Perkembangan Stand Up Comedy Indonesia di Mata Sang Bocah Umur 13 tahun

Gue cinta mati sama komedi.

Sejak dulu, gue suka film komedi. Alasan kedua mengapa gue suka film kungfu yang dibintangin Jackie Chan, karena lucu. Kecuali The Karate Kid, itu ga lucu… Seriously, sebagai Jackielicious *anti-mainstream(?)* gue kecewa. Tapi disana, sifat ngetrollnya om Jackie gak ngilang😄

Indonesia, adalah negara yang selalu melahap tren baru.

Gak heran kalau tren boyband-girlband cepat merambah di Indonesia.
Gak heran iPhone segitu mahal, semua orang rela kredit demi dibilang keren.
Gak heran, artis siapa aja, mau kenal mau enggak, dateng ke Indonesia, orang berani jual kutang demi nonton mereka. Asal dibilang keren, orang Indonesia udah bangga.

Yang gue heran…

Stand Up Comedy, bukan tren yang benar-benar baru.
Om Ramon Papana dan teman-temannya udah lama mengenalkan Stand Up Comedy ke rakyat Indonesia. Tahun 90-an udah mulai, lho!
Tapi puncaknya Stand Up Comedy adalah tahun 2011. What the…?

Gue baru sadar.
Orang Indonesia, mengikuti tren dengan cara ‘cetek’. Yaitu untuk mencapai pangkat ‘beken’, ‘keren’, ‘asik’.

Stand Up Comedy bisa dibilang sebagai konsumsi umum. Kecuali, kalau udah ngomongin hal-hal 18+. Tapi biasanya disensor kok kalau yang di TV🙂 kalau di channel standupcomedyindo, gak kesensor. Karena itu rekaman pas comic-comic lagi standup di kafe atau event tertentu. Jadi, untuk 18-, lebih selektif lagi saat menonton video Stand Up Comedy, ya? (ngajarin diri sendiri).

Saat ini, yang nayangin Stand Up Comedy, cuma Kompas TV, dan Metro TV.
Jujur, Metro TV belum total.
Acara Stand Up Comedy di Metro TV sulit dijangkau.
Jam 10.30, durasi setengah jam.

Agak kecewa, dikit… Soalnya gue kan manusia kalong. Jagonya begadang, jagonya tidur di kelas.

Kompas TV justru agak total.
Acara Stand Up Comedy di Kompas TV itu banyak. Ada juga yang bukan bener-bener acara Stand Up Comedy, tapi semacam acara komedi yang pemainnya adalah comic. Kayak Indonesia Harus Bercanda sama Komedi Spesial.

Yang gue sayangkan adalah soal Kompas TV-nya.

Banyak temen-temen gue, yang gue mintai bantuan untuk riset gue(bikin entry gini aja sok riset… -_-). Gue minta mereka cari, ada gak Kompas TV di rumah mereka.

Cuma sekitar 10 siswa dari 35 orang di kelas gue yang punya. Belum gue riset cowok-cowok yg agak ‘anti’ sama gue.

Gimana Stand Up Comedy mau maju?

Ini tren luar lho, guys. Hanya saja, yang membedakan SUCI dngan negara lain adalah jati diri.
Gaya dan cara komedian kita bekerja, pasti beda dari komedian negara lain. Itulah yang membuat gue bangga sama negara ini.

Tapi lama-lama, menyadari bahwa di Indonesia, yang tidak abadi, selain kedamaian, kepintaran dan janji pemerintah dan ‘jakarta-gak-macet’, adalah tren.
Gue mulai anti untuk bilang Stand Up Comedy adalah sebuah tren. Gue gak mau ini musnah.

Kenapa sih, bocah 13 tahun, ingusan ini, mau aja ngebela mati-matian Stand Up Comedy?

Jawabannya, gue muak sama cara orang Indonesia berkomedi.

Mereka punya bakat lawak yang baik. Mereka punya persona yang kuat. Tapi script, pekerjaan, dan rendahnya selera komedi orang Indonesia, menghancurkan bakat mereka.

Contoh deketnya aja, acara ‘masak-air-biar-mateng-abis-itu-masukin-indomi’.
Gue kagum loh sama Opie Kumis. Dia pintar menyesuaikan diri dengan keadaan, membalikkan keadaan, melempar jokes balik, dan membangun chemistry dengan komedian, maupun bintang tamu.

Tapi, elitnya om Opie ini hilang, saat rendahnya selera komedi orang Indonesia memaksa dia untuk menghina orang dan menaburkan bedak diatas kepala orang itu.

Apa yang membuat gue tahu, kalau selera orang Indonesia itu rendah?

Orang Indonesia suka melihat orang menderita.

