Nampak Ganjil

Blog gue masih rame banget, sama postingan tentang SMASH dan beberapa postingan lain yang agak fenomenal.

Gue kasar banget, gue ngaku gue salah. Sekarang gue masa bodo sama smash dan yang lainnya, gue ngerti mereka nyari duit, mereka punya kelebihan yang mungkin gue gak punya (dan sebaliknya :p be positive!), dan mereka gak seperti yang kita lihat.

Btw maaf kalau beberapa tulisan gue selama ini nyakitin, gue gak bermaksud kabur dengan gak mainin blog ini lagi, tapi notif masih gue buka tapi gue jujur males banget jawabin komentar smashblast. Come on, kalian gak tahu apa yang gue maksud. Lagipun gue udah bikin post baru yang sama sekali kalian gak baca, dan kalian masih marah-marah sama gue.

Blog gue pindah ke: http://reicherudesu.blogspot.com dan twitter gue di @Cherudesu.

Makasih yang udah merasa tulisan gue bermanfaat, maaf yang merasa tertohok.

But I never runaway… I’m still here. I just moving. Thanks :)

Pindah!

Saya pindah! Saya bakalan jarang banget pake blog ini dan akan pake http://cherudesu.blogspot.com :) twitter saya juga bagi yang gak tahu udah bukan @chellemmanuella lagi, tapi @cherudesu jadi kalau ada yang mau nyari saya, rumah baru saya ada di:

 

http://cherudesu.blogspot.com dan @cherudesu

 

Blog ini gak akan ditutup, karena ada banyak kenangan indah yang masih mau saya simpan disini :3

 

see you guys later, in the new world, of course :)

 

Ka-chow!

 

Gambar

Salam perpisahan dari dua sahabat unyu-unyu ini :3

 

What Do I Learn In…? Essay Contest

Pertama, saya mau mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Maaf kalau saya ada salah kata atau perilaku J

Kali ini, saya mau mengadakan sebuah lomba menulis esai untuk kalian semua dalam rangka ulang tahun blog saya yang pertama (17 Agustus 2012-17 Agustus 2013). Temanya adalah: “What Do I Learn In…?”. Gak jauh-jauh dari tema tulisan blog saya sebelumnya. Soalnya saya pribadi kepo, apa ada juga orang yang diam-diam belajar atau berkembang selama kurun waktu tertentu.

Jadi kalian silahkan menuliskan apa yang kalian pelajari atau perubahan apa yang kalian alami dalam kurun waktu tertentu. Harus pengalaman nyata.

Karena ini lomba esai blog, jadi karya tulis hanya saya terima dalam bentuk blogpost. Diposting di blog masing-masing dan untuk masalah minjem blog teman, saya gak melarang tapi gak saya sarankan, karena nanti banyak prosedur yang jadi rumit dan njelimet (seandainya temennya minta bagi dua hadiah atau apa gitu).

Judul entry harus diawali dengan “What Do I You Learn In…(isi dengan waktu sesuai tema tulisan kalian): …(isi dengan sub judul sesuai kreasi kalian)”

Contoh: “What Do I Learn In 1 Year: Bagaimana Seorang Anak SMP Berkembang Dalam 365 Hari”

Keunikan kalian dalam mengisi … dalam “What Do I Learn In…” juga termasuk dalam penilaian. Dibuat rumit, dibuat aneh, dibuat njelimet… terserah aja. Yang penting masih dalam konteks yang menunjukkan kurun waktu. Contohnya kayak: “What Do I Learn In 1 Hour 25 Minutes 3 Second: About Why The Time’s So Expensive”. Sub judul gak harus bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Kalau mau pake bahasa lain, tolong tulis terjemahan atau artinya.

Penilaian ditentukan oleh saya. Saya bakal mencoba seobyektif mungkin (abis saya gak menemukan juri yang mau bantu saya dan gak terlalu akrab sama saya). Tulisan dinilai dari kerapihan, penggunaan kata, kejelasan alur cerita dan kemenarikan alur cerita (sedikit tips, cerita yang menarik tidak harus menggelegar. Tergantung dari cara penulisan seseorang, cerita bisa jadi begitu menarik untuk dibaca jadi gak usah minder kalau cuma cerita soal libur lebaran).

Oh iya, di bawah postingan kalian, harap lampirkan URL entry ini dengan beberapa kalimat promosi dari kalian (apa aja bebas hehe J contoh: “posting ini sedang mengikuti lomba di http://rachelemmanuela.wordpress.com/ kalian juga ikutan ya, coba aja kalahin gue kalau bisa :p” gitu) dan promosikan lomba ini ke satu social media yang kalian punya dan cukup satu kali promosi saja, kasihan orang lain takut kena spamming dan terganggu. Bagian yang ini harus dilakukan. Gak ada salahnya punya pesaing, justru kita malah makin hebat kalau punya pesaing. Semakin ditempa semakin kece B)

Oh, untuk yang promosi ke facebook dan promosi ke group komunitas blog seperti Kancut Keblenger, saya sarankan untuk gak promosi di satu group dimana orang udah banyak promosi hal yang sama juga. Takutnya anda kena, saya juga kena. Kasihan juga, pada kena spam.

Setelah tulisan sudah dipublikasikan, harap kirim email konfirmasi ke rachel_emanuella@yahoo.com (beda provider tetep bisa kirim ke saya, FYI aja bagi yang newbie) dengan isi:

Nama:

Alamat Blog:

URL Entry:

Username twitter atau URL facebook (dua-duanya boleh):

URL posting atau tweet promosi lomba:

Kalau lupa password email, kirim lewat inbox facebook juga boleh. Silahkan kirim ke http://www.facebook.com/littlechel9494 (oke dulu saya alay dengan nulis ‘Gaga’ dengan 9494. Maafin saya, si bocah bau kencur ini, Little Monster’s). Gak harus di follow karena FB saya seingat saya, FB saya gak dikunci untuk inbox dari user yang bukan temen. Dan kalau memang sekarang inbox harus follow dulu, sebaiknya comment dibawah sini, apa nama facebook kalian. Soalnya banyak orang gak dikenal dan mencurigakan akhir-akhir ini. Hontouni gomenasai hehe…

Pemenangnya ada dua:

Juara utama, dan Juara Favorit.

Juara utama adalah juara yang tulisannya memenuhi kriteria penilaian, sementara juara favorit itu yang ceritanya saya suka, tapi gak memenuhi kriteria penilaian. Mau dibilang juara 2 juga boleh, terserah bagaimana nyamannya kita aja.

Juara utama mendapatkan 50.000 berupa pulsa voucher all operator (makanya nanti pemenang harus konfirmasi ulang sama saya), juara favorit mendapatkan 10.000 pulsa all operator.

Kalau mau elektrik, terserah pemenangnya. Tapi ada beberapa orang yang tidak nyaman mengekspos nomor Hpnya ke orang di dunia maya kan?

Mungkin aja lomba ini bakal agak gak adil karena dinilai dengan IQ anak SMP, tapi setidaknya… saya akan memilih pemenang yang membuat saya kagum. Dan jangan remehkan saya, karena saya bukan anak umur 5 tahun yang mudah kagum J tidak lagi.

Lomba dimulai dari tanggal postingan ini diterbitkan, sampai tanggal 1 September.

“Kenapa lama amat? Cepetin dikit napa!”

Alasan saya:

1. Sabar itu membuahkan hasil.

2. Saya bukan orang yang mudah puas. Saya mau lihat banyak tulisan dari orang yang macam-macam.

3. Saya juga harus nabung jajan untuk hadiahnya ._.v soalnya saya suka bongkar celengan setiap digodain sama bau kuah bakso yang lewat.

Jadi, bagi kawan-kawan bloggers, selamat menulis J

P.S : Yang mau bertanya silahkan comment di bawah. Maaf kalau hadiahnya terlalu kecil atau sederhana sementara kriterianya berlebihan ._. Dan menurut saya sebaiknya kalian menulisnya secara senang-senang aja, kayak pas lagi nulis blog tanpa ikut lomba, biar gak terlalu terbeban dan jadi kompetitif J

Waktu Yang Hambar: Sebuah Introspeksi Setahunan

(Postingan ini 70% curcol. Selamatkan diri kalian sebelum kalian terlambat)

Waktu itu kayak lidah yang habis nelen air mendidih. Hambar.

Ya, waktu yang hambar. Gak terasa apa-apa.

Tapi kadang, ada saat dimana lidah jadi peka karena gak ada air panas.

Air panas itu menurut saya perasaan bahagia, perasaan senang dan perasaan nyaman. Waktu jadi terasa seperti cepat sekali dan rasanya kayak dicubit waria. Benar, gak terasa apa-apa. Paling geli dikit.

Sementara ketika kita bisa merasakan waktu, tandanya kita sedang sembuh dari rasa hambar akibat air panas. Kita jadi peka terhadap rasa sakit, rasa berdebar dan rasa penasaran. Rasanya ketika kita merasakan tiga hal itu, kayak dicubit Ade Rai. Kulitnya sakit, tulangnya ikut kecabut.

Peka terhadap waktu gak selamanya jelek. Contohnya aja ketika kita sedang berdebar dan penasaran. Seperti pas kita menunggu kencan, menunggu hasil UN, menunggu hari ulang tahun…

Ketika kita sudah mengalaminya, kita baru kesirem air panas. Waktu yang udah kita tunggu-tunggu itu lewat gitu aja karena kita isi secara full tanpa henti. Meski sebentar, banyak yang bisa belajar bersyukur dengan puas. Ada juga yang saking bahagianya, minta kejadian itu diulang kembali. Yah, meskipunn minta diulang dan nyaman disitu-situ aja bisa menghambat kebahagiaan yang lebih besar juga…

Waktu yang hambar, ya?

6 hari lagi blog saya ulang tahun. Waktu itu saya buat sore-sore tanggal 17 Agustus. Waktu itu saya kesiangan (unsur kesengajaan bangun kesiangan: 99,9%. Makanya pas bangun saya cuma bilang: “Oh, jam 7…” lalu ngulet lagi dan tidur lagi sampai siang) dan gak ikut upacara di sekolah.

Banyak yang udah saya tulis di blog. Hal-hal remeh ketika saya kangen temen-temen kelas 7, hal remeh ketika saya mencari pelengkap koleksi novel, hal remeh tentang idola saya, hal remeh tentang personel One Direction tutup twitter dan dibilang cupu, hal remeh tentang cowok yang saya sukai…

Saya berevolusi.

Saya tahu kalau abis tanda baca harus dispasi kayak begini: “nah, iya kan?” Dan gak asal tabrak lari kayak: “yaudah,gitu aja kan?Oke fine!”

Saya jadi tahu kalau sosial media itu luas. Meski banyak orang yang memilih terbuka di internet, tapi sepertinya keterbukaan saya juga bukan sesuatu yang baik bagi saya.

Saya sadar kalau pembaca gak semua seumuran saya. Saya mengganti ‘gue’ ke ‘saya’ selama menulis blog (terutama pas tahu pengguna wordpress hampir gak ada yang seumuran saya. Ternyata banyakan pengguna blogspot yang seumuran sama saya).

Saya sadar kalau internet begitu terbuka dan luas. Bahkan tulisan kita bisa dibaca idola kita sekalipun J

Saya sadar kalau internet bisa digunakan untuk apa saja, bahkan untuk membuat nama kita terkenal sekali jentikan jari. Namun saya tidak memilih menggunakan peluang itu.

Saya sadar bahwa tidak semua orang menyukai kejujuran karena mereka menggengam kuat-kuat apa yang mereka yakini.

Saya sadar bahwa peluang bertemu orang yang kontra dengan saya begitu besar sekali.

Saya sadar kalau ketika kita menjadi ‘fenomena’ dan tidak mempertahankannya, kita akan kembali jatuh. Makin tinggi, makin kencang angin.

