin!” gue buru-buru berlari menuju kotak obat dan mengeluarkan semua obat di dalamnya. Dengan cepat, gue berlari menuju Reno yang masih berdiri di depan pintu.

Ajaibnya, setibanya gue disana, semua luka Reno udah diplester dan semua lebam dia udah dikompres. Dia ngelakuin sendiri. Reno nutupin semua lukanya sendiri.

“Reno udah bikin sendiri. Kasan istirahat aja ya? Reno juga mau tidur siang….” Reno melewati gue dan berjalan menuju kamarnya sendiri.

Oh iya, sampah plesternya. Siapa tahu dia lupa buang… lho? Lantainya bersih banget tanpa ada tumpahan obat merah dan sebagainya.

“Tapi… itu kan… ini… tapi itu….” Gue menghela napas. Dengan lunglai, gue berjalan menuju ke ruang TV dan kembali bekerja dengan iMac gue.

Kenapa gue seakan gak dianggap emak? Lalu apa gunanya gue disini?

Sambil mengetik laporan pengeluaran dan pemasukan online shop gue, gue berpikir soal Reno.

Enak juga punya anak mandiri. Kita bisa ngelepas dia dengan lega dan kita punya someone to trusted to. Dia bisa dipercaya dan gak rewel. Tapi, Reno terlalu mandiri untuk anak seumuran dia. Gue juga bukan seorang pekerja kantoran dan gue bukan manusia malam yang suka ke diskotik. Gue memang dari dulu bercita-cita punya anak dan ngurusin dia, bukan bercita-cita punya anak mandiri yang bisa apa aja sampai gue merasa kehadiran gue gak berguna begini.

Kring! Kring! Kring!

Reno harus makan siang!

12.00

Snooze Dismiss

Apa gue coba cek aja ya?

Satu menit, dua menit…

“Kasan, udah jam 12. Kasan masih kerja? Biar Reno yang nyalain kompor.”

Bener kan? Bahkan dia sendiri gak perlu diingatkan.

Terus gunanya gue apa?

***

Sambil rebahan di kasur, gue berpikir sendiri.

Masak, gue bisa. Bersih-bersih, gue juga bisa.

Lantas kenapa gue gak melakukan apa-apa di rumah ini?

Gue inget adeknya temen gue. Dia masih suka dimandiin meski udah umur 7 tahun. Gue juga pengen punya anak sendiri dan gue main air sambil godain dia. Gue pengen nyuapin anak gue, gue pengen bangunin dia tidur, masangin seragam…

Kenapa gue malah membiarkan Reno ngelakuin semuanya sendiri?

Apa Reno gak percaya sama gue karena gue sesungguhnya hanya anak 14 tahun yang datang dari masa depan? Atau emang Reno semandiri ini? Terus kenapa gue di masa depan selalu masang alarm? Apa dia juga selalu pengen cepet-cepetan dengan habbit Reno dan mau membuktikan kalau dia juga ibu yang berguna?

Berguling sedikit, gue mematikan lampu di bedside table gue. Mending gue tidur lebih cepet, besok gue harus bangun pagi-pagi buta.

Gak boleh sama sekali Reno manggangin roti buat dirinya sendiri.

***

Sengaja gue gak menyalakan alarm. Biar Reno gak kebangun, kemudian bekerja untuk dirinya sendiri. Sekarang jam 5 pagi dan Reno masih tidur di kamarnya. Perlahan, gue menyalakan shower dan mandi sepuasnya. Memakai baju rapih, menguncir rambut, dan memasak makan pagi buat Reno. Kasihan dia cuma makan roti setiap hari. Hari ini gue mau bikinin dia bubur telur ala Jepang versi gue.

“Selamat pagi! Seberapa besar api yang anda mau?”

“Api besar!”

Gue menaruh panci dan memasukkan air dan nasi ke dalam panci.

“Kalau apinya besar, berarti airnya tiris seperempat jam… hoaaaammm…. Tutup mata sebentar boleh deh!” gue duduk di meja makan dan menyenderkan kepala gue di atas meja. “Pokoknya gue harus jadi ibu yang baik buat Reno… dia gak boleh kerjain semuanya sendiri lagi… gue harus bertanggung jawab… emak macam apa gue… menelantarkan… anak… nya….”

***

Hidung gue digelitik oleh sebuah aroma yang menggangu. Sambil sedikit meregangkan badan, gue membuka mata gue dan masih mengidentifikasi bau apa yang gue cium…

“BUBUR!”

Gue berlari menuju panci dan membukanya. Kosong.

“YA AMPUN! INI BUBURNYA MENGUAP?”

“Kasan,”

“GIMANA INI?!”

“Kasaan…,”

“BUBURNYA!”

“KASAN!” Reno berteriak.

“Kenapa?” gue menekan intonasi gue selembut mungkin.

“Buburnya udah Reno lanjutin. Itu di meja udah mateng. Kasan makan yuk, yang cepet. Reno gak mau telat.” Reno menuntun gue yang masih shock ke meja makan.

