Dia Dan Secangkir Kopi

Namanya Tina. Sebenarnya sudah lama dia duduk disini. Sudah bergelas-gelas kopi dia habiskan, sudah banyak struk dari kafe ini memenuhi dompetnya. Kurang kerjaan, memang, menyimpan semua struk dalam dompet putihnya itu. Eh, bukan. Itu dompet merah muda yang terlalu samar, merah muda gamang yang memilih menjadi putih dan menutupi kemerahmudaannya.

Dia sudah hafal line-up stand up comedy di kafe itu, dia sudah hafal band pengisi acara live music kafe itu. Hafal diluar kepala. Mungkin kalau kafe ini butuh admin twitter, tanpa seleksi, dia akan langsung didaulat.

Kenapa dia melakukan semua itu?

Dia sendiri bahkan belum tahu jawabannya.

Dia hanya duduk disana, menghabiskan mocchachino atau latte. Dan kalau lambungnya perih, dia memesan teh. Cammomile, jasmine, cherry blossom, sakura dan madu… semua bunga sudah masuk ke dalam teh dan perutnya. Kecuali madu, karena itu bukan bunga, meski berasal dari bunga. Setelah habis, dia akan duduk hingga sore hari sambil bermain laptop atau handphone, memesan minuman lagi, lalu pindah ke dalam sambil menonton stand up comedy, dan pulang.

Kenapa dia melakukan semua ini?

Dia sendiri bahkan belum tahu jawabannya.

Tiap jam 8, dia hanya melihat orang naik-turun panggung, melemparkan materi komedi observatif, memperagakan gestur unik dan lucu. Dia tidak tertarik untuk tertawa, bahkan tersenyum kecil, namun dia cukup puas mendengar orang-orang di sekelilingnya tertawa. Padahal dia yang paling tepat waktu, selalu dapat bangku paling depan. Namun dia hanya duduk dan tersenyum, membuat para stand up comedian yang naik panggung, selalu merasa gagal.

Kenapa dia melakukan semua ini?

Dia sendiri bahkan belum tahu jawabannya.

Setiap hari, dia duduk di bangku yang sama. Faktor kearabannya dengan waiters disana membuat bangku favoritnya selalu kosong bila ada dirinya. Dia duduk di bangku besi bercat metalik dengan payung putih besar yang menaunginya, dan membiarkan rambutnya ditiup angin. Sesekali dia lakukan sambil bermain laptop, menggunakan Wi-Fi yang passwordnya sudah dia hafal luar kepala.

Kenapa dia melakukan semua ini?

Akhirnya dia tahu jawabannya.

Dua tahun lalu, ada seorang pria duduk disana. Dandanannya acuh, wajahnya manis dan menghibur, dan memang pekerjaannya adalah stand up comedian. Pria itu tak pernah mau dibilang bodoh, dan kenyataannya dia memang orang yang intelektual dan cermat, ilmu pengetahuannya begitu luas. A funny nerd. Wajahnya serius, mengambil jurusan geografi, dan memakai kacamata saat tidak sedang melucu. Diam, namun sembunyi-sembunyi, mencari materi untuk stand up comedy.

Sebulan kemudian, terhitung dari waktu wanita itu bertemu pria itu, mereka berdua menautkan kelingking mereka, berjanji akan saling memiliki. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, berusaha untuk saling percaya, berusaha agar tak ada ‘si posesif’ di antara mereka, berusaha agar orang ketiga tak pernah mereka temukan, bahkan tak pernah hidup di dunia ini. Mereka pergi kemanapun mereka mau. Ke Paris, ke Roma, kemanapun kaki mereka melangkah beriringan. Meski pria itu tidak suka janji-janji manis semacam gombal karena tidak yakin bisa menepatinya, namun kali ini dengan mantap, sambil memegang pipi wanita itu, dia berjanji akan bersama wanita itu, kemanapun kakinya melangkah.

Setahun kemudian, terhitung dari waktu mereka menautkan kelingking di bawah payung putih kafe, tepat di hari dimana mereka resmi berpacaran, pria itu mengeluarkan sebuah kotak dan menunjukkan sebuah cincin kepada wanita itu. Wanita itu tidak bisa menjawab apapun, hanya menangis selama satu jam, dan membalasnya dengan anggukan bahagia, membiarkan air matanya mengenai meja kafe itu, menyisakan kenangan tak terlupakan disana. Pria itu bahkan berjanji berhenti jadi komedian demi bisa selamanya bersama wanita itu. Tapi wanita itu menggeleng sambil masih tersedu. “Jangan korbankan mimpimu demi bersamaku. Sekarang giliran aku yang mengikutimu kemanapun kamu pergi.” katanya.