Daaaaaan… saya sadar bahwa orang yang selalu dielu-elukan dan melayang di udara, mudah jatuh ketika dikritik oleh satu orang yang sangat cerdas. Bahkan dia pernah berniat berhenti jadi penulis hanya karena dikritik sahabatnya ketika meminta sahabatnya membaca print-out naskahnya.

Selama saya introspeksi, selama saya berevolusi, saya tidak pernah merasakan perbedaan. Sama seperti ketika kita melihat foto waktu berumur 5 tahun dan kemudian melihat foto kita ketika berumur 14 tahun. Kita tidak merasa muka kita bertambah besar, jari kita mulai memanjang, wajah kita menjadi berbeda… tapi ketika kita melihat foto itu, kita tahu ada yang berbeda.

Saya malu banget pas nge-download twitter archive saya. Semua tweet saya dengan format Excel itu bikin hati saya tertohok banget. Semua masa lalu saya terkuak—kenapa orang gak suka sama saya, kenapa yang mau temenan sama saya cuma Natalia, kenapa orang sering menatap saya dengan tatapan aneh dan risih.

(Padahal waktu itu yang saya sebut-sebutin nama-namanya itu juga gak suka-suka amat ama saya -_-)

Kenapa saya harus tulis begini? Kenapa gak saya ngomongin baik-baik atau saya pendem aja?

1. Temen-temen benci saya karena saya norak.

Cari lagi…

(Padahal Indonesia juga sering menang di kandang doang)

2. Saya terlalu blak-blakan dan gak mikir kalau ngomong. Lagian setelah belajar sejarah lebih dalam, saya tahu kenapa Timor Leste keluar dari Indonesia dan ikutin langkahnya Portugis. Saya paham perasaan mereka.

(Kalau yang ini akibatnya kalau ada anak SMP salah pergaulan dengan anak-anak bermulut kotor)

3. Seharusnya saya menghargai pendapat dan hobi orang. Kalau saya ga suka, saya ‘serang’ kelompok/perseorangannya, bukan fansnya. Mereka punya alasan mengapa mereka menyukai itu.

Nginget nomor 3, pikiran saya melayang ke beberapa tahun lalu, ketika saya sering join di Anti Cherrybelle.

Sampai saat ini saya udah gak peduli lagi keadaan girlband satu itu. Nyanyiin lagunya enjoy-enjoy aja, sekalian ngehibur temen-temen saya dengan persona ‘alay’ yang saya asah dikit-dikit.

Karena bagi saya, orang-orang bergaya ala eksterminator yang mencari-cari kesalahan orang itu lama-lama mulai lunatik. Beberapa menjadi lunatik hanya karena Cherrybelle sok polos soal ‘tiru-meniru’ mereka dengan SNSD. Mau aja mereka kepancing trik management-nya Cherrybelle J udah tahu Cherrybelle sok gak kenal dan sok ga tau di infotaiment biar Sone tambah panas dan mereka makin terkenal… oh belum tahu? Sekarang udah tahu? Hmm… abis ini masih mau buang karbonhidrat dan energi untuk membasmi sesuatu yang terlanjur meradang tanpa mencoba memperbaiki terlebih dahulu selagi masih bisa?

Setelah melihat semua itu, akhirnya saya paham arti “Rachel berubah” yang mama saya bilang.

Sekarang karena saya terlalu malu sama twitter saya sendiri, akhirnya saya mutusin pada diri saya sendiri untuk nutup/deact @Chelullaby (dulu @Chellemmanuella) dan pindah ke @Cherudesu (penggalan dari “watashi wa Cheru desu!”. Artinya “nama saya Chel”. Dan di Jepang gak ada L, lalu ada beberapa kata ditambahi huruf U di belakangnya).

Soalnya… gimana ya. Ketika saya jadi entah apapun ketika dewasa nanti, saya akan jadi panutan. Entah saya jadi guru, jadi senior di kampus (meski kalau senior bisa seenak-enaknya, saya gak mau jadi senior begituan), atau jadi orang tua… gak etis kayaknya kalau mereka lihat saya yang dulu. Oke fine mereka akan bilang “maklumlah dulu kan anak SMP jadi alay-alay gimana gitu”, dan diatas saya juga bilang kenapa saya gak mau hapus entry blog lama saya. Tapi, hey, sebuah tweet kontroversional dari para artis aja lama-lama dihapus kalau ada yang keberatan kan? Dan juga, apa iya semua orang bisa belajar dari masa lalu saya? Kalau itu malah berimbas ke orang-orang yang masih SMP dan malah mencontoh diri saya yang dulu kan?

Gak mau saya begitu.

Saya tidak pernah merasakan bahwa saya (kata orang) makin dewasa dalam sisi tulisan. Saya tidak sadar saya semakin banyak terpengaruh tulisan-tulisan dari penulis lain (dari semulanya sedikit sekali karena lebih banyak pengaruh komik) yang semakin lama membuat saya bisa memilih mau jadi orang lain atau jadi diri sendiri. Saya baru sadar setelah baca naskah novel pertama saya yang begitu berantakan kemudian membaca satu naskah novel saya yang sudah selesai dan di print-out.

Posting serius beginian enaknya pas tahun baruan yak? Hehe, salah gaul dah ._.v

Awalnya saya menulis serabutan karena “ah, gak banyak yang baca. Saya kan emang nulis blog karena biar orang punya akses mudah baca cerita saya, bukan berarti buat dipamerin juga!”. Tapi sudah hampir 5 orang mem-follow saya di twitter dan bilang tulisan saya bagus (kejadiannya sebelum ada tulisan tentang Malam Minggu Miko itu).

Lama-lama, karena tag yang saya pakai makin variatif dan sengaja saya pakai yang ‘menggebrak’ list keyword google dan twitter… yang baca makin luas. Saya juga sering blogwalking dan menemukan orang yang lebih variatif. Ibu rumah tangga yang gaul, pelajar yang merantau ke negeri orang, anak SMP biasa yang entah kenapa pengunjungnya banyak banget (bukan saya, orang lain maksudnya), orang-orang dengan opini mengenaskan yang menohok (gak setengah nyindir kayak saya) langsung, orang-orang dengan umur yang sama dengan saya dengan tulisan lebih kekanakkan dan lebih dewasa…

Lalu saya jadi makin sadar selama 1 tahun ini. Apa istimewanya blog saya?

Orang bilang tulisan saya bagus, semua juga bagus. Orang bilang saya keren, cowok yang nongkrong di Kaskus juga keren-keren (termasuk gebetan saya *HestekEaaa*). Orang bilang saya itu tulisannya gak kayak umurnya, lha, ketika saya blogwalking, banyak yang lebih keren (yang sejak kecil udah baca-baca bukunya Ernest Hemmingway. Saya aja cuma tahu Ernest Hemmingway sedikit-sedikit dan dari IMB pas Tante Vina bawain karya Ernest yang superpendek tapi menang lomba itu).

Lalu saya keren dimananya?

Apa saya harus ngikutin orang lain biar keren? Orang kesini saya ikutin, saya banting setir jadi orang lain, baru saya keren?

Tapi saya selalu ingat dan gak pernah lupa sama perkataannya idola saya, Bang Raditya Dika (kenapa saya bawa-bawa dia terus ya? Maklum, saya gak gaul dan gak banyak tahu orang hebat kayak blogger gaul lain yang sering ngutip-ngutip quotes Haruki Murakami atau William Shakespears di blognya). Dia bilang bahwa

Persona is what makes you unique. Remember, you don’t need to be better, you just need to be different

Kurang lebihnya saya minta maaf sama yang bersangkutan (layangan, bola plastik, sandal jepit bekas nyambit kucing sama maling jambu…).

Selama setahun, saya nyoba jadi beda.

Saya nyoba jadi beda, nyoba jadi diri sendiri.

Sama seperti stand-up comedy (selama setahun saya menggeluti seni komedi itu, saya masih gak tahu nulisnya ‘stand up comedy’ atau ‘stand-up comedy’. Kata orang sih dua-duanya bener), kita harus punya persona.

…Kenapa? Karena unik itu membedakan kita dengan orang di sekeliling kita. Karena unik itu meninggalkan kesan yang lebih mendalam. Karena unik itu bisa membuat anda, bukan pesaing anda, lebih diingat. Dalam beberapa aspek, ini akan menjadi sesuatu yang menguntungkan.

-Ernest Prakasa (stand-up comedian/comic)

Punya sesuatu yang bikin kita kelihatan beda dari orang lain.

Yang bikin stand-up comedy beda sama joke telling, yang bikin Indonesia beda sama Malaysia, yang bikin Super Junior beda sama Coboy Junior, yang bikin Teletubbies nampak beda dari Power Ranger (susah bedainnya. Abis sama-sama keroyokan dan warna-warni -_-)…

Menjadi unik dan beda ada dua cara. Mengubah diri jadi 100% beda, dan menambah wawasan diri dan karakter dengan mengeksplorasi diri dengan ilmu baru. Semuanya sama-sama butuh contoh, butuh panutan.

Dan saya gak sadar, selama saya hidup, saya udah banyak dapat contoh. Buruk, jelek? Dua-duanya. Bahkan dari banyak public figure yang karyanya sering saya ‘wah keren’-’wah keren’-in aja saya udah dapet contoh jelek. Pergaulan, sisi gelap hidup mereka, kebimbangan mereka ketika memilih karir…

Tapi justru ketika mereka bangkit, mereka menjadi inspirasi buat orang lain. Orang yang masa lalunya sama kayak public figure-public figure itu jadi semangat untuk bangkit dan berlari. Saya sekarang juga belajar kalau saya gak perlu malu sama masa lalu saya yang alay dengan ngapus post lama dari blog ini. Karena kata mama saya “orang lihat masa depan kamu, bukan masa lalu kamu”. Nah, saya tambahin. “Orang iri, akan mengorek masa lalu kamu dan membuat kamu roboh dengan mengingatnya lagi.”

Jadi selama satu tahun, saya belajar evolusi.

Dari saya yang nyaman dalam zona nyaman yang membunuh pelan-pelan selama 8 tahun (watak saya mulai jelek selama SD sampai SMP kelas 8. Sekarang aja masih lumayan banyak jeleknya), dan saya belajar berubah hanya dalam 1 tahun.

Saya gak berubah dari monyet jadi manusia, saya gak berubah dari polos dan unyu jadi tambah besar dan destruktif seperti evolusi Digimon, saya gak berubah dari ditendang jadi disayang (?). Tapi seengaknya saya belajar kalau memang kita bergerak selama kita hidup.

Kaliau kalian? Apa yang kalian pelajari selama setahun penuh?

P.S: Apa ya, yang bisa saya pelajari lebih lagi setahun kemudian? J can’t wait for me to know…

Sesuatu Tentang Anak Muda… Yang Terlalu Cepat Dewasa

Beberapa hari yang lalu, saya belajar biologi. Belajar tentang alat reproduksi (yang sebenarnya sudah waktu kelas 6 SD). Belajar tentang organ-organ bernama rumit itu dan fungsinya.

“Setiap organ yang Tuhan ciptakan pasti ada gunanya, sekecil apapun itu….” kata guru biologi saya.

Guru saya juga mengenalkan kami pada benda-benda yang ‘ehem-ehem’. Semacam *maaf* sex toy, kondom, kontrasepsi dan lainnya.

Menurut saya itu penting. Penting untuk kami semua ketahui. Semua harus tahu kegunaan benda-benda itu, sisi positif-negatif dari benda-benda ‘bukan sembarang benda’ itu, sebelum kami menggunakannya dengan sembarangan.

Ketakutan saya cuma satu. Takutnya yang tidak tahu jadi tahu, dan mencari tahu lewat caranya, lalu bertanya pada orang yang salah (yaitu saya dan temen-temen yang tertawa terbahak-bahak setelah guru saya mengeluarkan benda-benda itu dari tas miliknya).

Kemudian, setelah mengetahui lebih banyak soal alat reproduksi, pikiran saya melayang-layang kepada suatu hal.

Sesuatu tentang anak muda.

