Truth or Dare

Sesulit itu manusia menyatakan perasaannya. Sesulit itu orang mengatakan sesuatu yang mengambang di ujung lidah, namun mudah mengatakan ribuan hal yang sangat jauh dari ubun-ubun sendiri.

Sesulit itu, manusia melakukan hal yang semestinya dia lakukan sejak dulu. Hanya butuh 3 langkah, ulurkan tangan, genggam tangannya, jangan lepaskan. Sesulit itu.
Tapi semudah itu orang melakukan hal yang sesungguhnya tidak dia perlu untuk lakukan. Tak perlu dia lakukan hari ini, kalau bisa besok…

Tidak ada penundaan untuk hal yang satu ini. Penundaan hanya untuk orang bodoh.

Truth or Dare. Game itu, lama sekali terkenal.
Disaat permainan ini melejit di twitter. Semua orang berani memampang foto terjeknya, berani mengubah nama twitternya jadi : q0wH cYy4nK b9tH m4 Dy4,,,

Setelah itu? Memampang hashtag #dare

Mereka berani menulis “Aku cinta kamu @….” “gue suka sama lo @…”
Mereka berani menulis seribu satu alasan mengapa mereka menyukai pria yang saat ini mereka suka.

Setelah itu? Memampang hashtag #truth

Apalah arti sebuah penundaan? Tunda karena malu, tunda karena tidak percaya, tunda karena… kepengecutan hati yang tidak berani menerima resiko.

Aku sudah kehilangan. Kehilangan berkali-kali.

1) Ayah.

My beloved daddy–not corbuzier–harus pergi selamanya. Meski aku sudah berjuta kali #truth, mengatakan aku sayang padanya. Tapi aku tidak pernah #dare untuk mengatakan aku adalah anak terburuk di dunia.
Hilang sudah semuanya…

2) Oma.

Aku tidak pernah #truth ataupun #dare. Sama sekali tidak. Aku hanya bisa membebani seorang ibu janda (sebaiknya kita sebut janda mengingat status itu lebih indah ketimbang kita sebut dia punya suami, tapi tidak bisa apa-apa) yang baru saja kehilangan anak laki-laki kesayangannya. Dua tahun kemudian, dia menyusul ayahku. Tanpa sepatah #truth atau #dare dariku…

3) Ompung Doli

Bahasa batak untuk kakek, jangan mikir yang lain-lain lho.

Semua sudah kulakukan. #Truth #dare, semua sudah. Aku hanya merasa itu kurang. Kurang setimpal dengan yang dia lakukan.  Aku hanya belum lega. Tapi aku yakin dia tahu isi hatiku…

4) Gebetan’s

3 orang kubiarkan pergi tanpa sepatah #truth atau #dare.

a) teman sekelasku, aku suka dia sejak kelas 1 sampai 6. Orang bilang cinta anak SD hanya cinta monyet. Aku membenarkan ucapan mereka. Tapi, aku baru sadar 6 tahun menunggu itu tidak terdengar seperti monyet.

b) anak baru

Anak yang merusak semuanya. Musuh bubuyutanku. Brengsek, kataku. Kini dia sudah tidak bisa kulihat lagi. Dia berubah. Aku sudah #truth, mengatakan padanya. Tanpa #dare. Aku tak menjawab ajakannya…

3) *Pip*

Dia itu temanku di facebook. Dia benar-benar enak diajak ngobrol. Aku terhanyut dengannya, perasaannya saat suka pada teman satu grup kami. Aku benar-benar terhanyut sampai terbawa atas semua kemaksiatan dan kesalahannya. Aku ikuti semua tentangnya baik yang salah maupun tidak…
Sudah berkali-kali aku #truth. Semua berakhir dengan kata “sori becanda heehe”. Tidak pernah aku #dare. Dibalik “sori becanda”, kepalaku sakit bukan main. Sakit menunggu jawaban darinya. Hebat. Dia pergi, lupa padaku, aku yang menjauh sebenarnya. Akhirnya, kembali tanpa #truth atau #dare

Kini, aku sudah diambang kehilangan. Tapi entah mengapa aku ingin mundur saja.

Aku sudah benar-benar menyukainya. Kupikir aku tahu dia yang sebenarnya. Salah besar.
Ternyata dia seperti itu, bukan orang yang pantas dinanti.
Sudah berkali aku menulis, mencoba melupakan dia, fokus pada sekolahku. Sekarang aku benar-benar kecewa.

Tidak salah dia membenciku. Semua alasan mengapa dia membenciku, benar, tanpa ada kesalahan. Dia benar-benar tahu semua kesalahanku.

Disitu letaknya. Dia tahu semua, hanya mencari kesalahanku, selalu, tanpa bisa melihat sisi positif. Bahkan sisi positifku, yang kata orang, aku ini supel, dia sebut ‘tukang ikut campur dan sok akrab’. Sisi positif periangku dia sebut ‘ribut’. Betapa hebatnya si brengsek ini memodifikasi semua sisi baikku, melucuti dan mempermalukan diriku di matanya sendiri.

Silahkan. Silahkan lakukan sesukamu. Biarkan saja aku mencari seseorang, yang bisa melihat segala sesuatu dari sisi positif, namun memendam sisi negatifku, tapi mengingatkanku suatu hari, dengan caranya yang lebih terhormat, dan tidak pengecut sepertimu.

So, #Truth or #Dare?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s