Judge The Book By Its Cover? Think Again…

(Mengawali postingan ini, pengen minta maap dulu buat temen-temen bloggers yang comment tapi harus diapprove dulu. Sori ya, dari dulu udah nyari setting dimana biar ga usah approve-approvean, tapi ga ketemu >< ada yang bisa bantu? Peace)

Kenapa semua orang selalu judge book by its cover? Ilfeel pada pandangan pertama karena manusia di hadapannya ini berkacamata tebel, dan dia anggap gak gaul? Padahal aslinya dia itu rapper super duper gaul, temen facebooknya Eminem (emang Eminem punya facebook ya?) dan saudara jauhnya Pitbull? Cuma sekali salah pandang, kita udah lost contact sama orang hebat.

Banyak lagi orang yang langsung menilai langsung ke dalam hati seseorang, dan tidak memperhatikan penampilan orang tersebut. Meski temennya itu segembel-gembel mungkin, dia gak peduli! (sayangnya orang-orang seperti itu rasanya cuma tinggal ada di cerpen Majalah Bobo doang…)

Gue adalah korban orang-orang judge book by its cover. Temen-temen gue memandang gue dari luar. Poni liar kaya Andika Kangen Band, agak bau keringet (bawaan bokap -_-) dan juga ga pinter dandan (sebenernya cuma karena gue males doang…) bikin mereka berpikir gue ini perempuan yang ingin lari dari kodrat. Yah emang, tapi lama-lama gue sadar jadi perempuan udah takdir, dan lama-lama gue menikmati juga😀

Guru-guru jaman sekarang juga korban judge book by its cover. Hari ini ada semacam angket di sekolah gue. Ada satu guru yang 70%-an temen gue masukin namanya di kolom “guru yang tidak saya senangi”. Gue sendiri ga masukin dia. Temen-temen gue beralasan:

“Ngajarnya ngebosenin hel…”

“Orangnya galak gitu hel…”

“Sok disiplin, ngamuk melulu…”

In fact, gue pernah ketemu si ‘guru’ di luar sekolah. Actually dia adalah seorang yang sangat supel dan periang. Agak kebawa sama logat daerahnya, agak menggebu-gebu. Tapi maklumlah… guru juga punya rasa jenuh, nyokap gue juga punya rasa jenuh sebagai seorang guru.

Dan kalian semua pasti pernah gini juga…

Ada gak temen kalian yang tampilannya agak… gak ganteng, terus nilainya rendah terus? Mereka pasti jadi bahan ceng-cengan kan? Contoh aja nama kamu Echa dan kamu perempuan, dan ada Fikri si beast di kelas kalian. Pasti ceng-cengannya itu: “Cie Echa ama Fikri!”

Pasti otomatis kita jawab “ih, ogah! Najis gue ama anak kayak dia!”

Ehm. Gue juga suka begitu dulu. Kalau sekarang, demi menjaga perasaan mereka—siapa tahu mereka suka sama gue… gue emang cewek baik—dan gak bikin mereka tersinggung dengan secuil ‘ogah’ dari gue… gue akan menyahut “ah ga mungkin. Kita kan temen! Iye gak?”

Mau dia bilang apa kek, bodo amat. Dengan itu, dia udah merasa dihargai. Daripada kita maki-maki, itu akan membekas di hati dia, bahwa dia itu najis, bego dan jelek (meski itu emang kenyataan, tapi dia kan punya perasaan).

Judge book by its cover. Kalau gue sih judge book by its synopsis. Setiap beli buku di toko buku, gue selalu ngelihat sinopsisnya, atau gak blurb-nya (yang kayak teaser semacam : ‘Apa kamu cinta padaku? Ah, seandainya bumi berputar lebih lambat, dan hidup ini tak perlu bergulir. Aku pasti tak perlu menjauh darimu…’ gitu). Dengan itu, meski buku itu ditutupi segel plastik, seengaknya kita dapat gambaran akan isinya.