Kenapa orang Indonesia seneng OVJ?
Bukan karena om-om dan tante wayang ini lucu. Mungkin.
Tapi karena lucu aja, ngeliat orang ‘bego’, ngejatohin diri ke gabus, kadang disengaja.

Oh, jadi terancam lumpuh karena tulang ekor retak itu lucu ya, Indonesia? Kalau mereka kenapa-kenapa, lucu?
Udah cukup deh ngeliat Om Andre Taulany urat perutnya terkilir karena salto, beberapa tahun lalu.

Gue cuma pengen, dengan adanya Stand Up Comedy, orang Indonesia bisa lebih cerdas.
Komedi yang menambah ilmu, tapi tidak perlu membuat kita memutar otak lebih keras.

Faktor kedua mengapa Stand Up Comedy gak berkembang, karena orang Indonesia gampang banget tersinggung.

Contoh nyata lagi, ya.

Gue udah menonton banyak video Stand Up Comedy di YouTube.

Ambil aja contohnya, Om Mongol.

Di buku Kitab SUCI, karangan Om Ramon, tertulis bahwa kita gak boleh(atau lebih tepatnya, tidak disarankan) membawakan jokes tentang suku, ras, atau agama lain, kalau itu bukan suku, ras, atau agama kita sendiri.

Kalau di luar negeri, itu wajar. Mereka itu bisa tertawa meski ras mereka dihina. Tergantung juga sih, apa emang dari nenek moyangnya gak ada ajaran ‘bacok-manusia-yang-menghina-bangsa-kita’.

Di video Om Mongol, gue mangap.
Bukan cuma karena komentar positif dari orang-orang yg begitu banyak, tapi juga komentar negatif.

Om Mongol ini Manado, dan Kristen.

Orang-orang non-kristen banyak yang protes:

“Selalu ngebahas soal agamanya. Apaan sih, nih orang?”

“SARA mulu nih orang, bacot.”

Yang paling bikin gue terpingkal-pingkal adalah ini:

orang Manado marah karena Om Mongol ngebawain Jokes soal orang Manado

Fak men…

Ini sesama Manado aja tersinggung. Apalagi kalau Om Mongol udah bawain soal suku lain, meski cuma nyinggung?

Pantes, Indonesia lebih suka ngeliat orang-orang gak berdosa mandi bedak sama jatoh-jatohan di gabus…

Ini cuma komedi. Kalau lo bilang ke gue “jatoh ke gabus dan nabur bedak kan cuma komedi!”
Lho, itu juga komedi!

Masa sih, Om Mongol tega menghina sukunya sendiri, kalau bukan untuk menghibur kita?

Coba cek comic lain, deh. Mereka mau aja beberin aib mereka, demi membuat setup dan punch yang unik, untuk mengundang tawa kalian.

Gue juga meriset. Kenapa komedian Indonesia, gak mau jadi comic?

Ternyata, karena Stand Up Comedy, tidak seterkenal acara dia saat ini.
Kalau dia mundur dari pekerjaannya sekarang, yang adalah ‘smart-comedy’, sama aja dia melecehkan pekerjaan dia dahulu kan? Lagipula, saat ini(gue percaya cuma saat ini, kedepannya, gak akan gini lagi. Amin!) Stand Up Comedy bukanlah lahan pekerjaan yang menjanjikan. Pekerjaan mereka sebagai komedian di acara-acara tersebut, gaji dan ratting-nya lebih lebih tinggi.

Gak, gak bisa gini.

Acara-acara penyiksaan diri sendiri ini bukan cuma merusak moral bangsa, tapi juga mental komedian itu.

Untung, gue lihat OVJ udh mengurangi adegan jatoh-jatohan di gabus dan gebuk-gebukan property :’) Gue gak mau sampe ada korban, apalagi kalau korbannya komedian favorit gue.

Komedi-menyiksa-diri-sendiri itu udah jadi masa lalu dan udah lumayan basi di luar negeri.

Masa di Indonesia, malah jadi tren terbaru?

Bukannya ini jadi ajang balapan tren antar negara.

Bukan berarti kita harus seperti luar negeri.

Tapi setidaknya, siapa sih yang gak mau negaranya maju, sejajar, atau lebih dari negara lain?

Gue gak sepinter comic-comic di TV. Tapi setidaknya, kecintaan terhadap negara ini, udah cukup.
Dan tertawaan dari temen-temen dan comedy buddy gue di kelas juga udah cukup kok😀

Gue Rachel, dan gue mau Stand Up Comedy bertumbuh di Indonesia. Bukan sebagai budaya dari luar negeri, tapi sebagai budaya kita sendiri. Budaya, tentang betapa pintarnya orang Indonesia berkomedi, tanpa harus menyinggung orang lain.

#VivaLaKomtung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s