Tips Semangat Nulis Buat Penulis Yang Belum Bikin Buku

Pertama, kenapa panjang banget judulnya dan gak gue tulis aja gitu “calon penulis”? Well, menurut gue calon penulis itu: orang yang belum nulis dan pengen nulis. Penulis itu kan logika sederhananya orang yang ‘nulis’ kan? Nulis novel, cerita pendek, artikel (biasanya sih yang ini jurnalis, tapi beda lagi deh pokoknya!), atau lagu. Nah, kalau kalian udah nulis tapi belum bikin novel, kalian kan tetep penulis? Apa terbitnya novel jadi tolok ukur diakuinya kalian sebagai penulis? Apa cerpen dan cerbung kalian dimuat di majalah jadi tolok ukur diakuinya kalian sebagai penulis?

Ehem, ehem! Sori, kebawa emosi. Maklum, pengalaman pribadi sih.

Sekarang sebagai ‘Penulis Yang Belum Bikin Buku’, gue akan bagi tips ke sesama “Penulis Yang Belum Bikin Buku” (atau bisa disingkat PYB3 atau kalau gak mau kedengeran UKS banget ya PeYaBeBiBu. Apa ini? Oke, lupakan saja…).

Langsung!

1. Jadi Orang Gila Sekali-Kali

Gini, bukannya gue sebagai bloggers nyuruh kalian pake baju compang-camping sambil teriak “KIAMAT SUDAH DEKAT” ke semua orang di jalan…

Maksud gue adalah…

a) Bikin Pembaca Khayalan

Tanpa mengatakan kalau Dewi Lestari adalah orang gila, ini adalah cara yang digunakan oleh seorang ibu suri (a.k.a Dewi Lestari) untuk menyemangati dirinya menulis Keenan & Kugy (cikal bakal Perahu Kertas) semasa mudanya dulu. Dia membayangkan adanya pembaca imajiner yang selalu menunggu cerbungnya—Keenan & Kugy—terus berlanjut. Dia makin semangat menyelesaikannya, dan lama-lama orang penasaran sendiri sama apa yang dia tulis.

Kalau versi gue, bikin editor khayalan. Editor khayalan gue bernama Rissa dan dia akan datang sebulan sekali menanyakan kelanjutan naskah gue. Tapi gue gak pernah ngomong dan ngakak bareng Rissa di kafe sambil ngomongin naskah. Just imagine some excecutive (paruh baya bahasa inggrisnya apa ya?) girl break my door and scream “GIMANA LANJUTAN NASKAH KAMU HAH?”. Tapi ngaku dikit deh, sebenernya Rissa baru gue buat selama tulisan ini gue ketik di Word dan mau gue post ke blog.

b) Todong Sana Sini

Kasih tau temen-temen lo kalau lo lagi nulis. Tapi jangan ke temen yang kurang akrab, apalagi saat lo lagi JBJB (jujur dari dulu gue bingung kenapa kata ‘JBJB’ bisa berarti ‘ikut campur suatu kegiatan orang secara tiba-tiba dan terkesan risih’. Apa hubungannya Justin Bieber-Justin Bieber dengan ‘ikut campur suatu kegiatan orang secara tiba-tiba dan terkesan risih’? Ah sudahlah…) sebuah pembicaraan. Kenapa? Karena kalian bakal dibilang pamer “belum jadi penulis aja udah sok…”, dan adanya mereka malah ilfeel, bisa aja malah jadi provokator dan menghalangi jalan kamu sebagai bestseller novelist hanya dengan “eh dia dulu sekelas lho ama gue. Dulu tuh dia pamer banget belum jadi penulis aja… udah gak usah dibeli!”. Harus hati-hati dikit, dan cari celah dalam sebuah pembicaraan.

Nah, abis orang udah tahu, tunjukkin buktinya. Sinopsisnya kek, satu bab di print atau masukin ke blog, biar dia mulai ngiler dan kepo, terus ngedukung. Percayalah, meski kadang orang suka sepik “gue bakal dukung lo terus!” (entah bener atau cuma sepik, doain aja beneran), itu bikin kalian semangat. Kalau udah banyak yang ‘sepik’, lama-lama bakal banyak juga yang tulus! Kalian gak perlu lagi tuh ngomong sama the imajinary Eddy, Gitta, Chika… karena kalian sudah punya yang nyata!