Di hadapan gue udah ada semangkuk besar bubur telur ala Jepang dan kecap serta sambal di kanan-kiri mangkuk bubur gue.

“Ayo, dimakan!” Reno membuyarkan lamunan gue.

Sendok pertama… masuk ke mulut gue…

Resepnya persis resep gue, tanpa ada cela sama sekali. Bubur ini enak luar biasa. Dan gak mungkin gue yang bikin ini jadi luar biasa enak, mengingat gue belum memasukkan bumbu apapun selain nasi dan air.

Dengan cepat dan lahap, gue memakan bubur itu sampai habis. Mangkoknya sampai nutupin muka gue… eh, nutupin air mata, maksudnya.

Lagi-lagi, gue jadi ibu gak berguna.

***

Cuma ini yang bikin gue terlihat berarti untuk Reno. Cuma ini yang seharusnya bisa gue lakukan dan pasti Reno belum bisa lakukan (kalau bisa, dia juga belum diijinin). Tangan gue mengelus permukaannya yang berwarna putih susu dan mengilap. Gue masuk ke dalam, duduk, dan memutar kuncinya. Gue berhasil menyalakan mobil.

Gue deg-degan.

Dengan jempol kaki, gue menginjak pedal gas. Lalu gue mengubah gigi mobil. Perlahan, mobil itu bergerak maju dan gue memutar kemudinya.

BERHASIL!

“Gue… gue bisa nyetir? Gue bisa nyetir!” seru gue kegirangan. Dengan semangat, gue menambah kecepatan mobil dan mengendalikannya keluar dari garasi. “Yeeeey!” gue menekan klakson dengan membabi buta dan gue mengendalikannya ke jalanan.

Gue gak percaya, gue bisa ngelakuin ini semua! Akhirnya, akhirnya gue bisa berguna buat Reno! Sekarang gue bisa nganter dia ke sekolah dan gak perlu berhentiin mobil di tengah jalan dan nitipin di bengkel orang karena gue berhasil bikin pinggirnya baret kayak waktu nganter Reno di hari pertama. Untung orangnya mau nyetir mobilnya balik ke rumah kami.

“Gue bisa nyetir!” seru gue kegirangan dengan kepala menyembul keluar. “Minggir semua! Gue akan mengguncang dunia!” seru gue. Mumpung kompleks lagi sepi.

Sekali lagi, gue menekan-nekan klakson dengan semangat.

“TIN TIN!”

“TIN! TIIIIN!”

Dengan penuh rasa kekagetan, gue memutar setir mobil dan mengelak. Namun…

BRAAAK!

Pandangan gue gelap dan kepala gue sakit banget. Mungkin berdarah. Sakitnya lebih parah dari waktu gue tiba di sini. Kaki gue sakit luar biasa, mungkin tertimpa jok atau dasbor. Terakhir, yang gue lihat adalah seseorang menghampiri dibalik asap yang mengebul dari kap mobil gue.

And he knows my name.

***

Perlahan, mata gue terbuka dan gue tahu banget gue ada di rumah sakit, bukan di surga. Karena dimana-mana bau obat.

“Kasan sadar!” Reno berseru pada gue. Dia memeluk kepala gue kuat-kuat dan menangis di pelukan gue. “Jangan nyusul Tosan! Pokoknya kalau sampai Kasan nyusul Tosan, Reno bakal benci Kasan!” dia sesengukan.

Pelan, gue balik memeluk Reno. Gue ikut terharu mendengar perkataan Reno dan gue ikut menangis. Rasanya hati gue lega, meski akhirnya gue merepotkan dan gak berguna lagi buat dia. “Maafin Kasan ya!”

Reno melepas pelukannya dan memegang pipi gue dengan tangannya. Dia menatap gue. “Kasan, pokoknya Kasan gak perlu membuktikan apapun sama Reno!”

“Maksudnya?”

“Kasan. Reno bisa lakuin apa aja, Kasan gak perlu repot. Cukup urus mimpi Kasan! Reno bisa urus diri Reno, hal-hal remeh masih bisa Reno handle. Jadi, Kasan gak perlu capek-capek bekerja apapun untuk Reno!”

“Tapi…” gue memegang tangan Reno di pipi gue. “Kamu anak Kasan. Udah tanggung jawab Kasan untuk—”

Reno menggeleng. “Kalau harus membahayakan Kasan, Reno gak mau. Reno gak mau kehilangan Kasan lagi!” Reno kembali memeluk kepala gue erat-erat.

Lagi?

Apa maksudnya ‘lagi’?

Gue menatap bola mata anak kecil ini. Matanya yang bulat dan tulus membuat badan gue rileks dan hati gue lapang.

“Meski Kasan gak melakukan apa yang teman-teman Reno lakukan, Kasan tetap Kasan-nya Reno!” bisiknya.

Sekarang gue lagi males mikir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s