Gue tahu semua orang judge book by its cover karena takut. Takut salah berteman, takut salah bergaul, takut digauli (nah yang ini harus hati-hati! *heh!*), takut kecewa (kalau nyari pacar)…

Bayangin aja kalau ada novel yang bikin kita nangis darah sampai nyakar-nyakar tanah, bikin kita berkaca akan kehidupan kita, memperbaiki hidup semua orang, memperbaiki keuangan penulisnya yang—seandainya—orangtuanya sakit parah…

Tapi gak kita beli karena covernya cuma warna putih dan judul dengan font warna hitam yang bahkan tidak menyembul dan licin (kayak yang biasa gue suka tuh. Ngelus-ngelusnya enak gimana gitu!). Akhirnya tidak ada tanah yang tercakar (?), tidak ada yang berkaca, tidak ada yang terperbaiki, tak ada yang keuangan dan nyawa yang selamat… cuma karena masalah cover.

Bayangin kalau buku itu manusia. Udah berapa hati kita sakiti?

Udah berapa juta kesempatan kamu lewatkan untuk berteman?

Emangnya enak ya temenan sama orang yang homogen? Yang itu-ituuu aja! Kalau kamu suka K-pop kamu cuma temenan sama Kpopers, kalau kamu otaku kamu cuma mau temenan sama otaku, kalau kamu penggemar MU kamu cuma mau temenan sama sesama penggemar MU, kalau kamu suka buku filsafat kamu cuma mau temenan sama sesama penggemar buku filsafat.

Emang enak ya guys? Enak gitu tiap hari ngomonginnya itu-ituuu mulu… ngomongin sekitaran boyband, anime, MU lawan siapa, soal buku Plato dan Aristoteles…

Tanpa ada perubahan topik kecuali curhat atau soal geng lain yang menurut kamu membosankan (contoh : geng Kpop ngomongin geng filsafat yang kelihatan kutu buku abis dan ga keren).

Emangnya enak kita cuma mau berteman sama yang covernya bagus dan oke? Yang bergerigi-gerigi (gue suka tuh! Semacam cover Bukune gitu… enak dipegangnya! *geplak pala sendiri* oke, back to topic), gambarnya juga bagus dan chic, dan hard cover (ih kalau hard cover gue suka, cuman bukunya jadi mahal… *DIEM LO!*). Padahal cover mah tergantung ama penerbitnya aja. Ada banyak kok penerbit yang memang membuat novel dengan kualitas cover yang bagus (baca : banyak orangtua yang ‘memproduksi’ anak-anak berkemasan luar bagus dan tampak ningrat terus kaya raya)…

Tapi sebaik-baiknya si penerbit membuat cover, gak akan pernah mengubah isi yang si penulis buat.

Sekarang ibaratkan penulis itu Tuhan, penerbit itu orang tua, dan buku itu manusia.

Banyak gaya dan tabiat anak yang ngikut orang tua. Tapi ada aja satu-dua sifat alami anak yang kebawa dari sananya (content dari si Penulis). Mau dibuat sebagus apa kek itu cover ama si penerbit, gak akan merubah isinya. Jelek ya jelek!

Buat kalian yang selalu memandang manusia sebelah mata, melihat orang sekali pandang dan langsung menjudge mereka, mengucilkan mereka karena tidak bagus, atau TIDAK SAMA DENGAN KALIAN SEMUA *emosi* *curcol* atau TIDAK SAMA JALAN PIKIRNYA DENGAN KALIAN *emosi lagi*, menurut gue sekarang saatnya buka tuh mata picek dan otak picik kalian itu. Manusia selalu punya hak memilih teman, oke kita pasti mau dong ngumpul sama orang yang sejalan dengan kita, satu hobi sama kita. Tapi apadengan alasan yang sama, kamu sampai mengucilkan orang lain?

Judge book by its synopsis, not its cover

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s