Apa yang kubenci, dan kusukai

Aku suka sekali dengan bau stand burger. Menyebarkan bau daging dan mentega, serta gemericik lemak berkolesterol di atas penggorengan datar atau teflon miliknya.

Aku suka sekali bau hujan. Saat dia menyebarkan bau khas bercampur tanah, serasa aku ingin menarik napas sekuat mungkin, sampai mati, kalau bisa…

Aku suka sekali menonton TV pada tengah malam sampai pagi hari. Disanalah acara remeh dengan ratting rendah ditaruh. Tapi di balik ratting rendah itu, mereka lebih baik dari film kampungan jaman sekarang.

Aku suka mengetik naskah novel dari tengah malam sampai pagi. Ditemani jangkrik dan gesekan rumput, aku berkarya di atas angin malam.

Aku suka moccachinno, latte, dan white coffee, menemaniku mengetik naskah pada tengah malam, menjagaku agar tidak menutup mata dan kehilangan ribuan inspirasi yang berterbangan di sekitar kepalaku.

Aku suka menonton Stand Up Comedy.
Live di kafe atau event tertentu maupun hanya siaran di TV. Membuatku tertawa tanpa kehilangan norma dan akal sehatku, tanpa melukai siapapun dengan menghina fisik secara langsung.

Aku suka membaca buku komedi. Celetukan yang mereka tulis di atas kertas tanpa menjauh dari norma-norma penulisan, tanpa kehilangan selera humor meski dia melawak diatas kertas tanpa terucap. Meski aku harus memperagakan dan membayangkan adegan lucu itu karena tidak ada ilustrasi atau peragaan di dalamnya.

Aku suka mendengar siaran pagi hari. Berita yang masih sangat baru, apalagi jika dibawakan oleh duo penyiar yang mungkin hidup damai tanpa pertengkaran, dan bahkan tidak berkelahi meski mereka saling menghina saat sedang siaran.

Aku suka menonton kartun pagi.
Crayon Shinchan, Doraemon, Spongebob Squarepants, Avatar…
Sambil ditemani teh manis dan risoles keju dan mayonaise serta martabak tahu yang masih panas.

Aku suka sekali Bandung dan Puncak.
Duduk di teras pagi buta, menghirup udaranya sambil jogging, ditemani suara burung bersahutan. Siang harinya, disuguhi cwankie panas dengan sambal hijaunya yang sangat pedas.

Tapi, yang paling kusukai…
Bila semua itu dilengkapi oleh dia…

Sayang sekali, umurku tak cukup, tak pantas bicara cinta. Hanya bisa menggigit bantal setiap ingat mimpiku malam ini.
Aku duduk dengannya di dalam sebuah angkot.
Meski di sebuah angkutan terbuka, dan bau keringat serta pengap…

Aku tidur dan bersandar di bahunya yang tanggung. Belum tegap layaknya orang dewasa, tapi tidak lemah seperti bahuku.
Tanganku terkulai di bawah bangku, bersentuhan dengan tangannya.
Inginnya tak berakhir, tapi waktulah yang membangunkan aku dari mimpi muluk itu.

Dan aku suka, kalau tidak ada kata perpisahan.
Meski aku benci, karena kata-kata “suka” harus tertahan di ujung lidahku, bagian perasa manis.

Aku suka matamu yang menatap tajam penuh rasa keingintahuan.
Aku suka rambutmu yang semak, dan berantakan.
Aku suka saat kamu memakai baju hari senin tanpa rompi, baju hari jumat yang mirip seragam sekolah Jepang.

Aku suka saat kamu menyeringai “bener kan omongan gue? Pasti begitu!”

Aku suka sekali saat kamu mencolek lenganku, aku suka sekali saat kamu menepuk pundakku, aku suka sekali saat kamu menyuruhku memegang lenganmu yang mulai berotot karena sering main bulutangkis, meski aku benci cowok berotot. Aku suka saat kamu meminjam bolpoin, komik, handphone dan novelku. Aku tidak akan pernah mau mandi, ataupun cuci tangan. Aku hanya menggosokkan bekas sentuhanmu dari tangan atau barangku ke pipiku sambil menggumam “bekas dia… bekas diaa… jangan ilang hel!”.

