First Day in ‘Padus’

Hari ini. Gue resmi anak padus.
Paduan suara maksudnya, hehe😀
Disana, atmosfirnya beda banget sama padus SD. Di SD, guru gue lebih menekankan pengajaran pada perorangan. Disini, semua harus kompak!

No improv. Mampus.

Gue, yang suka lupa lirik, cinta mati sama improv. Kalau gue lupa lirik? Gimana dund?
Itulah enaknya padus. Sebagai ganti dari improv, gue bisa mangap-mangap asal. Suara gue kan ketutupan yang lain.

Beda halnya dengan lomba. *Backsound petir dan biola [ngik, ngik, ngik, ngik!]*
Jurinya bener-bener detail. Kalau dapet yang detail lho…
Bisa dilihat sampe ke orang yang gak penting sekalipun.
Ga bisa mangap-mangap, ga bisa improv. Habislah.

Keputusan ikut padus gue ambil karena mau pulang sore. Gue males di rumah, planga plongo, ongkang-ongkang kaki. Mentok-mentok disuruh bantu orang tua.
Males gue.
Nyokap adalah orang perfeksionis, yang kalau kita salah dikit, dia pasti merutuk dengan gaya nyebelin. Ga tau terimakasih pula…
Udahlah, kembali ke topik. Ntar dikutuk gue jadi batu…

Pengamatan gue.

Paduan Suara, itu satu suara. No improv, no mendayu. Harus serempak, sama, ga digaya-gayain.
Jalan pikiran kita pasti akan sama juga dong, otomatis?

Jalan pikiran.

Barusan gue ngejar kucing. Ya, tertawalah sepuas kalian.
Kucing itu, gue deketin dengan penuh kasih sayang. Tapi apa balasanmu, Cing?
Dia ngibrit, dan ngumpet.
Entah ibunya sudah menatar dia dengan “jangan mau deket-deket manusia. Nanti whiskas kamu dicolong!”

Kayaknya enggak deh.

Kucing ini, tinggal bersama ibu dan adik-adik kembarnya di sekolah gue.
Mungkin dia pernah ditendang, dikasarin, atau diajak by one PB lalu kalah(?) sama anak-anak di sekolah gue. Dia trauma.

Di otaknya terekam:

Manusia itu jahat.

Makanya, saat dia ketemu manusia, dia akan merespon dengan kabur, kaget, menggeretak(bulu naik semua, cakar keluar semua, terus mendesis garang…) dan lainnya.

Sama halnya dengan manusia.
Tadi kita latihan lagu Hymne Guru dan Mengheningkan Cipta.
Waw, imposibru! Kita ini suaranya udah bagus. Kok ngulang mulu? Ini lagu udah dari SD, woy!

Sekali lagi, pikiran manusia, sama kayak kucing tadi.

Dari SD, kita udah salah.

“bela nusa bangsa…”

Bagian itu kita ulang terus… lagi… lagi… sampai gak ada artinya lagi *niru Kambingjantan The Movie*

Kenapa?

Karena di bagian itu, kita udah salah not dari SD. Harusnya itu ‘fa’, malah jadi kemana-mana.

Lagi-lagi, faktor kekompakan.
Gue udah berkali-kali bener di bagian itu. Lantas, apa?

Anak lain, salah.

Kekompakan menuntut kita untuk tetap menanti sampai semuanya sama, ga pernah salah, dan serempak.

Karena, satu. Kita paduan suara.
Dua. Itu bisa ngaruh ke anak lain. Yang tadi udh bener, jadi anjlok karena dengerin temennya salah.

Akhirnya, hari ini gue ‘ngeh’.

Selama ini, job paduan suara setiap ada kelas yang bertugas, adalah job buangan.

Padahal. Ini. Lagu. Nasional. Lagu. Kebangsaan. Kita!

Ga akan sama dengan lo nyanyi pacar lima langkah, keong racun, love is you… bla… bla…

Ada undang-undang yang mengatur ini semua.

Sekarang, ada anak bersuara jelek dan benci nyanyi, ditempatin jadi padus.

Di sekolah gue, padus dicampur anak2 sisaan yg ga dapet tugas.

Kami berlatih maksimal. Tapi apa yang terjadi? Anak-anak ‘buangan’ barusan merusak vokal kami.

Mereka pasti punya bakat.
Paskibra kek.
Baca UUD kek.
Pemimpin Barisan kek.

Dari situ gue belajar.
Se-remeh apapun hal remeh, pasti ada kesulitan dibaliknya.

Pulang, udah ujan aja.
Oke, diiringin sama ujan ini, biarlah harapan gue hanyut dan bisa terbawa ke semua orang.
Hal yang kamu remehkan, belum tentu remeh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s