Nasional.Is.Me, membuka mata dan pikiran akan Indonesia

Seandainya lebih banyak orang yang mau membuka mata untuk sisi baik Indonesia, seandainya lebih banyak orang peduli dengan potensi yang dimiliki Indonesia. Seandainya lebih banyak orang yang membuka matanya, tentang ada banyak destinasi yang bisa dikunjungi di Indonesia.

Nasional.Is.Me, buku yang menyelamatkan gue dari sebuah kata : skeptis.
Menyelamatkan gue dari kemungkinan melanjutkan hidup dan kuliah di luar negeri, setelah melihat tempat gue berpijak sepertinya tidak menghasilkan air setelah gue gali semakin dalam.

Membaca pengalaman seorang Pandji Pragiwaksono yang menjadi panutan bagi gue, sebenarnya menjemukan. Dengan umur yang masih muda, masih terlalu berat (bagi orang umumnya) untuk peduli soal tetek bengek tentang Indonesia. Tapi ternyata, sesuatu akan lebih baik kalau dimulai dari kecil. Sesuatu akan tertanam di otak, melekat di jiwa kalau sudah ‘merasuk’ sejak kecil.

Cara seorang panutan saya–Pandji Pragiwaksono–mengulas soal negaranya, membuat seseorang yang menganggap Indonesia negara payah, negara ‘cuma bagus diluar’, negara bodoh… semuanya terdiam, membisu dalam rasa malu masing-masing. Malu, karena sudah salah menilai sebuah negara. Lebih malu lagi jika dia adalah warga negara Indonesia. Malu karena menilai rumahnya sendiri dengan kata-kata bodoh.

Nasional.Is.Me, sudah saya wariskan kepada sahabat saya, yang sukses terbang ke Rusia. Tujuan utama saya adalah agar dia tidak lupa pernah tinggal di negara ini, tidak lupa keindahan  negara yang pernah dia pijak.

Dari 35 manusia di kelas 7, dan 35 manusia (dengan beberapa orang yang sama dengan yang saya kenal di kelas 7) di kelas 8, cuma dia, sahabat saya yang berani pedas terhadap Indonesia, tapi masih bisa melihat sisi baik Indonesia. Sisanya? Bahkan menghina negara ini sampah.

Ingin sekali gue melempar keras-keras buku Nasional.Is.Me ke wajah mereka sambil teriak “baca, hayati, resapi, sebelum kamu mengucapkan ucapanmu sendiri!”. Gue tahu diri, ini negara gue. Sudah ratusan kali gue mencoba kabur dari tanggung jawab. Masa bodo, Indonesia udah ancur, kalau cuma gue yang peduli, apa gunanya? Kalau cuma gue yang buang sampah di tempatnya, cuma gue yang baca Pancasila dengan lantang tanpa goyang kanan goyang kiri, mengamalkannya dengan sungguh-sungguh, tidak menambahkan ‘oe-oe’ atau ‘hasek hasek!’ di lagu kebangsaan yang kami nyanyikan sesaat sebelum berdoa penutup upacara seperti yang kakak kelas saya lakukan (rasanya kakak-kakak kelas bodoh ini perlu saya timpuk Nasional.Is.Me juga ya, biar greget?), apa gunanya kalau cuma saya yang peduli?

Tapi dengan sabar, sahabat saya ini mengingatkan saya. “Lo mau sampah-sampah lo ini berimbas ke anak-cucu lo nanti?” setiap saya buang sampah seenaknya. Saya pikir kalau saya buang sembarangan, pasti membantu para pemulung. Ternyata itu pemikiran bodoh.

Setelah membaca buku Nasional.Is.Me dalam bentuk eBook, sepertinya anggapan menyerah, kabur dari tanggung jawab dan tidak peduli itu hilang. Geregetan bacanya. Pengen banget bikin orang lain tahu kalau Indonesia masih punya kelebihan yang bisa dibanggakan. Makin geregetan pas ngelihat banyak yang komentar kalau om Pandji itu nasionalis musiman. Haha, emang anda sendiri sudah jadi seseorang yang membanggakan negara?

Lagu yang bener-bener pas menurut gue dipasangkan dengan buku ini adalah Lagu Melayu. Orang-orang–dan gue–cuma tahu Indonesia dari berita, cuma menuduh Indonesia macam-macam. Yang mereka tahu, pantai terindah cuma di Bali. Ya, Bali memang indah, tapi itu SALAH SATUNYA.

Indonesia sekarang, didominasi Korea dan Amerika (maaf-maaf untuk penggemar kedua negara itu atau–ehem, cuma–menggemari artis dari negara itu. Tapi saya ini kan bicara fakta🙂 ). Indonesia sudah jauh dari akarnya. Sedih, orang jadi malu mengaku mereka Melayu, ngakunya Melayu itu sama kayak Malaysia. Lantas kenapa? Kita kan memang serumpun?

Banyak detail yang benar-benar menggambarkan Indonesia. Bukan cuma positifnya, tapi membongkar negatifnya, untuk mengoreksi diri sebagai warga negara Indonesia. Proyek-proyek yang hanya bisa kita lakukan bersama, bukan individual. Sejak membaca buku ini, gue sadar kenapa seorang om Pandji berani bicara ‘Indonesia’, ternyata dia sudah tahu. Dia bukan hanya tahu tentang indahnya Indonesia, tapi KENAL luar-dalam negaranya sendiri.

Lewat buku ini, sepertinya akan ada lebih banyak lagi orang-orang dengan ransel yang kalau kita tanya, akan menjawab ‘saya mau keliling Indonesia, mau tahu tentang negara saya…’

Dan pastinya, akan ada gue diantaranya, pastinya setelah cukup umur, selesaikan sekolah, dan benar-benar kenal Indonesia.

(OKE STOP BACOT. LANGSUNG AJA GUYS DIUNDUH eBook Nasional.Is.Me-nya http://www.4shared.com/document/vGFAi4j-/NASIONALISME_versi_1.html)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s