Tapi di dunia ini, ada juga punya hal yang kubenci.

Aku benci suara tukang mie ayam, meski aku suka barang dagangannya. Dia mengetuk sebuah batang kayu besar, untuk menarik perhatian manusia-manusia lapar di dunia ini. Entah mungkin hanya sekedar menggugah orang-orang kere yang lapar dengan uap dari pancinya, entahlah. Dia yang tahu itu…

Aku benci musik hardcore.
Dia memaksa masuk ke telingaku, merobek gendang telingaku, dan merusak sistim pendengaranku dengan pekikan demi pekikan yang mirip elang dalam film laga.

Aku benci kemarau panjang.
Membuatku sempoyongan saat siang hari karena sinarnya menusuk kepalaku sampai sakit sekali.

Aku benci sekali pada perkelahian di dunia maya.
Sulit membedakan nada bicara, sulit mendeteksi kejujuran, apalagi jika kau terbatas dalam 140 karakter, sementara masalahmu perlu 1001 karakter untuk menyelesaikannya.

Aku benci kalau acara Stand Up Comedy kesukaanku tertunda breaking news, ditimpali dengan iklan minuman-dari-air-kelapa-asli. Membuat waktuku terbuang 3-4 menit.

Aku benci kalau abang bakso tidak memiliki saus yang asam yang berwarna merah terang, mengarah ke oranye. Dia hanya punya yang warna merah tua dan terasa manis sekali. Apalagi kalau dia menambah kecap, dan menaruh seledri yang menganggu di bakso yang seharusnya enak.

Tapi aku benci… Paling benci…

Saat kamu memicingkan matamu dan mengibaskan tanganmu sambil berkata “minggir, gue mau lewat!”

Saat kamu menghardikku “berisik lo!” sambil berdecak dan menatapku kesal. Aku hanya bisa merinding. Tatapan manismu hilang.

Saat kamu tidak menjawab pertanyaanku, dan mengeluarkan muka acuh tak acuh “apaan sih?” gumammu sambil berlalu. Pertanyaanku menggantung begitu saja. Tanpa jawaban darimu.

Saat kamu memakai kacamata hitam culunmu itu. Saat kamu berbicara di depan kelas, tanpa berhenti menggerakkan tangan dan kakimu. Tidak bisa diam sama sekali.

Saat kamu mengatakan hal pesimis untuk mematahkan optimisme dariku, yang ternyata terlalu mengawang-awang dan jauh dari realita. Kamu membenarkannya, meluruskannya. Tapi aku hanya bisa menunduk.
Kamu baru saja meluruskan, kalau aku tidak akan pernah bisa bersamamu selamanya, kamu tak menyukaiku.

Saat kamu memotong ucapanku, saat kamu menghentakkan kaki, protes karena kamu tak punya kesempatan berbicara.

Saat kamu menggunting rambutmu yang berdiri tanpa sengaja pada bagian belakang. Rambutmu yang semak dan berantakan saat kamu lelah. Kau memotongnya jadi pendek.

Seandainya, aku bisa mencintai kekuranganmu.

Aku bisa mencintai caramu menghardikku, caramu memicingkan mata, caramu melengos dan tidak menjawabku, caramu menggerakkan kaki dan tanganmu tanpa henti, caramu memakai kacamata culunmu, caramu berbicara realistis meski sadis, caramu memotong ucapanku, gaya rambut barumu, dan semua kekuranganmu.

Seandainya orang bertanya “lo benci gak sih sama dia?”…
Aku tidak mau menjawab.
Tak ada kombinasi cinta dan benci di dunia ini…
Aku memang tak tahu apa aku benar suka padamu atau tidak.

Tapi, kalau hatiku sudah kau curi… Artinya aku suka kan ya sama kamu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s