Abis itu, kalian juga harus jejelin orang pake karya kalian, kayak gue.

“Eh, gue udah bikin entry blog baru kemarin, baca ya!”

Bener aja, besok dia baca.

Setelah kalian sering nodong, lama-lama dia akan terbiasa. Ntar bakal otomatis nanya “ada entry (atau tulisan, dalam kasus kalian) baru apa nih?”

Tapi satu yang rentan dalam trik todong menodong ini, temen-temen… kalian harus maksimal! Jangan kalau kalian heboh luar biasa, promo kanan kiri, ternyata yang kalian post cuma teaser? Janganlah buat kejadian seperti ini benar-benar terjadi:

Ada seorang anak bernama Tata, dipromosiin entry
blog soal novelnya oleh Retta, temannya. Hari ini Retta terus menerus heboh soal ide dan sinopsis novelnya, sampai dia ditegur oleh Pak Ito. Karena penasaran, Tata membuka blog Retta di handphonenya. Sayang, pulsanya habis. Dia pun pergi ke outlet, namun tutup. Karena Tata orangnya mudah penasaran, dia pun rela pergi ke warnet. Sayangnya, koneksinya lelet sekali (kita bisa langsung memahami kalau Tata ini benar-benar #BadLuckTata *memeabis), selelet kinerja pemerintah. Setelah background
blog Retta mulai muncul…

“Iyaaa…”

Tata geregetan.

“Iyaaaa….” dia menggenggam kardigannya kuat-kuat.

Dan muncullah 4 paragraf teaser novel Retta.

Teaser.

Iya, teaser.

Teaser, bukan puser. Bukan puyer, bukan butler, karena ini bukan anime.

Akhirnya Tata memutilasi Retta dan menjual organ Retta ke Malaysia.

Tamat.

Kasian, kita gak tahu apa yang kita lakukan pada orang hanya karena “baca ya!” kita.

Buat segalanya semaksimal mungkin. Jangan kecewain pembaca potensial. Karena orang kalau udah kecewa, macam-macam. Ada yang mudah mengampuni, memendam, dan yang paling parah… langsung balas dendam.

c) Carilah Temen

Kenapa nyari temen masuk ke kategori gila? Karena dengan temanlah kamu bisa gila-gilaan:

“Menurut lo bajunya bagus gimana?”

“Menurut lo kalau aksen yang bagus buat nih cowok bule apaan yak?”

“Menurut lo celana dalem gue kebalik gak?”

Nah, enaknya punya temen diskusi tuh begitu! Gila-gilaanlah dan jejali dia pertanyaan!

Saran gue jangan cari temen yang skillnya lebih tinggi dari lo, bukan sikilnya lebih tinggi. Kenapa? Karena kadang kalian justru bakalan minder, pengen menyaingi, dan akhirnya kalian yang masih skill awal (termasuk gue *hiksu*) bakal jadi merasa rendah diri, dan malah dapet asupan gizi yang gak sesuai sama ‘umur’. Itu sama aja kayak anak orang kaya, dikasih susu tapi susu osteoporosis yang biasa ompung gue minum. Kita bukan beda kasta, tapi beda asupan nutrisi. Kenapa? Karena menurut gue kalau lo sama-sama penulis, semuanya sama. Gak pake kasta-kastaan. Apa itu kasta? Kalian mau jadi penulis atau member Lolipopnya Putih Abu-Abu?

Nah, kalian harus curhat sama orang yang skill tulisnya sebaya atau bahkan yang bukan penulis sama sekali. Kalau minta tips menulis, mintalah sama yang skillnya diatas kalian. Beda guys, wejangan sama usul. Karena usul itu pake statement ‘menurut gue’, dan wejangan itu sudah terbukti dan emang banyak orang yang make cara yang sama dan terbukti bener. Jadi cermatlah mencari teman diskusi!

 

Abis kalian udah mulai nulis, dan kalian udah punya ‘nama’… kita loncat ke STEP 2. TUINGGG!