Saya ingat tentang teman-teman saya yang sudah berpacaran, saya ingat bagaimana teman saya berboncengan dengan motor dan… saya ingat persentase jumlah anak SMP yang sudah hamil di luar nikah.

Kerertarikan antar lawan jenis yang benar-benar bisa sampai ‘wah!’ itu sudah muncul dari kelas 6 SD. Itu yang pubernya cepat (lha berarti saya kecepetan puber ya kalau suka sama cowok sejak TK?). Yang lama atau yang cuek soal cowok/cewek, mungkin munculnya SMP atau SMA.

Dan kita semua tahu, kalau anak muda itu tidak berpikir panjang ketika menginginkan sesuautu. Anak muda memiliki keinginan kuat dan kadang ngotot. Menutup telinga akan hal positif atau masukan dari orang yang lebih tua. Lebih tua aja gak didengerin, apalagi yang lebih muda. Orang tua sendiri gak didenger, apalagi guru yang gak ada hubungan darah (padahal guru itu orang tua di sekolah. Tapi mereka gak peduli sama hal itu).

Setelah suka sama lawan jenis (yang kadang beda kepercayaan dan bertabiat buruk), maksa jadian belakang jalan (baca ‘belakang jalan’ dalam bahasa Inggris), dan akhirnya… telat 3 bulan.

Yang kami tahu, kata orang itu enak. Kata teman-teman yang udah, itu enak. Nyaman, dan lain sebagainya.

Tapi mereka gak mikir jauh ke depan.

Yang teman-teman seumuran saya tahu, mereka cinta mati sama orang itu, mereka mau menyerahkan milik mereka yang berharga untuk orang itu, karena mereka yakin kalau itu cinta mereka.

Itu pemikiran cewek.

Cowok? Hidup dengan logika.

Menurut saya pribadi, cowok itu gak bajingan. Cowok memang lahir untuk menyakiti cewek… maaf, bukan cowoknya, tapi logikanya. Semua orang tahu, musuh utama perasaan adalah logika.

Perempuan memakai perasaannya kalau cowok yang selama ini membuat dia nyaman dan membantu dia lari dari segala masalah yang seharusnya mereka hadapi untuk pelajaran hidupnya kedepan itu adalah cinta pertama dan terakhirnya. Bahkan Sherina Munaf yang nyanyi lagu dengan lirik itu juga pasti pernah putus dan jadian sama orang lain lagi.

Karena semua orang tahu kalau hidup adalah pencarian. Berhenti mencari, tandanya gagal. Cepat puas, pada akhirnya kecewa sendiri ketika kita membutuhkan lebih dari yang kita punya saat ini.

Cowok, dia pasti mikir. Ketika cewek ini sudah tidak seperti yang dia mau, seperti yang dia harapkan dan seperti yang dia BUTUH… dia akan mencari. Itulah logika. Dan cowok hidup dalam asas “mencari keuntungan setinggi-tingginya, mendapat kerugian sekecil-kecilnya”. Semua orang juga begitu, perempuan juga gitu. Tapi… perempuan… pake… pera… saan!

Itulah mengapa kita banyak mendengar tentang aborsi.

Ketika seorang wanita tidak lagi memiliki sesuatu yang pria itu inginkan, dan pria itu tidak mau rugi dan jadi drama queen dengan mengikuti ‘cinta… sayang… miss you… bla… bla… hoeeek’. Sementara wanita yang sudah memendam semua keluhannya tentang kekurangan cowok itu dan belajar mencintainya bahkan sampai kehilangan sesuatu yang berharga… cuma bisa meratap dan menangisi kekurangannya.

Menurut saya, pengertian aborsi adalah “kejadian dimana perempuan membunuh jiwa yang dia anggap buah cinta dengan seseorang yang dia anggap pelabuhan terakhirnya”. Simpel. Karena itu adalah kenyataan. Meski pahit, tapi itulah kenyataannya.

Setelah itu perempuan-perempuan muda seumuran saya harus bangkit dari keterpurukan dan mencari yang baru. Tapi… semua tidak akan sama lagi setelah ada sesuatu yang hilang.

Namanya ‘keperawanan’.

Sedih saya mendengarnya.

Mereka seumuran saya. Mereka sekarang berbeda dengan saya setelah kejadian mengerikan itu. Saya masih disini, menulis di blog dan main game facebook sepuasnya… dan mereka harus mengurus seorang anak atau bahkan mengurung diri di kamar meratapi kegagalannya sebagai ibu setelah menggugurkan seorang anak bayi. Bagaimanapun, mereka ibu.

Meski, tidak semua pelaku aborsi menyesal. Mereka merasa lega karena ‘masalah’ telah pergi, tapi mereka tidak tahu bahwa mereka dikejar oleh masa lalu selamanya. Sejauh apapun mereka berlari, sekuat apapun mereka berbaur dengan anak-anak semacam saya (yang masih begitu bebas)… tapi Tuhan dan dirinya sendiri tahu ada yang salah akan dirinya.

Saya sedih. Benar-benar sedih. Dimana saya masih keluyuran di Matraman dan 21 pada hari Sabtu, dimana saya bebas pergi ke warnet kapanpun… saya melihat dengan mata kepala saya, ada seorang yang seumuran dengan saya tidak seperti saya.

Meski… sebenarnya saya pernah berpikir bahwa saya iri pada mereka, diri mereka sebelum sekarang.

Saya menyukai seorang laki-laki di sekolah saya. Jatuh cinta, jatuh, jatuh, jatuh… dan saya seperti orang mabok.

Saya tiba-tiba jadi penguntit, saya jadi melankolis, saya jadi seorang yang membingungkan.

Orang tua saya gak mengijinkan saya pacaran sebelum saya cukup umur, atau minimal bisa membuktikan kalau saya bertanggung jawab dengan diri saya sendiri. Ya itu juga kalau cowok itu juga suka sama saya, iya kan?

Kalaupun cowok itu juga suka sama saya, saya bisa saja seperti teman-teman saya. Pacaran diam-diam, protect Twitter, tiap malam bilang ‘kerja kelompok’…. Tapi kapan saya maju? Bagaimana memberi tahu pada orang tua saya kalau selama ini saya membohongi mereka? Apa? Tidak memberi tahu sama sekali? Kita semua tahu kan, kalau selama apapun mayat disembunyikan, baunya akan tercium?

Apa yang saya tahu tentang pria? Sebaik apapun cowok itu pada saya, sepolos apapun dia… semua orang tahu hampir 90% anak SMP sudah mengetahui hal-hal semacam itu, sudah menonton film porno. Dan semua orang juga tahu kalau anak muda mudah penasaran. Mereka tahu teori, mereka harus praktek.

Saya iri melihat teman saya bisa memampang nama pacarnya di bio twitter, bisa ada teman jalan-jalan, bisa bersama dengan orang yang dia suka, bisa merasakan cinta yang berbalas.

Tapi… saya mikir. Mungkin saya lebih iri pada mereka pada dua poin terakhir saja. Yang pertama, jelas gak penting. Yang kedua… saya bisa jalan dengan semua teman cowok saya as a friend, tanpa ada yang sirik-sirik gak jelas pada saya.

Mungkin dengan pikiran bocah saya ini, saya emang belum bisa pacaran.

Mungkin, alasan kenapa teman-teman saya yang nilai biologinya 100 tapi tetap melakukan ‘itu’ adalah tidak ada yang mengingatkan mereka tentang kejadian di masa depan. Biologi tidak memberi tahu ketika pembuahan telah terjadi, selaput dara robek, dan beberapa tahun kemudian seorang pria yang kita yakini jadi milik kita akan meninggalkan kita karena masa lalu kita. Mereka hanya memberi tahu setelah pembuahan terjadi, akan ada sebuah bayi yang hidup, tumbuh besar dan siklus reproduksi terulang karena tujuan reproduksi adalah melestarikan keturunan.

Nah, ini reproduksinya dengan siapa? Sudah resmi menikah atau belum? Bagaimana kalau kamu bukan orang yang dia butuhkan? Bagaimana kalau nanti dia butuh hal yang kamu tidak punya? Kamu yakin dia cinta pertama dan terakhir kamu?

Enak? Mantep? Bisa pamer ke temen-temen kalau kalian udah keren dengan melakukan itu? Saya cuma anak SMP biasa yang ngebacot? Oh iya, kalian SMA ya? Emang sih, anak SMA lebih tua dari anak SMP, dan gak merayakan hari anak lagi. Udah mau kuliah juga…

Tapi kalian lupa satu hal, kalau kalian BELUM DEWASA. Sama seperti saya, KALIAN BELUM DEWASA. Kalian cuma lebih tua, bukan DEWASA. Tua bukan berarti dewasa. Sudah lihat orang berumur puluhan yang terkena Peter Pan Syndrom? Bukan, itu bukan penyakit ketika kita seneng nyanyi tanpa buka mulut lebar dan memberi nama semua benda, anak dan peliharaan dengan nama personel Peterpan (atau Noah). Itu semacam fenomena psikologis dimana ada seseorang yang tidak ingin tua, selalu ingin jadi anak-anak dan sulit menerima kenyataan bahwa usianya itu sudah dewasa. Bukan penyakit, tentunya.

Jadi, kalian sama saja. Masih nekat, masih berpikir pendek dan masih tetap mau senang-senang saja selama hidup kalian.

Sama aja seperti saya, tapi cara kita berbeda. Kalian merasa kalau cara saya overrated dan tidak dewasa (ya kalian tahu lah, anak muda selalu mau dibilang dewasa biar terlihat hebat). Ke bioskop bertiga dengan teman cewek tidak keren lagi. Pergi ke bioskop dengan 4 cowok dan cewek sendiri itu keren.

Maaf maaf aja ya, tapi menurut saya itu gak keren sama sekali. Itu payah.

Kalian gak tahu betapa jadi orang muda itu sangat indah. Menjadi orang yang masih bisa main-main dan berlompatan kesana kemari itu enak. Menjadi orang yang pakai baju warna-warni masih dibilang wajar itu enak. Menjadi orang yang setiap hari pulang sore bawa novel sekantong penuh itu enak. Menjadi orang yang pengangguran gak diomongin sana-sini itu enak. Menjadi orang yang gak perlu tahu pengeluaran bulanan itu enak.

Kalian mempercepat waktu dewasa, memperpendek umur muda kalian… dan membuat diri kalian depresi karena pujian yang temporer. Setelah mereka memuji kalian “WAH, LO KEREN BANGET! DEWASA ABIS! PERSIS KIM KARDASHIAN!”, lalu apa? Apa yang kalian dapat? Kalian tua terlalu cepat, tapi otak kalian tetap otak anak muda, anak remaja. Sama aja kayak anak-anak di arena bermain yang katanya anak-anak disana bisa melakukan profesi orang dewasa itu.

Iya, anak-anak itu. Mereka pakai baju orang dewasa, menjalankan profesi orang dewasa, tapi tetap saja… mereka disana senang-senang. Gak akan pernah tahu rasanya orang dewasa kelelahan akan rutinitas yang sama setiap hari, meskipun itu dia lakukan dengan hati. Anak-anak itu membayar untuk sebuah rutinitas. Ketika dewasa, kita tidak dibayar bila tidak hidup dalam rutinitas.

Seharusnya disana ada wahana bunuh diri setelah depresi kena PHK. Biar lebih menjiwai lagi.

Gak bisa saya bilang “pacaran itu gak salah, karena semua orang bisa merasakan cinta”. Pacaran di masa muda itu salah. Iya, kalau kalian pacaran dengan wajar, sesuai dengan umur kalian. Kalau kalian sok dewasa dengan melakukan ‘itu’ dalam berpacaran… ya salah lah.

Baru sekarang saya ngerti maksudnya “cinta gak harus memiliki”. Karena… kita gak bisa memaksakan cinta ketika waktunya tidak tepat.

Pada akhirnya… saya hanya ingin memperingatkan kalian para perempuan yang belum ‘terlambat’. Jagalah diri kalian.

