Sekalian aja gue tulis…

Yang follow gue pasti tahu. Gue lagi nyindir temen gue.

Jujur gue muak sama dia. Muak, semuak-muaknya, dari kelas 7. Tapi karena dia gak pernah bunuh bokap gue dan ngambil ponakan gue untuk jadi istrinya *gebrak meja 3x*, gue santai aja. Kalau ga suka, menjauh, menjauh, daripada akhirnya meledak dan masuk BK (inget, gue si pematah standing fan dan penghancur pintu lemari baju sendiri).

Gue deket sama sahabat dia karena dari dulu kita tuh jauh banget kayak gak pernah sekelas. Kebetulan dia juga tahu soal hobi-hobi gue, dan dia paham jokes gue yang lucu tanpa bedak ini (kadang kan orang suka ngerti lama dulu baru ketawa).

Masalahnya, selama ini gue jaga perasaan dia, karena itu anak sahabat dia pertama kali di SMP kami. Gue paham lah kalau tiba-tiba Natalia deket sama orang lain dan gue ditinggalin. Paham banget, soalnya pernah X))

Gue suka merasa dia gak mau ngelepasin tuh sahabatnya. Gue juga dulu gitu sama Natalia, sampai Mega sama Qurrota akrab ama kita, dan gue mulai belajar kalau Nata juga perlu bersosialisasi sama manusia lain selain gue di dunia ini.

Dalam berteman, semua orang pasti punya sifat jelek yang gak bisa ditoleransi oleh orang lain. Contohnya kayak Wilma temen gue, dia ga suka gue yang suka pukul-pukul bahu, Qurrota gasuka gue pegang-pegang pipi dia, terus Mega gak suka dipanggil Mega-kun (panggilan akrab untuk cowok dalam bahasa Jepang).

Kalau gak suka, kita mending bergerak pelan, sampe dia sadar kalau kita lagi ‘ngajarin’ dia dan lama-lama dia juga terbuka soal kekurangan kita.

Gak anarkis, gak ribet, dan selamat tinggal Bimbingan Konseling~

Masalahnya…

Dia bukannya sadar, malah makin tersinggung.

Gue MEMANG bermaksud menyinggung, sampe dia mikir sendiri… lama-lama pikirannya loading dan sadar. Komplain, jelasin, beres.

Just like Natalia do to me. And now see, we have tolerance each other.

Gue udah pernah ngomong ama dia, dia ngangguk, bilang oke, tapi sampai saat ini, dia tetap melakukan hal buruk tersebut.

Ya Tuhan…

Kata nyokap, kita bukan siapa-siapa dan gak bisa ngerubah sifat orang semudah itu.

Iya nyokap, ananda tahu… Tapi ananda bermaksud baik!

Ananda jujur merasa gak enak nulis-nulis begituan di twitter, nulis di blog…

Tapi ananda tak sanggup! Capek!

Kadang sudah ananda sabarkan hati ananda. Masalahnya ini tidak hanya berimbas kepada ananda saja, ibunda nyokap… tapi pada sahabatnya sendiri.

Ananda sudah bilang pada sahabatnya agar membantu ananda, dan dia mencoba. Kenapa? Karena dia sayang sahabatnya, ibunda nyokap.

Ananda kesal, ibunda nyokap. Ananda benci dia, ananda gak suka. Tapi salah dia… yang spesifik itu apa? Dia gak nyolong jemuran ananda… atau ambil keponakan ananda untuk… OKE STOP! *gebrak meja 3x*

Ananda hanya mencoba, agar dirinya sadar kalau orang terganggu akan sifatnya. Ananda tidak suka ketika ananda berbicara dengan temannya yang namanya mirip juri The Voice itu secara rahasia, lalu dia mencampuri. Ananda juga punya hak memilih siapa yang ananda curhati di dunia ini.

Oke gue mulai jijik dengan ‘ananda-anandaan’ ini.

Jadi gini, kawanku, dimanapun kamu membaca.

Saya sadis, memang. Karena saya udah nahan ini selama 1 tahun sama kamu. Saya juga punya batas kesabaran. Saya gak mungkin gak nganggep kamu ada, karena kamu sahabatnya si ‘mirip-juri-The-Voice’ dan saya cuma teman yang baru akrab. Beda.

Gini aja, kalau gak suka cara saya, saya menjauh.

Tapi tolong, ini cuma pesan. Tolong biarkan sahabatmu yang mirip juri The Voice itu untuk berteman dengan siapa saja…

Okesip, gue berhenti nyampah TL dengan sindiran karena gue bukan @WAHGUENYINDIRPASKENAKEORANGNYAWEKAWEKA :))

I’m outta here

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s