Kenapa harus menulis?

Seneng banget nulis, gatel dan kejang-kejang di lantai sampe bebusa dan dihampirin ribuan pemuka agama *gak gitu juga* kalau gak nulis, apa aja dicoretin puisi atau sajak kalau lagi bosen(korban utama: buku IPS sama PKN), suka spamming curhatan di twitter sampe bikin dua twitter biar gak terlalu spam(jadi kalau yang satu udah kebanyakan ngetwit, biar ga diunfoll massa, gue ngetwitt ke yang satu lagi)

Dari semua itu, gue sadar, itulah passion gue.
Panggilan jiwa gue sendiri, gue harus jadi penulis, gak perlu terkenal, yang penting ada komentar “gila kak, buku lo keren, lucu, mengharukan, mengaduk perasaan gue, bikin adek gue kerasukan sampe guling-guling(yang itu tanggung sendiri)…”udah nambah semangat gue sebanyak aki mobil, yang setia sampai akhir *eaaa* memberi tenaga pada mesin mobil…

Gue seneng saat postingan blog gue di-reply “berguna banget!” atau “bener banget tuh! Makasih ya infonya” atau “waw, seksi abis…” (nah, yang ini pasti lagi ngintipin Gigi Chibi mandi terus salah ngetwitt ke gue… Gue bukan Gigi Chibi. Kalau Jigong Babi mungkin bisa…)

Seneng banget dihargai tulisannnya, seneng saat temen gue bilang “bagus nih cerpen lo! Lanjut lagi doong…” (yang ini ketauan udah kena racun tikus dari cerpen-cerpen gue)

Bangga(tapi gak sombong) kalau ada yang nyebarin blog gue(abis gue bayar pake tiket Breaking Dawn 2 yang gue bikin sendiri, pake tangan… Ya, pake bolpen sama kertas karton putih digunting…) dengan komentar positif.

So, gue sekarang tahu, passion gue adalah menulis.
Gak perlu ketenaran, gak perlu detik itu juga abis diluncurin ke toko buku langsung bestseller.
Semua itu datang dengan sendirinya. Menulis dengan hati untuk mendapatkan hati pembaca, bukan hanya menulis untuk mendapatkan hati pembaca.

Selalu gak bisa tidur abis nulis naskah novel(yang udah 10 cerita, dan putus di tengah jalan…). Gue ngebayangin… Apa ini bisa diterima sama penerbit? Apa ini layak dijual dan dibaca anak seumuran gue? Apa suatu saat ini masuk ke rak ‘Top 10’ atau ‘Buku Laris’?
Pokoknya gak bisa tidur dan ngedit naskah terus, no matter what happen, pokoknya harus bagus dan perfect. EYD harus sempurna, kalau perlu editor gak perlu kerjain apa-apa sama sekali.

‘Bisa gak gue jadi penulis?’ bukan pertanyaan yang benar. Siapapun bisa jadi penulis sekarang. Coba tengok admin-admin akun twitter kocak/quotes galau jaman sekarang. Mereka bisa bikin buku dan menyandang titel penulis hanya dengan membukukan tweet-tweet mereka. So simple to do.
Jaman sekarang penulis bukan pekerjaan yang menjanjikan. Tapi sekali lagi, passion.

Nyokap bilang penulis itu bikin stres. Oke baru-baru nanti kamu akan famous, tapi disaat ada yang lebih bagus, kamu tersingkir.
Jadi penulis harus produktif. Tapi orang yang produktif biasanya lebih cepet meninggal karena selalu dituntut untuk membuat karya kalau tidak mau lengser.

Gue pasti cari kerjaan lain, karena kalau mau ngikutin mimpi bocah unicorn indosiar, kita gak akan bisa bertahan hidup di dunia yang keras. Pokoknya, reach ur dream.

Passion itu lo yang tentuin, bukan orang tua. Inget, orang tua itu pembimbing, tapi bukan berarti kamu terus bergantung sama orang tua.

*Gatau mau nutup post pake kata-kata apa. See yaa udah mainstream abis😐 menghilang aja deh! #poof*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s