Kalau kalian yakin kalau kalian cukup dewasa, jagalah diri kalian. Kalian bisa, kalian mampu, kalian tahu sampai dimana hati kalian. Ingat cita-cita kalian di masa depan, ingat bahwa cinta bisa dicari. Cinta datang ketika kita mencari, bukan cepat puas. Kalau kalian merasa dia mulai berbeda dan mulai membawa kalian ke jalur yang tidak semestinya… nyalakanlah logika kalian sekali saja. Saya tahu mungkin kalian cinta mereka dan gak mau mereka pergi. Tapi, mungkin suatu hari nanti ada yang lebih hebat dari mereka.

Untuk para laki-laki…

Hemm, apa ya?

Mungkin, yang cuma saya bisa bilang ke kalian cuma satu.

Jangan buat diri kalian menyesal dan membuat diri kalian dikejar masa lalu yang kelam hanya karena kesenangan semata.

Mungkin meski kalian menikah ketika dewasa nanti, setelah kalian pura-pura melupakan perempuan yang kalian tinggalkan di masa lalu, dan kalian punya anak perempuan… kalian baru tahu rasanya. Rasa ketika anak kalian kehilangan masa depannya.

Apa? Cewek itu yang mau? Kalian suka sama suka? Kenapa kalian yang disalahin?

Bukannya pria diciptakan untuk jadi imam dalam keluarga? Seharusnya kalau kalian tahu itu tidak benar, kalian yang berlogika itu dan bisa memikirkan masa depan dengan logis itu memperingatkan wanita dan melindungi wanita.

Mungkin kalian bukan lelaki sejati kalau kalian tidak melakukan itu.

Udah sunat belum? Atau bahkan gak punya ‘sesuatu untuk disunat’?

Hihi.

Kelas Sembilan!

Hai :3

Ketemu lagi dengan Gisel On The Radio… #dilemparGadingMarteen #GatauNulisnyaMartinMartenAtauMarteen

Ehehehe. Halo semuanya!

Saya jadi jarang nulis. Gak tahu, mungkin ini memang efek niat lulus, jatah megang laptop sabtu-minggu juga jengah untuk diambil. Ke warnet memang cuma mau nulis blog sama baca portal berita doang (soalnya di HP enyak suka error. You know lah, si bebeh…)

Btw mentemen, si Ipeh makin lama makin gak tertolong :(

FYI: Ipeh adalah nama hapeku :3

Ah, jadi seneng bilang akuh kamuh :3

Ipeh LCDnya makin item, makin suka mati sendiri mau kepentok dikit sekalipun, suka kerestart sendiri, suka muncul tulisan gajelas (sistem android), dan batrenya gak jelas.

Sebenernya daripada servis HP yang bisa sampe gopek, mending saya beli HP baru, tapi udah jatuh cinta sama si Ipeh, jadi gak rela merongsokkan Ipeh tanpa kartu memori dan kartu SIM.

Sekarang saya udah kelas 9.

Tanggung jawab makin banyak dan adek kelas juga bukannya bantu malah ngerecok.

Saya masih tetep tahan prinsip kalau saya gak akan nyeplos “BACOT LO MENTANG-MENTANG UDAH KELAS 8″ ke adek kelas. Karena saya pernah sakit hati karena kakak kelas saya ngomong gitu. Nah, mereka minimal kalau ga sakit hati, bisa aja saya yang sakit hati karena disorakin secara gak sopan sama mereka.

Adek kelas. Lagi-lagi tentang mereka.

Sejujurnya gue suka bergaul sama mereka, sejujurnya saya gak masalah sama umur dan gengsi.

Tapi mereka sama sekali gak ngenakin kalau diajak temenan. Entah hormon remaja memang ajaib, tapi saya gak suka gak dihormatin sama yang lebih muda. Mungkin juga karena saya gak pernah merasa gak ngehormatin yang lebih tua?

Saya gak seneng main ama mereka. Mereka nyolotin dan gak nganggep saya temen. Yang cewek sejauh ini baik2 aja, tapi yang cowok…

cuma bisa ngehina

cuma bisa ngelawan

kita dianggep babu sama mereka.

Sakit hati deh.

Oke, ayo belokin topik. Berhubung saya udah kelas sembilan, emak juga jadi paranoid. Setiap liat selebaran les, dijejelin ke saya. Emak melancarkan bakat MLM miliknya untuk ngajak saya les. Padahal PM juga pasti cukup menyiksa.

Saya dibilang terlalu santai sama temen-temen. Kalau remed suka ngentengin padahal itu matematik, suka nganggep itu mudah, ngecilin…

Padahal mereka gak tahu saya orangnya setresan, plus beseran.

Kagak bisa panik sama sekali. Gak bisa dikasih panik gak bisa dikasih yang “GAWAT HEL!” dikit. Bisa-bisa yang saya lakukan adalah ngeremes rambut sambil ngejerit “GUE HARUS GIMANA? HARUS GIMANA? YA TUHAN KENAPA MUKA OLGA SYAHPUTRA MIRIP RADITYA DIKA KENAPAAAA!!!!!!”

Beneran, teman-teman, sumpah. Saya panikan keterlaluan. Makanya satu-satunya cara yang bisa saya lakukan adalah ‘menjadi-masa-bodo’.

Nilainya jadi bagus?

Enggak juga, malah harus remed 2x lagi. Itu juga kalau remed ketiga dapet 100 juga tetep 7,5.

Yah, begitulah kalau punya kekurangan yang sulit dirubah. Disinga juga gak bisa. Dikambing juga gak bisa. Dimonyet? Dari namanya udah gak asoy.

Berhubung soal sifat jelek…

Kayaknya saya sudah mulai harus berubah ya?

Teman saya mulai berkurang hanya karena saya mudah marah sama orang yang sifat jeleknya gak saya suka. Padahal seharusnya kalau mereka bisa nahan ‘gebok-ini-kacrut-pake-batako’, kenapa gue enggak?

Yah, semakin kita gede, kita makin sadar kalau kita itu salah dan… ketika kita yang dulu suka marah sama orang yang ngetawain diri kita, pas gede malah ngetawain diri sendiri :)

“Ih kok gue alay ya dulu?”

Nah, baru setahun berlalu, saya udah nyeletuk begitu pas liat twitter archive -_-

Bagaimana kalau saya tertawa terbahak-bahak ketika melihat tulisan ini?

Mungkin karena faktor lelah. Orang dewasa terlalu lelah sehingga perlu tertawa, bahkan rela menertawakan dirinya sendiri demi penyegaran diri.

Dan sebagai anak yang masih muda (dan gak mau nyoba sok dewasa dengan beli BB pada umur 10 tahun), saya hanya bisa berkata ‘mungkin’.

Tapi, meski saya tahu ini mustahil, meski saya tahu saya sudah kelas 9 dan umur saya akan terus bertambah (atau berkurang kalau dihitung mundur dari umur yang Tuhan tentukan untuk saya)…

Semoga suatu hari saya tidak menjadi tua.

But, time flies. And as i grow old, my dream is follow me to going old.

Maybe, with just a one critical shoot, i don’t wanna be a writer again?

Jatuh bangunnya saya mengejar mimpi, mungkin bagus kalau dijadiin buku :3 #JiwaBisnis

Trouble Mother Journal #2: What 14 Years Old Mother Do With 7 Years Old Boy

“Reno, makan dooongg!!”

“Gak mauuu! Reno mau spageti! Gak mau fetucini!”

“Apa bedanya, Reno sayang?”

“Spageti bentuknya tabung, fetucini ceper. Reno lebih suka bangun ruang daripada bangun datar! Karena volume bangun ruang itu…”

Zleb!

Oke, tadi cuma bayangan berlebihan gue doang ternyata. Di tangan gue masih ada sepiring fetucini dengan saus bolognaise yang masih panas dengan parutan keju yang baunya menggoda iman dan taqwa. Tangan gue menggantung di depan pintu kamar Reno. Gue gak berani ngetok pintu karena takut bayangan gue jadi nyata. Inget, Reno juga masih anak SD meski dia sepintar itu.

Cklek.

“Lho? Kasan?” Reno membuka pintu. “Ini makanan Reno? Waah! Makasih!” Reno berjinjit dan mengambil piring dari tangan gue. Dia bersiap menutup pintu.

“Tunggu, Reno,”

“Ya?”

“Maaf ya. Kasan lupa belanja, adanya cuma fetucini, gak ada spageti. Kamu kan tadi mintanya spageti….”

“Gak apa-apa kok! Makasih, Kasan! Udah, Kasan kerja lagi ya?” Reno menutup pintu kamarnya dan membawa fetucini menggoda itu.

Gue bersyukur ketemu anak kayak Reno. Makan gak milih-milih, pintar, bisa diandalkan dan pengertian. Akhirnya, gak ada adegan kejar-kejaran ala iklan suplemen nafsu makan jaman Dea Imut deh.

Akhirnya, gue menuruti kata Reno. Gue mengambil iMac gue dan menyalakan TV. Saatnya ‘bekerja’.

Setiap minggu harus cek workshop, sebulan sekali seengaknya masukin barang dan kreasi baru ke list barang jualan, kadang harus ngangkat telepon bersamaan dari 2 HP yang sama, harus terima komplen ini-itu karena kurir ngirim barang gue dan nyampe-nyampe udah benyek, padahal dari workshop-nya bentuknya masih bagus…

Gak kerja kantor aja begini. Apalagi kerja kantor?

Kringing, Kringing!

“Alarm?” Gue merogoh kantong apron gue.

Reno udah harus mandi!

05.00 PM

Snooze Dismiss

Hmm. Agak ganjil juga gue di masa depan masih harus mengingatkan Reno mandi, mengingat dia bocah 7 tahun dengan otak super. Apa saking pinternya, memori untuk mandi setiap jam 5 tertutup memori tentang fisika kuantum di otak dia? Gue menutup iMac dan berjalan menuju kamar Reno.

Tok, tok…

“Reno, mandi yuk!”

Reno keluar dari kamarnya dengan wajah datar. Gue memberikan handuk ke tangannya dan dia menerimanya. Dia berjalan menuju ke kamar mandi di dekat kamarnya.

Meski masih harus diingetin, setidaknya Reno gak keasikan buka internet terus harus diingetin 100x untuk mandi… kayak gue. Hehe.

Masih gue mengutak-atik iMac sambil ganti channel TV supertipis itu dengan sensor gerak (dulu gue inget banget selalu sok nangis kejer tiap liat iklan Samsung Smart TV). Makin kesini, film Indonesia makin gak berkualitas untuk anak muda dan film luar makin masuk mengalahkan film dalam negeri. Iyalah, kalau filmnya horor ga jelas, mending film luar yang masuk. Tapi gimana dengan karya negara ini? Filmnya semua plagiat luar negeri. Gue paham, memang gak ada jalan lain ketika lo udah gak laku selain mengubah haluan dan berhenti idealis dengan meniru apa yang lagi ngetren.

Gue penasaran kemana kebudayaan kita.

Tahun 2029, Indonesia dijajah lagi.

Seandainya gue bisa balik ke tahun 2013, rasanya gue mau ngubah semuanya.

Iseng-iseng, gue mencari nama gue di google.

ZRAASSHHH. Cssss…

Suara shower yang mengguyur keras kemudian dimatikan terdengar jelas. Oh, Reno udah selesai mandi dan membuka pintu kamar mandi. Pantesan.

“Kasan, Reno minta tolong ambilin minyak angin dong!” seru Reno dari celah pintu.

Gue menutup iMac dan mengambil minyak angin aromaterapi dengan roll-on (tanpa Agnes Monica) di kamar gue.

“Nih. Mau Kasan gosokin ke punggung Reno?”

Reno mengangguk.

Gue membuka tutup roll-on dan sebelumnya mengeringkan punggung Reno. Agak berkeringat. Mungkin panas? Pemanasan global kan semakin parah.

Gue menggulirkan bola roll-on itu di punggung Reno dan meratakannya dengan tangan. “Bagian depan Reno pasang sendiri ya?”