Tiga bulan kemudian, wanita itu mencoba baju pernikahan dengan cincin tunangan berkilauan di jarinya. Pria itu selalu ada untuknya kemanapun dia pergi, dan begitu juga sebaliknya. Sesekali, pria itu perlu mengingatkan wanita itu agar tak perlu malu menjadi miliknya, meski wanita itu selalu merasa tak bisa sempurna untuk pria itu. Mereka selalu melengkapi kekurangan masing-masing, selalu menghitung mundur waktu-waktu pernikahan mereka yang sudah didepan mata. Mereka juga sering menggengam tangan masing-masing setiap sebulan sekali, di bangku yang sama, menghitung mundur seperti tahun baru hingga tepat jam 8 malam, dan saling mengucapkan ‘Happy Anniversary’.

Dan seminggu kemudian, terhitung dari wanita itu mencoba gaun pernikahan, pria itu tergeletak penuh darah di tol Cikampek. Wanita itu, langsung berlari tanpa ragu dari tempat duduknya—bangku favorit mereka, tempat mereka saling menautkan kelingking setahun lalu—dan berlari tanpa ragu ke tol yang hanya berjarak 100 meter dari tempatnya saat ini. Pria itu memegang pipi wanita itu untuk terakhir kalinya dan mengucap ‘aku cinta kamu’ untuk terakhir kalinya. Meski tak sempurna dan terdengar seperti ‘ahu cintka kauh’, dia bisa memahaminya. Semuanya sudah cukup. Dia tidak bisa memaksa seseorang yang rahangnya bergeser karena tabrakan dasyat untuk mengucapkan kata itu dengan sempurna. Dia hanya perlu cinta itu sendiri. Wujudnya, dan bukan bunyinya.

Sehari kemudian, terhitung dari pria itu tergeletak penuh darah, wanita itu berpakaian hitam, semuanya hitam. Tidak ada hujan seperti di sinetron. Langit tidak ikut menangis bersamanya, entah kenapa. Rasanya disini  hanya dia dan keluarga pria itu yang menangis. Rasanya dia ingin menghajar setiap tamu yang mengaku ‘kerabat’ agar ikut menangis, bukannya hanya berakting dengan menutup mulut mereka dengan saputangan dan memasang wajah iba. Dari mulai pria itu diautopsi, dimandikan, didandani oleh wanita itu dan dipakaikan baju oleh perempuan itu, ditaruh di peti, ditutup petinya, hingga peti itu perlahan menghilang ditutupi tanah, dia ada disitu. Seperti janjinya, mereka harus terus bersama.

Sekarang dia disini. Semuanya sudah berlalu. Kini hanya dia dan rutinitasnya, hanya dia dan secangkir kopi.

Tidak ada seseorang yang biasanya dia perhatikan di panggung, membuat orang-orang tertawa dengan hati, bukan gabus. Tidak ada lagi yang menggengam tangannya disaat semua momen terasa pas. Semuanya menguap ke udara, bersama air mata bahagianya setahun lalu, saat pria itu memberinya cincin berkilauan, dan seluruh hatinya.

Mati bukan penyelesaian, meski hatinya telah mati. Tidak mungkin seseorang akan bahagia bila kamu mati untuk menyusulnya di surga. Semua orang tahu bahwa bunuh diri membawamu ke neraka. Apakah cinta bisa terjalin di tengah gertak gigi dan jerit derita?

Wanita itu berprinsip, jalani hidupnya meski seorang diri.

Karena dia akan membawa pengalaman paling indah, saat pria itu merentangkan tangannya, menyambutnya di tempat penuh cahaya dan kedamaian, bila waktunya telah tiba.

Kini biarkan hatinya tenang, ditengah hiruk pikuk kafe sore hari, dan sepiring kue tiramisu favorit pria itu, yang terakhir kali dimakan pria itu saat terakhir mereka bertemu. Belakangan ini wanita ini tahu, kalau tiramisu berarti ‘biarkan aku pergi ke surga’.

Biarkan dia pergi ke surga, memang satu-satunya jalan, untuk merelakannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s