Little Stalker Behind the Window

Angin berhembus perlahan menerobos jendela kecil itu. Aku masih terpaku memandangi dirinya yang mengangkat benda kubus berwarna coklat itu.
    Dia melihat ke arah jendela. Dia menyadari aku memperhatikannya. Aku melakukan manuver cepat, sok baca komik di pinggir jendela. Kan gengsi juga aku… Kalau ketahuan melihat dia.
    Aku kembali memperhatikannya sambil sesekali tetap melirik komik yang kubaca. Sialan, aku salah ambil. Tepatnya sih bukan salah… Tapi komik yang kuambil ini tidak tepat situasinya.
    Komik ini isinya tentang cewek yang baru mengenal seorang cowok di sebelah rumahnya, dan langsung jatuh cinta. Pada akhirnya, mereka jadian. Romantis sekali jalan ceritanya.
    Aku tersindir.
    Dia sudah masuk ke rumahnya. Aku masih memperhatikannya dari jendela. Aaah, mana sih keberanianmu sebagai ketua kelas, hah?
    Aku menutup komik yang kugunakan sebagai kamuflase, merebahkan badanku di tempat tidur yang kududuki dari tadi. Letaknya memang di dekat jendela. Aku tinggal merubah posisi jadi rebah, dan aku terlelap.

***

    Sepertinya dia sudah selesai. Berarti rumahnya tinggal dirapihkan, lalu bisa ditempati. Berapa lama sih aku tertidur?
    Aku menuruni tangga, sampai ke ruang tamu. Jendela ini aksesnya lebih dekat daripada jendela kamarku di lantai 2. Dia masih menyapu halaman rumah barunya itu dengan lembut, namun tetap terlihat sisi pria-nya.
    Aku agak takut. Tapi aku sudah tidak sanggup. Aku harus mendekat!
    Aku memegang gagang pintu itu. Udara Puncak yang dingin membuat gagang besi ini terasa dingin. Aku menggerakkannya sedikit.
    Aku memulai langkah pertamaku. Wah, sudah berapa lama sih, aku tertidur? Langit di atas kepalaku mulai gelap, dan udara makin dingin.
    Rumah kami sama-sama tak berpagar. Ide bagus untuk semakin dekat. Tapi ide bodoh untuk membuat diriku mudah terlihat.
    Aku bersembunyi dibalik pillar di depan rumahnya. Dia masih menyapu halamannya dengan perlahan. Di dadaku, seperti ada yang meledak.
    Terdengar suara mengeong yang lembut dan manja. Di kakiku sudah ada mahluk kecil berbulu lebat dan gendut.
    Aku menjerit, dia berlari. Tak kusangka seseram itu teriakanku.
    Kepalaku terangkat, dan… Apa? Hilang? Kemana sih cowok itu?
    “Ngapain lo disitu?”
    Mampus.
    “Takut kucing ya?”
    Aku mengangguk malu.
    “Sori, cuma…”
    “Pengen kenalan sama tetangga baru?”
    Aku mendongak. Mind reader yang bagus, kawan.
    “Nama gue Bimo…”
    Uluran tangan itu kusambut dengan malu.
    Kira-kira kelanjutan ceritaku sama tidak ya dengan komik yang kubaca… Saat bersembunyi darinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s