Reno mengangguk. Dia mengambil minyak angin dari tangan gue dan berjalan masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Kembali gue mengurusi iMac nan unyu itu.

“Lho? Emang gue milih artikel ini?”

Terserah deh, yang penting baca.

Penulis dan ibu rumah tangga dengan kehidupan sempurna dan pekerjaan fleksibel… bla…bla… bla…

Banyak juga yang berpendapat positif tentang gue dan pekerjaan gue.

Kringing! Kringing!

Masak makan malem!

08.00 PM

Snooze Dismiss

Gue tersenyum dan men-dismiss alarm. Hmm, enaknya makanan untuk berdua di tengah malam apa ya? Masa fetucini lagi?

Tutup iMac, rapihin apron, regangin badan sedikit. Hihi, gue jadi mirip emak-emak di iklan penyedap makanan deh. “Reno, mau nasi goreng gak?” seru gue.

“Mau, Kasan!” seru Reno dari dalam kamarnya.

“Lagi apa?”

“Belajar!”

“Oke!”

Tak lupa menguncir rambut ke belakang (kalau ke atas ntar dikira Jinny Oh Jinny tahun 2029), gue mulai memasak nasi goreng spesial ala gue.

“Kompor, nyala!”

“Selamat malam. Berapa besar api yang anda butuhkan?”

“Api sedang!”

Dan, apinya menyala sendiri. Yaah, lama kelamaan, gue terbiasa dengan kompor yang dinyalakan dengan perintah suara ini.

Mulailah gue memasukkan telur, sambal tabasco secuil, nasi dan kecap. Terus campurin semua suwiran ayam, daging, ikan, daun bawang, nuget, sosis… semuanya masuk ke nasi. Biar kenyang dan puas. Haduh, gue kebiasaan serakah ya? Semua makanan dalam satu masakan.

Asapnya masuk ke dalam saluran udara dan mesin di atas kepala gue mengubahnya jadi udara segar berupa O2. Segitunya kalian, wahai mahluk masa depan? Segitunya? Setelah kekurangan pohon akibat penebangan liar? Gue merasa hina menghirup oksigen ‘sintetis’ ini.

Setelah matang, gue menaruhnya di piring besar.

“Kompor, terima kasih!”

Dan kompornya mati. Weew!

Gue menata meja makan dan menaruh dua buah piring di atas meja. Tak lupa mengeluarkan susu murni dalam botol kaca yang diantar setiap pagi dan menuangkannya ke gelas Reno dan gue. Yeah, gue masih suka susu. Enak!

“Reno! Udah jadi!”

Reno membuka pintu dan berlari menerjang meja makan. Dia menghirup udara diatas nasi goreng dan mengambil sendok. Menuangkan sendiri nasi goreng ke piringnya. Gue mulai merasa gak berguna lagi jadi emak.

“Reno suka banget nasi goreng campur ala Kasan! Nasi goreng gila kalah deh!” Reno menyendokkannya dengan semangat ke dalam mulutnya.

Sambil ikut makan, gue memperhatikan Reno yang makan dengan semangat. Sekarang aura ‘Inggris’ yang terhormat yang selalu dia tunjukkan entah kemana sirna. Makannya lahap dan semangat. Bahkan dia gak duduk tegak, dia gak megang sendok dengan semestinya (yang harusnya dipegang dengan telunjuk dan jempol, sekarang sendoknya dia gengam) dan dia makannya cepat-cepat dan asal dijejelin ke dalam mulut. Reno kayak gak pernah dimasakin sama gue dan ada rona rindu di mukanya.

“Enak?” tanya gue.

Dia susah payah menelan nasi di mulutnya. “Banget, Kasan!” dia tersenyum dan memperlihatkan makanan di sela-sela mulutnya.

Akhirnya, Reno menyelesaikan makannya.

Krining! Kringing!

Sikat gigi w/ Reno!

Snooze Dismiss

“Ayo, sikat gigi terus tidur!” Gue menuntun Reno menuju kamar mandi.

***

KRING! KRING! KRING!

“JAM 7!” gue melonjak dari kasur dan kembali mandi asal. “Reno, Reno bangun!” gue mengetuk-ngetuk kamar Reno.

“Kasan yang harusnya bangun….”

Di belakang gue, Reno udah gigit-gigit roti bakar dan seragamnya dari ujung kaki sampai kepala bener-bener rapih terorganisir. “Nih, sarapan Kasan.” Reno menyodorkan sepiring telor ceplok dan roti ke tangan gue.

Dengan cepat, gue mengunyah semuanya dan menggendong Reno menuju halte taksi dan memesan taksi (di masa depan, di halte ada mesin pemesan taksi).

“Lho?” langkah gue terhenti di teras.

“Reno udah pesenin taksi. Ayo cepet, Kasan. Kasihan bapaknya nungguin terus dari 15 menit yang lalu.”

Terperangah. Cuma itu yang bisa gue lakukan.

Anak yang terorganisir, dan emak yang keteteran. Orang pasti ngira gue emak pungut.

***

“Reno pulang!”

Dengan sumringah, gue menutup iMac dan berlari menuju pintu depan untuk menyambut Reno. “Heey! CS-nya Kasan udah… Reno!” pekik gue.

Sekujur tubuh Reno penuh dengan luka dan lecet. Pipinya lebam dan badannya keringetan. Tapi muka Reno tetap datar tanpa ada masalah. Gue makin panik, takutnya ada syarat otaknya yang kegeser atau dia udah mati rasa. “Kamu kenapa?!” gue menunduk untuk mengecek lukanya.

“Jatuh dari pohon yang dahannya banyak. Muka duluan ke tanah.”

Ya Tuhan, jawabnya aja kayak robot begini. Anak gueee!!!

“Bentar, Kasan cariin obat ya? Reno disini, biar Kasan obatin!” gue buru-buru berlari menuju kotak obat dan mengeluarkan semua obat di dalamnya. Dengan cepat, gue berlari menuju Reno yang masih berdiri di depan pintu.

Ajaibnya, setibanya gue disana, semua luka Reno udah diplester dan semua lebam dia udah dikompres. Dia ngelakuin sendiri. Reno nutupin semua lukanya sendiri.

“Reno udah bikin sendiri. Kasan istirahat aja ya? Reno juga mau tidur siang….” Reno melewati gue dan berjalan menuju kamarnya sendiri.

Oh iya, sampah plesternya. Siapa tahu dia lupa buang… lho? Lantainya bersih banget tanpa ada tumpahan obat merah dan sebagainya.

“Tapi… itu kan… ini… tapi itu….” Gue menghela napas. Dengan lunglai, gue berjalan menuju ke ruang TV dan kembali bekerja dengan iMac gue.

Kenapa gue seakan gak dianggap emak? Lalu apa gunanya gue disini?

Sambil mengetik laporan pengeluaran dan pemasukan online shop gue, gue berpikir soal Reno.

Enak juga punya anak mandiri. Kita bisa ngelepas dia dengan lega dan kita punya someone to trusted to. Dia bisa dipercaya dan gak rewel. Tapi, Reno terlalu mandiri untuk anak seumuran dia. Gue juga bukan seorang pekerja kantoran dan gue bukan manusia malam yang suka ke diskotik. Gue memang dari dulu bercita-cita punya anak dan ngurusin dia, bukan bercita-cita punya anak mandiri yang bisa apa aja sampai gue merasa kehadiran gue gak berguna begini.

Kring! Kring! Kring!

Reno harus makan siang!

12.00

Snooze Dismiss

Apa gue coba cek aja ya?

Satu menit, dua menit…

“Kasan, udah jam 12. Kasan masih kerja? Biar Reno yang nyalain kompor.”

Bener kan? Bahkan dia sendiri gak perlu diingatkan.

Terus gunanya gue apa?

***

Sambil rebahan di kasur, gue berpikir sendiri.

Masak, gue bisa. Bersih-bersih, gue juga bisa.

Lantas kenapa gue gak melakukan apa-apa di rumah ini?

Gue inget adeknya temen gue. Dia masih suka dimandiin meski udah umur 7 tahun. Gue juga pengen punya anak sendiri dan gue main air sambil godain dia. Gue pengen nyuapin anak gue, gue pengen bangunin dia tidur, masangin seragam…

Kenapa gue malah membiarkan Reno ngelakuin semuanya sendiri?

Apa Reno gak percaya sama gue karena gue sesungguhnya hanya anak 14 tahun yang datang dari masa depan? Atau emang Reno semandiri ini? Terus kenapa gue di masa depan selalu masang alarm? Apa dia juga selalu pengen cepet-cepetan dengan habbit Reno dan mau membuktikan kalau dia juga ibu yang berguna?

Berguling sedikit, gue mematikan lampu di bedside table gue. Mending gue tidur lebih cepet, besok gue harus bangun pagi-pagi buta.

Gak boleh sama sekali Reno manggangin roti buat dirinya sendiri.

***

Sengaja gue gak menyalakan alarm. Biar Reno gak kebangun, kemudian bekerja untuk dirinya sendiri. Sekarang jam 5 pagi dan Reno masih tidur di kamarnya. Perlahan, gue menyalakan shower dan mandi sepuasnya. Memakai baju rapih, menguncir rambut, dan memasak makan pagi buat Reno. Kasihan dia cuma makan roti setiap hari. Hari ini gue mau bikinin dia bubur telur ala Jepang versi gue.

“Selamat pagi! Seberapa besar api yang anda mau?”

“Api besar!”

Gue menaruh panci dan memasukkan air dan nasi ke dalam panci.

“Kalau apinya besar, berarti airnya tiris seperempat jam… hoaaaammm…. Tutup mata sebentar boleh deh!” gue duduk di meja makan dan menyenderkan kepala gue di atas meja. “Pokoknya gue harus jadi ibu yang baik buat Reno… dia gak boleh kerjain semuanya sendiri lagi… gue harus bertanggung jawab… emak macam apa gue… menelantarkan… anak… nya….”

***

Hidung gue digelitik oleh sebuah aroma yang menggangu. Sambil sedikit meregangkan badan, gue membuka mata gue dan masih mengidentifikasi bau apa yang gue cium…

“BUBUR!”

Gue berlari menuju panci dan membukanya. Kosong.

“YA AMPUN! INI BUBURNYA MENGUAP?”

“Kasan,”

“GIMANA INI?!”

“Kasaan…,”

“BUBURNYA!”

“KASAN!” Reno berteriak.

“Kenapa?” gue menekan intonasi gue selembut mungkin.

“Buburnya udah Reno lanjutin. Itu di meja udah mateng. Kasan makan yuk, yang cepet. Reno gak mau telat.” Reno menuntun gue yang masih shock ke meja makan.

Di hadapan gue udah ada semangkuk besar bubur telur ala Jepang dan kecap serta sambal di kanan-kiri mangkuk bubur gue.

“Ayo, dimakan!” Reno membuyarkan lamunan gue.

Sendok pertama… masuk ke mulut gue…

Resepnya persis resep gue, tanpa ada cela sama sekali. Bubur ini enak luar biasa. Dan gak mungkin gue yang bikin ini jadi luar biasa enak, mengingat gue belum memasukkan bumbu apapun selain nasi dan air.

Dengan cepat dan lahap, gue memakan bubur itu sampai habis. Mangkoknya sampai nutupin muka gue… eh, nutupin air mata, maksudnya.

Lagi-lagi, gue jadi ibu gak berguna.

***

Cuma ini yang bikin gue terlihat berarti untuk Reno. Cuma ini yang seharusnya bisa gue lakukan dan pasti Reno belum bisa lakukan (kalau bisa, dia juga belum diijinin). Tangan gue mengelus permukaannya yang berwarna putih susu dan mengilap. Gue masuk ke dalam, duduk, dan memutar kuncinya. Gue berhasil menyalakan mobil.

Gue deg-degan.

Dengan jempol kaki, gue menginjak pedal gas. Lalu gue mengubah gigi mobil. Perlahan, mobil itu bergerak maju dan gue memutar kemudinya.

BERHASIL!

