Puisi saat batre kedap-kedip

Tentang kamu…

Sepi, malam ini sepi…

Aku teringat sepi yang dahulu.
Puncak.
Saksi hati dan perasaanku.
Dinginnya gunung, jadi sama rata dengan dinginnya hatiku.
Dari dalam bus, aku melihat ke luar jendela.
Hanya kamuflase belaka.
Aku melihat pantulan dirimu, di kaca.

Sesampainya disana,
Aku disambut namamu.
Tepat di sebelah villa yang kutempati, bersama kamu, dan 20an orang lainnya…
Ada villa dengan namamu.
Namamu.
Di sebelahku, sahabatku sibuk mendengar lagunya.
Lagunya dan pria yang dia suka hingga kini, namun dia memaksa untuk melupakannya.
Aku memandangi plang kayu yang diayun angin sore.
Namamu. Itu namamu.

Sehari semalam dihabiskan bersamamu.
Terjebak dalam tubuh anak kelas 6 SD, dengan jiwa ringkih yang tak sesuai dengan umurnya.

Aku bukan Shinichi Kudo, yang mengecil karena obat.
Aku tetap aku.
Hanya jiwaku yang terlalu dewasa, untuk merasakan cinta itu.

Aku mendongak ke bawah.
Kamu dan topimu.
Bermain… kartu.
Tawa menggema malam itu.
Ingin bergabung, tapi malu.

Beberapa jam lalu, kami berkumpul bersama.
Aku ditantang menari.
Fine, siapa takut?

Menarikan tarian bersemangat, dengan hati pedih. Kamu tak menoleh.
Aku menunjukmu saat ada lirik ‘you’, atau ‘kamu’, atau apalah, aku lupa.
Kamu tak menoleh, teman-teman pun tidak ngeh.

Beberapa jam kemudian, aku duduk sendiri.
Meratapi langit malam di Puncak.
“Kamu ngapain! Sini gabung sama kita aja! Nanti diculik lagi!”
Aku menolak halus ajakan itu.
Guru-guru kembali ngobrol setelah aku menolak ajakan mereka.

Waktu tidak pantas untuk diperdebatkan.
Waktu bukan penyebab segalanya.
Tapi keadaan… Yang membuat segalanya seperti ini.

Foto itu masih ada.
Di handphone ibuku.
Bukan, bukannya aku masih mencintaimu…
Aku tak bisa menghapusnya.
Handphone itu rusak.
Serusak hatiku.

Tak ada kata, sampai kelulusan.
Tak ada kata, sampai terakhir aku datang ke sekolahmu, yang berdempet dengan SD kita dulu.

Kita…
Tak ada kata kita…

Dulu, ada kata kita…
Dulu, pernah ada.
Tapi itu, dulu…

Saat aku masih sangat ingat.
Saat aku belum lupa.
Bagaimana aku berlari, ke rumah temanku.
Bagaimana aku yang pengecut, berlari. Saat kamu hampir tahu kenyataan itu.

Bagaimana aku berlari.
Dari kenyataan.

Tapi, aku masih ingat betul.
Debaran itu…
Tawa itu…
Dorongan itu…

Aku masih ingat.
Bagaimana sepatu converse all star milikmu terlihat dari bawah pagar.
Aku langsung kabur.
Tak berani menatapmu.
Padahal aku datang ke sekolah pagi buta, demi melihat converse all star dari bawah pagar.

Aku masih ingat.
Aku berdiri di bangku panjang.
Melantangkan suaraku…
Meneriakkan “Dina Pake Tanktop”-ku tanpa rasa malu.
Disaksikan ratusan siswa.
Kecuali kamu…

Aku masih ingat.
Saat dimana aku memakimu.
Saat dimana kamu, si tengil dari sekolah lain, berani sok kuasa di sekolah baru.
Akulah penguasanya, dulu…

Disaksikan oleh detakan jam dinding.
Disaksikan oleh tiupan kipas angin.
Disaksikan oleh desiran angin malam yang menggesek rumput di kebun sebelah.
Disaksikan orkestra jangkrik.
Disaksikan oleh baterai Samsung Galaxy Mini yang berdetak sekarat.

Aku mengetik ini…

Aku tak pernah lupa…
Tak akan lupa…
Tak pernah bisa lupa…

Gaya tulisanmu…
Caramu menyapaku yang angkuh dan penuh gengsi…

Bahkan yang sulit kulupa…
Masih sulit kulupa…
Caramu mengatakan kata itu.
Meski kasar, tapi berhasil membuat aku meledak.

“Ya, mau gak jadi pacar w?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s