 

2. Jadilah Si ‘Sok Jual Mahal’ #uyeah

Menjadi si ‘Sok Jual Mahal’ #uyeah itu tidak mudah lho. Setelah kalian mengejar pembaca, kalian harus pelan-pelan jual mahal. Percaya gak percaya banyak orang yang nganggep penulis yang terlalu low profile itu orang kere yang jual novel biar bisa bayar uang kos doang. Kalau kamu mau jadi profesional, pikirkan segalanya matang-matang.

Sok Jual Mahal #uyeah bukan berarti kamu kemana-mana pake mantel bulu, kacamata item, topi segede payung kokakola di pantai, terus sepatu tinggi dan make up seolah kamu kerja di Ancol. Kamu harus agak…:

a) Berhenti Promosiin Tulisan

Sama kayak yang diatas, kalau kamu udah sering promo, lama-lama orang bakal nanya duluan. Nah, kalau kamu udah punya ‘orang yang nanya duluan karena terbiasa’ sebanyak 3 aja, mereka bisa kamu mintain bantuan jadi downline kamu (mampus gue ketularang nyokap!). Minta mereka post link kamu di twitter kek… apa kek. Kalau kamu nulis naskah tanpa posting ke blog, mungkin agak susah. Kamu harus PDKT sama si ‘orang yang nanya duluan karena terbiasa’ itu, biar ntar kalau si ‘orang yang nanya duluan karena terbiasa’ itu lagi cerita sama temen-temennya dan nyerempet ke perihal penulisan, dia inget kamu. Dia pengen makan, dia inget kamu. Dia pengen tidur, dia inget kamu. Sukur-sukur kalian bisa jadian nantinya…

Setelah punya ‘nama’, kalian juga akan makin semangat, karena sekarang udah banyak orang yang tahu kalau kalian penulis. Percaya deh!

b) Biasakan Woles

Kalau udah punya nama, kalian harus banyak-banyak Woles. Kalau perlu pake kaos, topi, wirstband sampe pin woles. BTW temen gue jual lho, mau? *oy!*

Ehm.

Kalau ada orang yang nanya: “eh, lo yang lagi nulis itu kan?”

Woleslah dan berkata “iya…” dengan gaya ala Ge Pamungkas (buat yang gak tahu siapa dia, bisa cek di YouTube atau di http://www.twitter.com/gepamungkas dan fanbase http://www.twitter.com/geroupiesina dan kalau kamu gak ada internet, coba cek apa kamu sedang tinggal di gua peninggalan Belanda atau sebelum tidur kamu salah teken steker dan neken tombol mesin waktu ke abad 10). Which is angkat-angkat alis, monyongin bibir dan berkata dengan aksen Prancis dan suara berat yang bikin cewek satu SMA kelepek-kelepek sebelum UN.

Oke, yang diatas gue lagi becanda dan lagi pengen ngomongin dan promosiin soal idola gue yang baru selesain tour hebatnya #3GPTOUR doang…

Maksud gue, apapun reaksi lo asal jangan:

“Iya bener, bener! Kok lo tahu sih? Nih, nih… tulisan gue tuh udah sampeee….”

Dan lo berceramah hingga orang bikinin lo program Mamam dan Cucu.

Gue gak menyalahkan kalau lo orang periang, karena gue juga periang. Tapi sebagai orang yang belum punya ‘nama’, kita harus banyak-banyak ngerem, apalagi kalau yang nanyain kita itu gak terlalu akrab dan orang yang sinis dan congkak. Itu bisa aja dia didepan bilang iya tapi dibelakang kamu dikatain.

Bisakanlah woles. Budayakan woles. Belilah merchandise woles temen gue. *kemudian pembaca menghilang entah kemana*

 

Nah, semoga tips untuk sesama “PeYaBeBiBu” ini bisa bermanfaat.

Jangan remehkan gue karena gue “belum jadi penulis udah ngasih contoh” karena mindset kalian tentang semua kunci sukses berasal dari orang sukses. Justru karena kita sama-sama mengalami, semuanya akan terasa mudah bagi kalian, dan kita bisa belajar bersama!

Semoga kali ini bener-bener bermafaat!

2 thoughts on “Tips Semangat Nulis Buat Penulis Yang Belum Bikin Buku

  1. Write more, thats all I have to say. Literally, it seems as though you relied on the video to make your point.
    You definitely know what youre talking about, why throw away your intelligence on just
    posting videos to your site when you could be giving us something enlightening to read?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s