“Gue… gue bisa nyetir? Gue bisa nyetir!” seru gue kegirangan. Dengan semangat, gue menambah kecepatan mobil dan mengendalikannya keluar dari garasi. “Yeeeey!” gue menekan klakson dengan membabi buta dan gue mengendalikannya ke jalanan.

Gue gak percaya, gue bisa ngelakuin ini semua! Akhirnya, akhirnya gue bisa berguna buat Reno! Sekarang gue bisa nganter dia ke sekolah dan gak perlu berhentiin mobil di tengah jalan dan nitipin di bengkel orang karena gue berhasil bikin pinggirnya baret kayak waktu nganter Reno di hari pertama. Untung orangnya mau nyetir mobilnya balik ke rumah kami.

“Gue bisa nyetir!” seru gue kegirangan dengan kepala menyembul keluar. “Minggir semua! Gue akan mengguncang dunia!” seru gue. Mumpung kompleks lagi sepi.

Sekali lagi, gue menekan-nekan klakson dengan semangat.

“TIN TIN!”

“TIN! TIIIIN!”

Dengan penuh rasa kekagetan, gue memutar setir mobil dan mengelak. Namun…

BRAAAK!

Pandangan gue gelap dan kepala gue sakit banget. Mungkin berdarah. Sakitnya lebih parah dari waktu gue tiba di sini. Kaki gue sakit luar biasa, mungkin tertimpa jok atau dasbor. Terakhir, yang gue lihat adalah seseorang menghampiri dibalik asap yang mengebul dari kap mobil gue.

And he knows my name.

***

Perlahan, mata gue terbuka dan gue tahu banget gue ada di rumah sakit, bukan di surga. Karena dimana-mana bau obat.

“Kasan sadar!” Reno berseru pada gue. Dia memeluk kepala gue kuat-kuat dan menangis di pelukan gue. “Jangan nyusul Tosan! Pokoknya kalau sampai Kasan nyusul Tosan, Reno bakal benci Kasan!” dia sesengukan.

Pelan, gue balik memeluk Reno. Gue ikut terharu mendengar perkataan Reno dan gue ikut menangis. Rasanya hati gue lega, meski akhirnya gue merepotkan dan gak berguna lagi buat dia. “Maafin Kasan ya!”

Reno melepas pelukannya dan memegang pipi gue dengan tangannya. Dia menatap gue. “Kasan, pokoknya Kasan gak perlu membuktikan apapun sama Reno!”

“Maksudnya?”

“Kasan. Reno bisa lakuin apa aja, Kasan gak perlu repot. Cukup urus mimpi Kasan! Reno bisa urus diri Reno, hal-hal remeh masih bisa Reno handle. Jadi, Kasan gak perlu capek-capek bekerja apapun untuk Reno!”

“Tapi…” gue memegang tangan Reno di pipi gue. “Kamu anak Kasan. Udah tanggung jawab Kasan untuk—”

Reno menggeleng. “Kalau harus membahayakan Kasan, Reno gak mau. Reno gak mau kehilangan Kasan lagi!” Reno kembali memeluk kepala gue erat-erat.

Lagi?

Apa maksudnya ‘lagi’?

Gue menatap bola mata anak kecil ini. Matanya yang bulat dan tulus membuat badan gue rileks dan hati gue lapang.

“Meski Kasan gak melakukan apa yang teman-teman Reno lakukan, Kasan tetap Kasan-nya Reno!” bisiknya.

Sekarang gue lagi males mikir.

Apa Yang Terjadi Pada Si Blogger Kurang Update Akhir-Akhir Ini

Hay semua J maaf ya jarang nulis sekarang. Soalnya modem gak diisi pulsanya, terus gue juga udah kelas 9 sekarang. Laptop cuma boleh dipake sabtu-minggu dan itu juga harus sujud sembah.

Terus, maaf ya, buat kakak-kakak blogger karena aku jarang visit back ke blog kalian setelah kita follow-followan. Janji deh, kalau ke warnet, bakal sering-sering blogwalking dan meninggalkan jejak di blog kalian. Sekali lagi makasih udah mau kenalan sama anak SMP ingusan ini! *bow*

Btw, akhirnya naskah gue yang kebut-kebutan dan dibikin segenap jiwa raga dan membuat gue menghabiskan 1 minggu dari 2 minggu libur gue dengan bedrest karena demam karena kecapekan ngetik 24 jam… JADI JUGA! Naskah setebal 143 halaman A4 itu bisa dipake untuk ngegebuk kasur dan pesaing obat tidur itu akhirnya berhasil gue selesaikan dan menjadi naskah novel pertama gue yang udah finish. Sekarang naskah itu lagi pindah tangan ke temen-temen gue yang gue percayakan jadi editor. Sejauh ini respon mereka baik dan gue seneng mereka suka J

Sekarang gue mau cerita ah, soal masuknya gue ke kelas 9.

Hati gue teriris banget, pas liat pengumuman pembagian kelas.

Sekarang yang nonmuslim gak lagi ditaruh tumplek-tumplekan di kelas pararel yang belakangnya 6. Ini kebijakan sekolah. Sekarang yang nonmuslim dibagi dua. Di kelas pararel yang belakangnya 1 dan 6. Pelajaran agama kristen jadi beda hari dan gue ama anak-anak gak bisa ngumpul lagi (kasian si @sherinadewiwd cewek sendiri kalau pelajaran agama :p awas cinlok sher sama pebri :p). Dan kita juga bukan pake angka lagi belakangnya, tapi pake huruf. Jadi kelas 9-A sampe 9-F.

Gue agak risih sama pengaturan ini. Semacam kesenjangan mengingat A sampai F itu menentukan grade sesuatu.

Gue masuk ke kelas 9-F, dan temen-temen favorit gue masuk kelas 9-A. Gak ada Sherina, gak ada couple cetar membahana Palito-Tensen (padahal maksud gue beda lagi), dan Arif (sekelas ama gue), akan galau karena gak ada Albert. Arif tanpa Albert, butiran debu. Percayalah, hanya Arif yang paling mengerti. Oke, kita cukup tentang ini semua.

Menurut gue, dengan metode huruf-hurufan ini, seperti akan muncul ceng-cengan yang kayak “hahay, kelas terakir kelas anak bandel!”. Terutama, F itu grade terburuk dalam sebuah nilai dan F adalah huruf depan dari Freak dan F*ck. Terasa gak enaknya, kan?

Sementara A? Grade terbaik, dan huruf depannya Awesome.

Ah, tapi itu kan cuma huruf. Gak usah dibawa pusing juga kan? Lebay kalau kita harus demo karena ditempatkan di kelas terakhir.

Dan lagi, di hari pertama masuk sekolah, guru gue dateng ke dalam kelas. Dia masuk dan menasehati kalau sekarang udah gak ada lagi kesenjangan pintar-bodoh dalam penempatan kelas. Sekarang bener-bener acak dan adil merata.

Tapi, pada akhirnya, dia mempermalukan gue didepan temen-temen yang notabene baru (kecuali yang dulu pernah sekelas di 7-6 dan 8-6 dan itu juga dikit). Katanya gue gak boleh mempengaruhi temen-temen gue yang baik-baik dan jangan bawa pengaruh buruk pada mereka.

Sakit hati? Jangan ditanya.

Tapi gue udah sabar akan semua ini.

Diperlakukan seakan gue adalah orang terbego di sekolah. Dan naik kelas adalah mujizat, puasa 100 hari, tanpa gue belajar sama sekali.

Relakan saja.

Barusan dia bilang semua anak kelas 9-F baik-baik dan rajin-rajin, tiba-tiba gue dituding sebagai satu-satunya pembawa pengaruh buruk. Jujur, hati gue sakit. Banget.

Terus, gue dapet wali kelas yang menggemparkan.

Gue heran, kenapa orang begitu lebay membicarakan hal ini.

Gue diwalikelaskan oleh Pak Muller.

Lho? Kenapa? Dia keren kok. Ngajarnya bener, gak bertele-tele dan jelas. Baru pertama kali gue suka diajar matematika dan belajar matematika.

Dan nyokap cerita. Temen-temen sesama guru nyokap yang dulu alumni SMP gue dan diwalikelaskan oleh Pak Muller, dulunya benci MTK. Ketemu MTK, rasanya kayak ibu-ibu ketemu Nia Rahmadani sama Dinda Kanyadewi di mal. Bawaannya pengen dicubit karena aktingnya kejem banget. Tapi, setelah diajari sama wali kelas gue tersayang ini, mereka jadi suka matematik dan akhirnya gedenya beneran jadi guru MTK.

Sounds great?

Makanya, baca lagi post gue tentang judge a book by its synopsys.

Kedua kalinya gue dapet wali kelas Batak. And they don’t eat us. FYI.

Masuk kelas 9 ini, gue agak canggung. Sama kayak waktu kelas 8, rasanya pengen banget datengin temen kita di kelas lain tiap istirahat, dan gak nyaman rasanya di kelas sendiri. Bahkan waktu kelas 8, gue stres karena Natalia temen gue, pindah ke Rusia. Tapi kenyataannya gue dapet temen sekarang dari kelas 8. Setelah gue mengubah mindset dan keluar dari zona nyaman gue, gue bisa temenan ama Wilma, Bella, Nia, Sisi, Edria, Maya, Adzilla….

Masalahnya, ini lebih mudah dari tahun lalu. Gue hampir tahu semua anak di kelas gue. Tapi cuma denger-denger namanya dari anak-anak dan ada juga yang temenan ama gue tapi kita gak terlalu akrab. Lumayan membantu dengan sekelas sama Cory dkk. Tapi gue canggung kenalan sama mereka, soalnya gue takut dikira SKSD tanpa kenalan. Merasa aneh gak sih, disapa sama orang yang gak kita kenal tapi dia udah tahu nama kita dan tiba-tiba banyak ngajak ngobrol (gue sering ngalamin itu. Mereka tahu gue dari blog ini ._.)? Tapi gue juga gak enak kalau gak bersosialisasi sama mereka.

Mungkin, kalau gue keluar dari comfort zone gue akan Sherina dkk, gue bisa berbaur sama temen-temen 9-F?

Terus, baru 2 hari jadi anak kelas 9, gue udah kena musibah aja.

Pernah gak kalian merasa dilukai sama sesuatu yang kalian cintai? Nah, gue baru kemarin ngerasain hal itu.

Kemarin, tangan gue digigit plus dicakar sama kucing.

Dengan asemnya, Palito menamai kucing itu Rachel. Nyebelin abis tu anak.

Jadi dia kucing terkenal galak di sekolah kita. Kalau kata temen gue, dia kucing *maap* jablay. Karena dia gak henti-hentinya menambah populasi anak kucing di Indonesia ini. Setiap kita ketemu dia, selalu hamil. Gak pernah gak hamil. Udah 3 tahun gue sekolah disini, dan dia masih aja hamil. Heran.

Kemarin, gue lagi baca majalah Cosmogirls yang tergeletak manja. Itu kucing muncul dan ngeong di kaki gue.

“Iih, unyu… cini… cini…”

Gue ngelus-ngelus badan dia.

Mulai deh, aneh-aneh. Dia natap tangan gue dengan tatapan mencurigakan. Matanya ngikutin terus gerakan tangan gue. Terakhir… gue ngelus tenguk dia, kepalanya gak maju-maju dan mukanya gak merem melek (tetep natap tangan gue dengan pandangan buas-ngiler)…

GRAUK.

“Aw.” Respon gue datar. Mirip Arnold Schwaznegger pas ditembak-tembakin di film Terminator.

Percaya deh, gue udah biasa digituin kucing dan itu sudah bukan lagi pemicu adrenalin bagi gue.

Dia nangkep tangan gue dan nancepin cakarnya, terus gigit daging tangan gue yang di bawah jempol (bagian yang gempal itu). Dia kira paha ayam kali.

Serius, gimana sih rasanya jadi penculik macam di Petualangan Sherina dan lo digigit lengannya sama anak SD? Tapi anak SD yang ini berbulu dan giginya taring semua. Tangan gue perih, terus sendi-sendinya lemes karena gue nahan sakitnya. Buru-buru gue cuci tangan pake air, teken-teken biar darahnya keluar, isep-isep biar racunnya gak masuk ke darah (siapa yang tahu kalau mungkin semalam kucing ini abis pesta narkoba sama temen-temennya?). Pas mau ambil obat merah di UKS, taunya UKS kecil nan unyu penuh grafiti bergambar tak senonoh (baca post gue tentang UKS. Ada di tag UKS di awan UKS biar gampang kalian temuin J) itu penuh barang dari ruang kesenian yang lagi dibersihin. Ya samsak anak silat, ya angklung (angklungnya banyak banget dari C-C lagi ada semua nadanya. Yang minor-mayor juga ada. Wow, sekolah gue keren *biasa woy*), ya alat-alat Gambang Kromong…

MANA OBAT MERAHNYA? TAT *ini emot nangis dengan mulut menjerit, bukan iklan susu denkow*

Ini kenapa UKS-nya alih fungsi dengan menyebalkan seperti ini sih? Tiba-tiba besok di kolam ikan udah ada tengkorak model terus di kantin banyak motor parkir lagi?

Akhirnya gue pasrah dengan zat ajaib pembunuh bakteri paling alami dari Tuhan. Yaitu ludah.

Setiap ketemu itu kucing, rasanya pengen gue bawa ke Manado terus gue jual ke restoran sana biar jadi Kucing Sambal Dabu-Dabu. Lumayan, satu kucing laku 25rb kali. Dalemnya ada anaknya pula.

Udah ah, tega amat gue. Katanya gue ailurophile? #DukungMorganissaJadiTokohUtamaMalamMingguMiko

Eh BTW, Malam Minggu Miko bakal ada season 2 ya? J semoga abang Raditya Dika gak salah langkah karena kurang asupan martabak sama kopi terus masukin Fitri-Farel untuk gantiin Miko sama Mas Anca di MMM 2.

Btw, ntar housmate Miko bukan Rian lagi ya? Katanya karena babang Ryan tersayang juara 1 SUCI season 1 kita ini punya kesibukan sendiri L
good luck with your TACL tour, kakak Ryan J dateng ah, pas tour di Jakarta (semoga umur 14 boleh masuk dan gue gak perlu nangis meratap TL kayak waktu tour Mesakke Bangsaku om Pandji Pragiwaksono sama 3GP Tour kak Ge Pamungkas. I want to see live performance of all my favorite stand-up comedian)

Tar bakal kangen sama aktingnya bang bewok deh.

Oh iya, one last thing. Puasa ini, semua toko makanan tutup, tukang bakso gak berkeliaran sebelum jam 7 dan tukang mie ayam sepertinya pulang kampung. Akibatnya, gue makan pagi gak bisa, makan siang susah banget. Gue bosen nasi padang terus, jajan gue gak seberapa (mahal boook!). Akhirnya, sering banget gue makan siang pake Mie Sedaaap Cup rasa Soto. Biar cupdate, dan emang uang jajan gue yang gak cukup beli nasi padang. Cemungud ea…

Sekalinya makan, bisa 2-3 cup. Sambelnya banyak gak kira-kira lagi.

Bener kan? Besoknya usus gue perih banget.

Tapi gue masih gak percaya sama ancaman temen gue kalau banyak makan mie bisa bikin usus keriting. Terus besok kalau kita makan spageti, usus kita gimbal gitu? Sekalian aja ususnya bisa nyanyi “no women no kray…”! Itu mah hanya ancaman emak-emak aja. Lagian apa menyeramkannya usus keriting? Usus kita emang udah meliuk-liuk dan berjendul-jendul kan? Kurang keriting apa coba?

Oh iya, gue juga kepikiran bikin halaman FAQ di blog ini. Jadi semua orang yang mau nanya, tinggal comment di halaman FAQ, terus nanti halaman FAQ gue edit dengan memasukkan pertanyaan mereka dan menuliskan jawabannya.

Tapi rasanya terlalu sok ngartis untuk penulis blog gak berguna dan gak terkenal kayak gue. Iya kan? Ditambah lagi gue ini cuma anak SMP ._. malu ah, sok ngartis kayak begitu.

BTW, udah ah segini dulu. Ntar kalau semuanya diceritain, malah jadi jarang ngeblog deh.

Dadah semuanya! Makasih masih aja mau baca blog gak guna ini!

P.S: gue kebiasaan nih naroh semua kalimat spesifik dalam entry ke kolom tag. Lumayan, metode ini nambah readers nyasar dan temen blog sama twitter
J agak kasihan sih, orang yang lagi perlu info malah nyasar ke blog yang isinya curhat gak jelas anak SMP.

P.S again: Yang merasa kenal dng Pak Muller dan siap bertanya sama gue, well, langsung gue beri jawabannya. Iya, gue anak 52 J

Trouble Mother Journal #1: 14 Years Old Mother

Mata gue membuka perlahan-lahan. Badan gue rasanya nyeri semuanya. Kepala gue pusing dan rasanya ada darah di kepala gue yang mengalir sampai ke pinggir bibir gue. Perlahan, gue mencoba bangkit dengan bertumpu pada siku gue. Aduh, siku gue rasanya nyeri. Pasti lecet semua. Akhirnya gue memilih berbaring lagi sambil menutup mata. Mati mati deh!

Seinget gue, hari ini gue naik sepeda… dan seterusnya gue lupa kenapa dan apa. Tiba-tiba, gue udah ada di tempat ini dan gue bahkan gak tahu tempat ini apa.

Diatas perut gue ada sepeda besar dan kepala gue bersandar di pagar kayu bercat putih. Sekeliling gue semacam halaman, dan gue—gue tegaskan—gak tahu gue dimana.

“Kasan!”

Ada anak kecil menghampiri gue dengan panik. Ah, siapa tahu dia bisa manggil bala bantuan.

“Kasan! Kasan!”

Mampus, jangan-jangan gue jatoh di pekarangan orang terus gue dikira maling lagi!

“Kasan, bangun!”

Gue membuka mata gue dan memicingkannya. Anak yang teriak-teriak tadi udah ada didepan muka gue dan dia goncang-goncang badan gue kuat-kuat. “Kasan! Kasan bangun!”

Hah?

“Gue… dimana?” gue mencoba bangkit dibantu oleh anak ini. Anak itu menatap gue dengan cemas dan berusaha sekuat tenaga menuntun gue menuju sebuah tempat duduk.

“Kasan lain kali hati-hati dong kalau naik sepeda!”

Aduh, ini apaan lagi? Heran gue. Anak di sebelah gue ini bikin gue tambah bingung aja. Sambil memegangi kepala, gue diam aja diobatin lukanya sama dia. Nih anak cekatan banget, heran, anaknya siapa sih?

“Kasan kayak anak kecil aja!”

Nih bocah ngomong ama siapa sih? Kasan… Kasan… apa pula Kasan itu?

“Kasan diem aja dari tadi, kenapa?” dia menatap gue, menunggu jawaban… dari gue? “Kesambet?”

Sialan nih bocah! “Asem!” gue menjitak anak itu pelan.

“Tuh kan, Kasan reseh banget sama Reno!”

Bah, apa nih anak ngira gue emaknya ya? Tapi dari mana ceritanya cewek umur 14 tahun bisa punya anak. Muka gue ketuaan kali ya, gara-gara suka begadang ngetik naskah novel yang sampe saat ini belum kekirim ke penerbit itu? Lagipula, kenapa nih anak manggil gue Kasan? Bingung deh.

“Kasan kenapa sih?”

“Sori, sori dek. Tapi adek dari tadi ngomong sama siapa, dan kakak ada dimana?”

“Kenapa sih, Kasan aneh!”

JAWAB AJA BISA GAK SIH, BOCAH?

 

***

Gue masih meraba-raba badan gue dengan gak percaya di depan kaca. Ini pasti bohong. Gak mungkin! Ini becandaan! Ini mimpi! Wah, gak beres, gak beres!

“Tapi Kasan, emang bener deh kayaknya. Kata peneliti, seseorang yang bisa melaju lebih cepat dari kecepatan cahaya memang bisa menjelajah waktu. Tapi yang Reno bingung, apa yang bikin Mami bisa melaju secepat lebih dari 30.000.000.000 km/detik?” Reno tetap berceloteh sambil membuka-buka bukunya. “Dan lagi, pasti Kasan masa depan sudah bertemu Kasan masa lalu, terus dia nyentuh Kasan masa lalu, dan molekul Kasan masa kini terpecah. Wah, ini keren! Reno gak nyangka bisa berurusan sama masalah ruang dan waktu!”

“Oke lah, itu urusan gak penting. Pokoknya, sekarang ceritain, siapa Kasan, apa pekerjaan Kasan, dan bagaimana Kasan selama ini? Kasan gak mau merusak masa depan Kasan dan dikira gila!” gue menjerit frustasi.

Reno menutup bukunya dan menghampiri gue. Gue menunduk seukuran tinggi badannya dan dia memegang bahu gue. “Kasan itu penulis freelance. Kasan buka usaha handicraft secara online, Kasan benci kerja kantoran, Kasan suka banget masak dan Reno paling suka semua masakan Kasan, Tosan udah meninggal karena tabrakan dan Kasan single parent yang tangguh, Kasan tinggal jauh dari oma-opa dan terakhir… Kasan suka banget open mic di kafe, meski Kasan bukan comic.”

Yaaah, gue pikir kalau udah gede, gue bakal jadi stand-up comedian atau comic kayak yang gue impiin sejak kecil. “Terus, Reno ini…?”

“Anak Kasan satu-satunya. Reno udah lulus TK dan lagi libur. Reno masuk SD unggulan dan Reno masuk sekolah besok. Reno… errr… biar nanti Kasan yang mendeskripsikan Reno dengan mata Kasan sendiri!”

“Terus, kenapa aku manggil kamu Kasan?”

Reno mengerenyitkan dahinya. “Reno lupa. Itu udah Kasan ajarin sejak Reno bayi. Kata Kasan itu artinya ‘mama’ dan itu bahasa… itu… bahasa… errr… Ukrania… Kazakstan… Timbuktu… eeemmm…”

“Bahasa Jepang?” gue mencoba gambling.

“NAH, IYA!”

Itu mah Okaasan! Ini gue yang bego pas udah tua atau nih anak yang lidahnya melipir ya? “Itu Okaasan, Reno!” Pantes tadi dia panggil suami ‘yang-kaga-pernah-gue-kenal-tau-tau-udah-mampus’ itu ‘Tosan’. Maksunya Otoosan toh. Gubrak.

“Iya, Kasan!” Reno ngotot. “Reno bener kan?”

Gue mencubit pipi Reno kuat-kuat. “Bandel!”

Bener-bener keajaiban. Gue yang udah sesenti lagi lulus SMP dan ngerasain udara yang sama dengan anak SMA, malah harus lompat fase dan langsung disuruh ngurusin anak begini. Tapi gue akui, meski baru ketemu Reno, gue melihat kalau dia ini anak yang unik banget.

Dia cerewet, kritis, sopan, dan… dia Inggris banget. Karakternya berkelas, rapih dan terkonsep. Ya ampun, bagaimana bisa anak begini berojol dari ibu begini? Jangan-jangan si suami ‘yang-kaga-pernah-gue-kenal-tahu-tahu-udah-mampus’ itu sifatnya persis gue, terus gen yang kami turunkan (gen negatif) bertabrakan dan menyebabkan gen positif dan menghasilkan anak pintar macam begini?

Diam-diam, gue memperhatikan Reno yang mungil. Dia perangainya mirip sama Conan di Detective Conan, tapi dia gak pake kacamata dan rambutnya gak ada tanduk di leher. Pipinya pengen banget dicubit sampe caper dengan cara koar-koer setiap Reno bergerak aktif, rambutnya Reno hitam pekat dan selalu memantulkan sinar lampu, Reno putih banget dan mata Reno bulat penuh ketulusan anak kecil. Gak nyangka, anak yang luarnya gampang disogok permen ini bahkan udah tahu soal film-film fiksi ilmiah.

Tapi satu yang gue pikirkan. Kenapa harus terulang lagi kisah masa lalu gue? Laki-laki yang gue sayang harus meninggal dengan cara yang tragis. Dulu Papi meninggal tabrakan, sekarang suami ‘yang-kaga-pernah-gue-kenal-tahu-tahu-udah-mampus’ itu meninggal gitu aja karena tabrakan. Bahkan gue gak tahu dia siapa, dan apakah dia salah satu dari mantan… gebetan gue (sumpah, gue yang sekarang belum pernah rasain rasanya pacaran gara-gara fenomena sial ini)… atau malah itu ‘dia’, mimpi terliar gue yang bakal orang ketawain gue jumpalitan setiap gue cerita ke orang.

Gue menatap Reno yang duduk di pinggir tempat tidur gue (yang kaga pernah gue rasain juga empuknya kayak gimana) sambil membaca buku fisika kuantum. Ya Tuhan, gue fisika yang diajarin Pak Yonedi pas SMP aja masih suka remed, masa gue tiba-tiba punya anak baru lulus TK udah makan buku begituan?

“Meong!”

Seekor kucing persia menggosok-gosokkan badannya pada kaki gue. Gue menunduk dan mengelus-elus bulu peraknya yang lembut.

“Ini kucing siapa, Reno?”

“Kucing kita, Kasan. Namanya Miiko,” kata Reno. “I-nya dua, ya.” Reno berkata seolah gue abang ketoprak yang lagi ngeracik bumbu kacang.

Nyahahahaha, gue di masa depan kehabisan ide nama banget ya? Kucing kampung gue waktu gue SMP namanya Miko (padahal cewek), sekarang gue udah punya kucing persia, namanya gak ada beda penyebutan ama yang dulu, cuma nambah 1 huruf I, dan niru nama manga lagi pulak! Sekarang gue gak heran kenapa anak gue cuma punya 4 huruf di nama depannya… dan namanya juga pasaran banget!

Reno menutup bukunya dan menghampiri gue. Dia merogoh kantungnya. “Kasan, nih, HP Kasan masa depan. Tadi Reno pinjem… sama Kasan masa depan!” dia terkikik singkat setelah mengucapkan itu. Bener-bener kayak syuting film fiksi ilmiah dah!

Gue menerima HP yang dia berikan dan melihat jejeran kode sandi yang ada di layar gue. Gue mencoba asal “7…2…3…4…8…9…2…3…4…5…2!”

Wrong password.

“Lha? Mana gue tau kodenya?”

“1412, Kasan.” Reno menjawab dengan polos.

Lha? 1412 kan kode nama Kaito Kid yang di Magic Kaito? Gue ampe gede masa masih suka anime? Masih suka Kaito Kid gitu? Unik juga…. Gue mencoba membuka HP itu dan berhasil. Gue berhasil membuka iPhone 10 itu. Muahaha. Waktu SMP gue pengen banget iPhone 5 biar kayak artis, eh, pas gede langsung dapet iPhone 10 aja.

Gue melirik Reno yang menunduk sambil memegang perutnya. Oh iya, sekarang gue nyokap anak berusia 7 tahun dan sekarang dia kelaparan. Gue harus kasih makan (ya elah, dulu waktu SMP aja si Miko, kucing sendiri, lupa dikasih makan mulu). “Reno, mau Kasan bikinin pancake gak?” tanya gue.

Reno mengangguk dengan antusias. Aduh, imut banget sih! Gue mengangkat Reno dan menggendong Reno keluar kamar.

***

“Oke, Reno. Jadi Kasan-mu ini sehari-harinya ngapain?” tanya gue.

Tanpa banyak bicara, Reno menyodorkan selembar kertas bertuliskan jadwal-jadwal gue. Gue membacanya dengan teliti. “Oke, oke. Kasan ngerti!’

“Mulai dari sekarang lah, Kasan!” Reno membuyarkan lamunan gue.

Gue mengangguk. Jadwal itu gue kantongi dan gue memasang celemek gue.

Saatnya jadi emak!

***

Kring! Kring! Kring

Gue meraih iPhone 10 kampret yang beraninya ngeganggu tidur gue. Kucek-kucek mata, ngulet… terus gue lihat layar HP supertipis yang tinggal kacanya itu.

Reno First Day @ school!

P.S: Bangun sekarang, jalanan makin macet!

06.30

Snooze Dismiss

Kenapa gue di masa depan suka gangguin tidur sendiri dan on time banget? Ah, bodo. Gue membuang HP itu ke atas bantal dan kembali tidur.

Kring! Kring! Kring!

“Apa lagi sih?” erang gue.

Reno masuk sekolah, dodol!

P.S: Kaga usah ngulet-ngulet lo!

06.31

Snooze Dismiss

Lha bocah, keren amat. Kayaknya gue di masa depan itu single parent yang mandiri banget ya? Ah, terserah. Gue melempar lagi HP itu dan kembali tidur…

Kring! Kring! Kring!

Gue merogoh-rogoh kasur dan mengambil HP gue di antara kasur dan sandaran tempat tidur.

Lo telat, asem! Reno masuk jam 8!

P.S: Cepetan geraknya, kaga usah ngulet!

07.00

Snooze Dismiss

“Oh, jam 7…”

“APA? JAM 7? RENOOO! KENAPA GAK BANGUNIN KASAAAAAN!”

Gue buru-buru melempar HP itu ke kasur dan berlari ke kamar mandi. Secepatnya gue mandi dan berpakaian. Reno udah duduk di meja makan dan makan roti buatannya sendiri.

“Kasan telat bangun lagi…” Reno mengelap tangannya yang penuh remah roti pada serbet dan mengambil tasnya yang dia gantung di gerendel pintu.

Aduh, si semprul! Lo masang alarm setiap semenit sekali tapi suka telat ya, Mprul? Gue di masa depan terlalu bodoh ternyata.

Reno udah rapih banget. Iket tali sepatu sendiri, seragaman sendiri dan sisiran sendiri. Ini anak bener-bener menguntungkan banget. Buru-buru, gue menggendong dia ke dalam mobil, memasangkan seatbelt dan menyalakan mobil… tunggu.

Gue gak bisa nyetir!

“Kasan gak bisa nyetir kan? Oke, Reno kasih tau caranya!” Reno meneguk ludahnya. Dia gugup. “Pertama putar kunci mobilnya..”

Gue putar kunci mobilnya. Oke, mobilnya nyala. Tenang… tenang… semuanya akan aman…

“…terus injak pedal gas pake jempol…”

Injaaaaaak….

GROOOOONGGGG!!!i

“KASAAAAAAANN! PELAN-PELAAAN! PELAN-PELAAAAAAN!”

“AAAAAAAAAA GUE MASIH MAU IDUUUUUPPPP!!!!”

“KASAAAAANNN, RENO MASIH BELUM MAU MATIIIII!!!”

“SAMAAAAA!!”

“KASAAAAN, RENO MASIH MAU KETEMU ELISAAA!”

“GEBETAN KAMU?”

Reno diam.

“CIEEEEEE!!!”

“KASAAAAAAN!!! FOKUS KE JALANAAAAN!”

“OKE!”

***

Gue menunduk dan merapihkan dasi Reno yang miring. “God bless you, Reno.” Gue tersenyum pada Reno.

“Kasan…” Reno mendongak dan menatap gue.

Gue menatap mata anak mungil dari Tuhan itu. “Kenapa, Reno?” gue mengelus pipi Reno yang empuk itu.

“Jangan lupa jemput Reno jam 10! Awas kalau telat karena nonton kartun lagi!” kata Reno. “Terus, jangan lupa matiin wastafel, jangan lupa tutup kulkas, jangan lupa kasih makan Miko… dan JANGAN SAMPE DIA MASUK KE KAMAR RENO!” Reno belalu dari hadapan gue dan berjalan masuk ke dalam sekolah itu.

Kampret, kayaknya yang emaknya dia deh. Gue menghela napas, merasa gagal jadi emak.

“Kasan,” Reno berbalik dan memanggil gue.

Gue mendongak, menunggu dia selesai bicara.

“Reno sayang Kasan!”

Senyuman gue gak bisa ditahan lagi. Gue berlari dan memeluk Reno.

Ternyata ini rasanya jadi orangtua.

Mulai sekarang, akan gue jalani dengan baik dan benar.

“Ibu, ‘Trouble Mother Journal’ itu apa? Superhero baru ya?”

Waktu itu gue pergi ke Senayan sama tante gue. Lagi ngantri Bread Talk, gue nyeplos gini “kira-kira kalau Rachel punya anak gimana ya?”

Tante gue ngakak, mbak-mbak didepan gue ngakak.

Apa yang lucu dari pertanyaan itu?

“Ya lucu lah, El! Masa anak umur 13—”

“14!”

“—ngomongin soal anak? Hihihi…”

Sambil mobil berjalan, gue mikir sendiri… bagaimana bentuk rupa anak gue nantinya.

Pengennya tuh gue ngasih nama anak gue sesuai sama tokoh-tokoh yang gue kagumi. Pokoknya yang artinya mendalam dan orang yang pernah pake nama itu adalah orang hebat deh! Tapi… gue gak suka sama orang sekarang yang nama anaknya serenteng, cari di buku ini-itu, tapi kelakuannya kayak gajah lepas. Jadi mungkin, namanya bakalan simple. Yang penting anaknya hidup, dan Tuhan menyayangi hidup dia. Apalah arti sebuah nama, kan?

Dan…gue mau punya anak laki-laki!

Pasti keren kalau anak gue tuh beda banget sama gue, lebih keren, lebih gaul, lebih berselera tinggi dan sotoynya ngalahin gue semasa kecil.

Akhirnya, karena imajinasi gue terlalu tinggi (gak, gue gak mikirin bagaimana anak itu tercipta. Jijik, males banget -_-), gue perlu wadah untuk membendungnya.

Nah, dengan ini, gue akan mengenalkan pada kalian… cerita serial buatan gue yang terbaru! Judulnya, ‘Trouble Mother Journal’.

Menceritakan tentang gue yang punya anak.

Watak dan perangai gue dalam cerita itu SAMA SEKALI GAK SEPERTI GUE KETIKA DEWASA. Tapi persis seperti sekarang, dan bener-bener sifatnya seorang anak berusia 14 tahun yang punya anak.

Gue sedikit terinspirasi sama film-film serial komedi orang Amerika semacam Suburgatory, How I Met Your Mother, How To Live With Your Parent (For The Rest of Your Life), Sonny With A Chance, Wizard of Waverly Place dan lain-lainnya.

Gimanakah jadinya nanti semua ini?

Singkatnya, gue yang SMP ini pingsan, entah kenapa pas bangun, umur gue udah 28 tahun, suami gue ‘yang-gue-ngerasain-nikah-ama-dia-aja-belum’ meninggal karena tabrakan, gue single parent dan gue udah punya anak namanya Reno. Gue mencoba mencocokkan diri dengan Reno yang ‘ajaib’ dan lingkungan baru (15 tahun dari tahun 2013), dan gue mencoba menyayangi Reno sebagai anak.

Oiya, sedikit ngasih tahu. Semua yang gue omongin tentang gue semasa dulu (pas umur 13 mundur) dan flashback tahun 2013 ke belakang, semuanya bener dan tanpa rekayasa. Kejadian-kejadian pas gue umur 28, cuma rekayasa dan imajinasi berlebihan gue semata.

Cerita berseri ini bakal ada seminggu sekali, gue posting di blog ini, di http://rachelemmanuela.wordpress.com dan bukan di http://chelsvirtualbackyard.wordpress.com sama sekali.

Tapi harap maklum, karena sekolah udah mulai, dan sekarang gue kelas 9 SMP, mungkin bakalan sering bolong-bolong dan direpel.

Gue semangat banget bikinnya! Yeaaaah!